
Satu jam sebelum Maura datang, Aurora sempat ingin pergi meninggalkan Reynan. Namun, dengan cepat. Cowok berhidung mancung itu mencekal pergelangan tangannya. Menahan Aurora pergi dengan wajah mengiba.
"Jangan pergi, Ra! Aku butuh kamu."
Aurora menghembuskan nafas kasar, benteng hati yang telah lama ia bangun akhirnya mulai terkikis, tak bisa ia pungkiri ataupun mengelak bahwa ia juga ingin tinggal, menemani Reynan.
Dan menit berikutnya, Aurora memilih pasrah, membiarkan Reynan terus mengoceh sembari merangkulnya. Ada desiran aneh, sekaligus rasa bersalah yang menyeruak secara bersama. Namun, lama-lama Aurora mulai merasa nyaman.
Zain langsung meraih tangan Maura, tau apa yang membuat air mata gadis itu jatuh, segera Zain merengkuhnya.
"Bukannya tadi pacarmu?" Pertanyaan Zain membuat Maura semakin terisak dalam pelukannya.
"Sudah, tenang. Ada aku." tutur Zain lembut, lalu mengajak Maura meninggalkan tempat itu.
Zain khawatir, jika membiarkan Maura masuk justru akan semakin melukainya.
Maura masih terdiam, ia enggan bercerita bahwa wanita yang bersama Reynan tadi adalah Aurora, biar kekecewaan itu ia pendam dan rasakan sendiri. Karena Maura tak ingin, keakraban Zain dan Aurora terusik karena kejadian tadi.
Bagi Reynan, Maura hanyalah pijakan dimana ia bisa tinggal, namun di waktu yang berbeda ia juga bisa memilih pergi..
__ADS_1
Bagi Maura, Reynan adalah bintang..
Terang dan mengagumkan.
Ada rasa kesal saat melihat Maura menangis, tanpa sadar Zain mengepalkan tangannya. Ia berjanji dalam hati, tak akan membiarkan Maura di sakiti oleh cowok sebrengs*k Reynan.
"Udah, ayo kita pulang." Ajak Zain, Maura mengangguk, moodnya untuk pindah tempat makan juga menguar, bahkan mungkin sekarang ia sudah kehilangan nafsu makannya.
Maura memilih diam di sepanjang perjalanan, Sesekali Zain mengajaknya bicara. Namun, dua insan itu masih sedikit canggung. Hingga tanpa terasa mobil masuk ke pekarangan rumah Maura.
Zain turun, memutar tubuh lalu membukakan pintu untuk Maura.
"Ayo masuk kak, papa sama mama pasti seneng kalo kak Zain main kesini." Ajak gadis itu, wajahnya kembali ceria hingga membuat Zain heran. Tidakkah Zain tau bahwa Maura hanya berpura-pura, menutupi kesedihannya dengan senyum dan ceria.
Zain mengangguk, lalu mengekori Maura masuk.
"Anak ayah sudah pulang." Sapa Radit kepada putri tercinta, lalu pandangannya terfokus pada lelaki yang mengantar Nora pulang.
"Astaga Zain, sini nak."
__ADS_1
"Sore om, aku dateng nganterin Maura." Sapa Zain dengan seulas senyum.
"Loh, Maura pergi sama kamu Zain? bukannya tadi ia mau pergi sama Reynan." tanya Rain, "Pantas mobilnya sudah pulang duluan, kalo sama Rey kan gak mungkin anak itu mau nganterin pulang." ucap Rain.
Sedangkan Maura, memilih meninggalkan Zian dan masuk ke kamarnya untuk mandi.
Maura mengguyur tubuhnya dibawah shower, sepertinya bukan cuma hatinya yang panas. Otaknya pun ikut mendidih, cukup lama ia berdiam diri di kamar mandi, merenung.
Sampai pada akhirnya ia berfikir, mungkin selama ini Reynan hanya memanfaatkannya untuk lebih dekat dengan Aurora.
"Dimatamu, aku hanyalah gadis culun dan bodoh, Rey. Kamu memang gak punya hati, kamu jahat, pengkhianat!" Umpat Maura di dalam kamar mandi.
Setelah lega, ia keluar dengan kimono yang membalut di tubuhnya.
Maura menatap diri di cermin, selama ini ia menyembunyikan kecantikannya, berharap seseorang tulus menerima ia apa adanya. Namun jika semua itu sudah tak bisa, maka detik ini ia akan memperlihatkan wajah aslinya.
Maura memoles wajahnya di depan cermin, cukup lama. Setelah selesai, ia memilih dress yang akan ia pakai, lalu ia baru teringat jika masih ada Zain di rumahnya.
"Astaga, aku melupakan kak Zain." pekik Maura.
__ADS_1