BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Sandiwara cinta


__ADS_3

Tiba hari dimana pernikahannya dengan Zain dilaksanakan. Maura sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Bersikap seolah-olah ia menikah karena cinta, mengubur dalam-dalam kesedihan dan traumanya akan kepatahan yang sempat mendera.


Sebuah gaun indah melekat di tubuhnya, gaun yang akan menjadi saksi pernikahannya dengan Zain. Berulang kali ia mencoba meneguhkan diri, tersenyum dan bersandiwara seolah ini adalah pernikahan luar biasa.


Dengan di bantu Nora, ia berjalan menuruni tangga. Tampak disana, Zain sudah menunggu meski tanpa senyum. Dadanya bergemuruh, ia gugup, hingga tak mampu berkata apa-apa.


SAHHHHH.....!


Saat itulah momen paling mengharukan terjadi, dimana ia resmi menjadi istri dari sosok Zain Alexan.


"Silahkan bertukar cincin, kemudian mempelai wanita mencium punggung tangan suaminya." Ucap pak penghulu, Zain pun meraih kotak cincin yang telah ia persiapkan, membuka dan memasangnya di jari manis Maura.


Tuk kemudian giliran Maura memasang cincin di jari manis Zain, gadis itu menunduk dalam seperti ragu-ragu. Namun, interupsi orang sekitar membuatnya langsung meraih punggung tangan Zain dan menciumnya.


Mereka beristirahat sejenak, Maura tampak canggung berada satu kamar dengan Zain. Namun, mau tidak mau mulai saat ini ia harus terbiasa.


"Bisakah kita bersandiwara, paling tidak tersenyumlah." pinta Maura, entah kenapa melihat ekspresi Zain yang datar-datar saja membuatnya dilema, apakah ia akan menyesal dengan keputusannya? menyesali pernikahan ini?


"Iya," singkatnya kemudian merebahkan diri di atas ranjang king size kamarnya, tanpa memperdulikan Maura yang terkejut akan sikapnya yang berubah.


"Jika lelah tidurlah, aku tak kan menyentuhmu, tenang saja."


Deg! Maura tertegun, bukan seperti ini pernikahan yang ia inginkan. Maura memang belum mencintai Zain, tapi tak bisakah laki-laki itu melembut sedikit seperti awal mereka dekat?


Akhirnya ia pun memutuskan ikut merebahkan diri dengan posisi memunggungi Zain, raut wajahnya berubah kecewa, hatinya sakit.


Setelah disakiti Reynan, kini ia terjebak di pernikahan paksa tanpa cinta bersama Zain.

__ADS_1


Malamnya, pesta kembali digelar dengan penuh suka cita. Hatinya mencelos saat berusaha sebisa mungkin tersenyum di hadapan para tamu undangan.


Aku tidak melihat Nora, dimana dia dan Devano. Batin Maura penasaran, karena biasanya Nora lah teman mengobrolnya, ia hanya berdiam diri, menunggu Zain menyapa para tamu lelaki yang sama sekali tak pernah ia tahu siapa.


Dan ia pantas mengacungkan jempol untuk Zain, karena laki-laki yang kini resmi menjadi suaminya itu pintar sekali memainkan sandiwara.


"Maura." panggil seseorang dengan suara lirih, siapa lagi kalau bukan Reynan.


"Apa kamu bahagia, kamu terlihat sedang sedih." Reynan mendekat, semakin membuat Maura gusar.


"T-tentu... Bagaimana denganmu?" Reynan mengangguk saja, keduanya sama-sama diam.


"Aurora mana?" tanya Maura, Reynan menunjuk Aurora yang tengah mengobrol asyik dengan Zain dengan tangan bergelayut manja. Tiba-tiba hatinya mencelos, sakit tapi tak berdarah.


Kali ini Zain benar-benar keterlaluan, Maura tak habis fikir dengannya. Ia menyelamatkan dirinya dari Reynan, namun bersamaan itu ia menorehkan luka baru.


***


"Kita istirahat sekarang," ucapnya saat pesta usai. Tak ada malam pertama yang indah, tak ada buaian kasih, bahkan tak ada ucapan selamat malam meski terpaksa, punggung bertemu dengan wajah saling membelakangi.


Maura bangun subuh-subuh pun dengan Zain yang langsung membersihkan diri.


"Aku akan turun ke bawah." ucapnya kala Zain sudah keluar dari kamar mandi.


"Hmm, ya."


Maura menghampiri mama mertua di dapur, membantu membuat sarapan dan teh.

__ADS_1


"Nora mana ma, semalam aku nggak melihat Nora turun." tanya Maura ragu-ragu.


Kenia mengulas senyum, "Nora kurang enak badan sayang, kamu bangunin mama dan ayahmu ya." Maura mengangguk, akan tetapi saat ia menuju kamar tamu bersamaan dengan sang ayah dan mamanya keluar kamar.


"Ayah harus ke rumah sakit sekarang, darurat. Mama gak bisa sarapan disini, kamu gak papa kan?" tanya Rain.


Maura mengangguk, "Iya ma."


"Ayah akan pamit sama papa dan mamamu, jika ada waktu senggang, pulanglah bersama Zain." lagi dan lagi Maura mengangguk, Radit dan Rain kemudian memeluk putrinya dan langsung pamit pada Shaka dan Kenia.


Wajah Maura semakin muram, meski begitu tetap tersenyum di depan mertuanya.


"Nora sama Devano mana ma? Kok belum turun." tanya Zain,saat mereka sarapan pagi, dan tak mendapati Nora pun Devano ada.


"Biasa Zain, mereka kan juga pengantin baru whehe, lagian kalian ini pengantin baru kok subuh udah turun!" seloroh Kenia.


"Uhuk!" Maura tersedak, membuat Zain buru-buru menyodorkan air minum tanpa sepatah kata.


"Makasih." ucapnya.


"Kalian ini pengantin baru masih kaku, malu-malu ya." goda Shaka yang melihat interaksi Zain dan Maura yang terlihat kikuk.


"Apa sih pa, aku ke kamar dulu." Zain bangkit, sementara Maura masih berdiam di tempat.


"Sabar ya sayang, anak mama emang kaya begitu wujudnya." ucap Kenia lembut, Maura mengangguk saja. Selesai makan ia bermaksud kembali ke kamar melihat sedang apa suaminya.


"Kak." Panggilnya pelan, rupanya Zain sedang duduk di sofa sembari menscroll layar ponsel, membuat Maura urung mencairkan suasana. Ia gegas meraih baju ganti, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena begitu bangun ia hanya sekadar mencuci muka dan langsung berkutat di dapur membantu mama mertuanya.

__ADS_1


Zain menghela napas kasar sambil menatap punggung Maura yang menghilang, ada rasa bersalah telah mengabaikan gadis itu. Apa sikapku terlalu keterlaluan? Batinnya bertanya-tanya.


__ADS_2