BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
sarapan pagi


__ADS_3

Sorot sinar mentari pagi menerobos masuk lewat celah-celah jendela kamar Rain, namun sepertinya gadis itu enggan beranjak dari mimpi indahnya.


Radit terbangun, ia baru sadar jika semalam berada di apartemen Rain.


Segera ia bangkit dan mencuci muka, lalu ke dapur.


Sebelum pulang, ia memutuskan untuk membuatkan Rain sarapan terlebih dahulu.


Radit membuka isi kulkas Rain,


" Astaga..."


Radit menggeleng-gelengkan kepala, heran!


Untuk ukuran wanita, kulkas Rain tak ada apa-apanya.


"Tidak ada sayuran sama sekali, gimana nanti kalo jadi istri. Jangan-jangan suaminya gak pernah di masakin." Radit menghela nafas.


Lalu ia mengambil Roti tawar dan selai juga mentega.


Ia berencana membuatkan Rain Roti panggang.


**


Sementara di kamar, Rain terbangun.


Ia merasa lapar sekali ditambah aroma roti panggang yang menusuk hidungnya membuat cacing di perutnya berdemo ria minta di isi.


Rain beranjak dari ranjang, lalu berjalan keluar kamar dengan muka bantalnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Radit yang menyadari Rain berjalan menghampirinya.


"Mas Radit, sejak kapan mas Radit disini." tanya Rain setengah sadar.


"Apa kamu lupa,hmmm."


"Mana ku tahu mas."


"Mandilah, kita sarapan sama-sama."titahnya.

__ADS_1


"Hm..."


Rain pun memutuskan membersihkan diri terlebih dahulu.


Setengah jam kemudian ia terlihat jauh lebih segar dan cantik natural.


"Mas Radit."


"Hm."


Rain menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kadang ia bingung mencari topik pembicaraan dengan Radit, kadang juga ia merasa Radit adalah orang yang asyik diajak bicara, laki-laki itu seperti keluh kesahnya.


"Ayo sarapan, aku dah buat Roti panggang dan susu hangat untukmu."


"Ohh ya Tuhan, ia terlihat begitu sempurna bukan ?? jika boleh aku minta, aku ingin sekali menjadi bagian terpenting dalam hidupnya."


Bukannya sarapan, Rain malah lebih asyik memandangi Radit yang sedang menikmati roti panggangnya.


"Hey, bengong. Makan aja, nggak perlu sungkan. Kamu lapar kan ?" titah Radit.


Perlahan Rain mulai mencicipi Roti itu.


Rain menikmati Roti panggang itu, ia seperti menemukan makanan lezat.


"Hm, bahkan untuk makan roti coklat pun, kau masih belepotan." Radit menghapus noda coklat di bibir Rain dengan jemarinya.


Deg!


Perasaan apa ini, Rain selalu merasa jantungnya bergetar hebat ketika menghadapi Radit namun ia masih ragu akan perasaannya.


"Ehh..."


Buru-buru Radit memundurkan tangannya.


"Maaf. Aku sudah selesai. Mungkin aku akan pulang lalu ke rumah sakit."


"Iya gapapa." ucap Rain.


"Aku pulang dulu, oh ya ! jangan terlalu banyak makan makanan instan. Itu tak baik untuk kesehatan, sesekali isilah kulkasmu dengan sayur-sayuran." pesan Radit sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan apartemen Rain.

__ADS_1


"Apa dia sedang mengomentari isi kulkasku, astaga aku bahkan tak sempat berbelanja beberapa hari ini." gumam Rain.


Ia kembali menikmati roti panggang buatan Radit dan susu hangat itu hingga tandas.


Sisi lain Rumah sakit Hermina..


Radit baru saja tiba di rumah sakit miliknya, segera ia masuk ke dalam ruangannya.


Salah seorang perawat datang tergesa-gesa.


"Permisi pak Radit, pasien atas nama Nona Ane sudah sadar." ucap perawat tersebut.


"Baik sus, saya akan segera kesana." ucapnya.


"Baik pak, kalo begitu saya permisi." perawat tersebut kemudian berlalu pergi.


Sejurus kemudian, Radit keluar dari ruangannya.


Ia berjalan menuju ruang dimana Ane di rawat.


"Ane..."


Gadis itu tersenyum.


"Kau sudah membaik, apa yang kau rasakan?" tanya dokter Radit.


"Saya sudah lebih baik pak, memangnya berapa lama saya tertidur?"


"Cukup lama, sekarang istirahatlah kembali." ucap Radit kemudian berlalu pergi.


Bagi Radit, Ane adalah gadis yang malang.


🌼🌼


Ahhayy..... hallo readers sayang, maaf slow up ya...


mau fokus ke novel yang satunya dulu uhyyy... mampir juga ke nobelku yang iniπŸ˜™πŸ˜™


jangan lupa tinggalkan like komen dan vote yaaaa

__ADS_1



__ADS_2