BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
pertama kali dan sangat manis


__ADS_3

Tolong lihat aku kali ini saja


Aku tak minta apa-apa cukup kau dengar saja


Mungkin ini yang terakhir yang aku pinta


Aku tak minta apa-apa, hanya ingin kau lihat...


Maura Annajira_


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Maura memilih diam, tak bergeming.Toh apapun yang ia lakukan, tak akan pernah mendapat sedikitpun penghargaan dari Zain. Dirinya sudah lelah, terlebih sikap Zain semakin sulit ia pahami. Zain baik, hanya saja sikapnya dingin hingga berhasil membuatnya beku.


Kadang, Maura berandai. Andai Zain itu sama seperti Devano yang selalu memperlakukan wanitanya teramat istimewa, andai Zain itu semanis Reynan. Tak bisa Maura pungkiri, jika sikap dan sifat Reynan jauh lebih lembut dan manis meski telah mengkhianatinya.


Sayangnya ia hanya bisa berandai, andai Zain mengajaknya bulan madu, jujur ia sangat iri sekaligus bahagia melihat iparnya, Nora. Dia mendapatkan laki-laki yang tepat dan perhatian.


Lamunan Maura buyar kala mama Kenia mengagetkannya, Maura yang sedang memotong wortel pun sontak tak sengaja terkena pisau hingga terluka.


"Akhh, sakit juga ya, Ma." ia meringis, mengusap darah yang keluar dari ujung jari tangannya dengan tisu. Zain yang melihat itu pun langsung menyaut tangan Maura dan mengesap lukanya, hingga darah itu berhenti. Setelahnya ia berkumur di wastafel dekat dapur.


Mama Kenia yang melihat kesigapan sang anak mengulas senyum, ia berfikir meski Zain berusaha bersikap dingin tapi tak bisa jika tak memperdulikan Maura yang terluka.


"Lain kali hati-hati." Setelah mengucap itu, Zain langsung bangkit melangkah pergi.


"Kamu gak kenapa-napa sayang." tanya Kenia baru mendekat, ia sengaja ingin memberi ruang untuk Maura dan Zain agar sedikit lebih mencair. "Maafkan anak mama yang kepalang cuek ya, kamu banyak-banyak sabar menghadapinya." dengan cekatan Kenia mengobati luka Maura kemudian menutupnya dengan plester antiseptik.


***


Suasana sarapan pagi yang hening, hanya ada suara denting garpu dan sendok yang bersahutan. Sementara Shaka menggeleng pelan melihat Zain dan Maura yang sama-sama diam.


"Hari ini, Devano dan Nora pulang dari Singapura." ia menjeda ucapannya sebentar.


Kenia mengusap lembut bahu suaminya, "Kita akan kesana, Zain kamu ikut dengan Maura." ungkapnya setelah selesai makan.


Zain menatap sang papa dengan dahi mengkerut, "Ada acara, pa?" tanyanya.


"Ada, ya kumpul-kumpul saja. Biar semakin dekat, lagian kamu nggak pernah ajak istrimu pergi, sesekali." santai Shaka, ucapan sang papa begitu menyentil hati Zain. Benar juga, selama menikah ia tak pernah sekalipun pergi berdua dengan Maur, hanya beberapa kali berkunjung ke rumah mertuanya. Itupun hanya mengantar saja.


Setelah mama dan papanya berangkat, Zain bersiap pun dengan Maura yang sedang memoles tipis wajahnya. Tak ada sapaan, hanya sepatah dua patah kata dari interaksi keduanya. Maura turun dengan wajah cantiknya, sementara Zain hanya bisa menatap terpaku dan memuji dalam hati.

__ADS_1



"Ayo," ajaknya yang langsung diangguki kepala oleh Maura.


Maura tak mengindahkan Zain dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam mobil, pun dengan Zain yang langsung masuk ke kursi kemudi. Dalam perjalanan, hanya ada keheningan. Zain dengan sikap dinginnya dan Maura dengan keterbiasaannya menghadapi sikap Zain.


Sampai kapan? entahlah! mungkin sampai ia lelah dan memilih pergi, barulah Zain akan menyadari arti dirinya.


Di dalam mobil, Maura memilih diam pun halnya dengan Zain yang enggan bertanya, keduanya seolah terpisah jarak tak kasat mata yang membentang.


Sampailah mobilnya di pelataran rumah Devano, disana sudah banyak orang. Maura turun, baru saja bergabung ia sudah mengakrabkan diri dengan teman-teman Devano, Zain hanya memperhatikan raut cantiknya dari kursi yang tak jauh dari tempat istrinya berada.


"Zain, sedikit minum akan membuatmu merasa lebih baik." Devano menghampiri Zain yang tengah memperhatikan interaksi istrinya dan teman-teman Devano dengan raut wajah datar.


"Terima kasih, aku hanya sedang tidak baik-baik saja." gumamnya pelan, namun dengan tangan menerima wine yang diberikan Devano dan meminumnya.


"Selera minumku buruk, bisakah kau mengajariku Zain. Ahh, aku kalah dengan papa mertua yang bahkan masih terlihat santai meski sudah habis hampir sebotol." ucap Devano menunjuk kagum ke arah Shaka.


Devano melirik Zain sekilas, tampaknya kali ini rencana ia dan Nora berjalan lancar.


"Kalau begitu, istirahatlah. Aku akan menemui istriku." pamit Devano dengan membawa gelas dan sebotol wine.


Zain menuruti Devano tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun. Segera ia menghabiskan minuman beralkohol itu.


Ia menghampiri Maura yang tengah mengobrol dengan seorang gadis, menarik tangan itu hingga Maura tersentak.


"Kita pulang," ajaknya yang di angguki kepala oleh Maura. Keduanya menghampiri Shaka yang tengah bercengkrama dengan papanya Devano.


"Pa, Zain sama Maura pulang duluan." Pamitnya dengan wajah sedikit menahan pusing.


"Baru juga kau singgah Zain, tak bisakah lebih lama menyambut adikmu." gerutu Shaka.


"Sudahlah, pak Shaka. Sepertinya Zain kelelahan, wajahnya memerah. Mungkin karena tak kuat minum." ujar Bayu.


"Maaf pa, Om. Sepertinya kak Zain kurang enak badan. Biar kami pulang dulu."


"Yasudah, pamit sama mamamu di dapur, nak!" ucap Shaka akhirnya.


Zain dan Maura akhirnya memilih pamit undur diri, Maura yang melihat keadaan Zain yang tak memungkinkan untuk menyetir pun memutuskan memegang kemudi sebelum akhirnya meninggalkan rumah mewah Aldeva.


Di dalam mobil, Zain menghela napas kasar.

__ADS_1


"Kak Zain beneran sakit," tanya Maura khawatir terlebih Zain melajukan mobilnya kencang.


Zain diam, wajahnya semakin memerah, bahkan mulai tak fokus melajukan mobilnya.


"Ada yang bisa Maura bantu, kak? Jangan diam."


Tanpa persetujuan, Zain membelokkan mobil ke salah satu gedung menjulang tinggi. Yah, salah satu hotel yang paling dekat dari rumah Devano. Mata Maura membulat sempurna kala tau kemana Zain membawanya, akan tetapi jauh di lubuk hatinya ada binar bahagia karena sekeping harapan.


Mungkinkah ini awal baik untuk hubungannya nanti?


"Diam dan menurutlah." ucapnya kali ini dengan nada rendah, mata penuh gelora dan hangat.


"I-iya kak," meski sedikit bergetar, Maura berusaha menutupinya. Menutupi kegugupannya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Berusaha memupus ragu, dan memasrahkan semuanya.


Aku siap, untuk kemungkinan-kemungkinan dalam hubungan kami. Apapun resikonya, semoga kedepan aku bisa merasakan arti dicintai. Batin Maura saat Zain membawanya ke lobi hotel.


***


Panas yang terik ditambah pengaruh obat membuat Zain gegas menanggalkan pakaiannya begitu sampai dalam kamar yang ia pesan. Kamar nomor 213, ranjang king size dengan view pemandangan kota menjadi tempat persinggahannya.


Maura mematung, ia tak tahu harus bersikap seperti apa dan bagaimana?


"Duduk sini," titah Zain meminta Maura duduk di pangkuannya. Maura semakin meringis, ia memang menginginkan malam pertama bersama Zain, tapi mendadak ia malu dan grogi.


Zain mengulas senyum manis, senyum yang sudah lama tak Maura dapatkan. Ia mendekat dan menuruti kemauan Zain.


Seketika Zain membingkai wajah cantik Nora, dan membungkam bibirnya dengan ciu man. Maura membalas ciu man itu, hingga deru napas mereka tersengal. Pertama kali dan sangat manis.


"Manis." gumamnya pelan tanpa sadar, matanya menatap Maura penuh hasrat.


"Aku sudah tidak bisa menahannya, sayang!" bisik Zain dengan suara seraknya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Skip dulu, oke like komen dan votenya ya sayangπŸƒπŸΌβ€β™€πŸƒπŸΌβ€β™€πŸƒπŸΌβ€β™€πŸƒπŸΌβ€β™€


__ADS_2