BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Drama ibu hamil


__ADS_3

Setiap hari di pagi harinya, Radit selalu menyiapkan Rain sarapan. Memang semenjak hamil, Rain hanya ingin mengunyah hasil tangan sang suami di pagi hari, dimana moodnya sering berubah karena pengaruh kehamilannya. Namun, saat sekali saja Radit tak membuatkan Rain sarapan. Kembali Radit melihat istrinya mual-mual sampe seluruh isi perut keluar semua.


Berbeda dengan siang dan malam, Rain mau makan makanan buatan bi Salis, atau kadang Rain membuat makanan sendiri ke dapur.


Drama ibu hamil memang begitu, suka berubah-ubah, kadang pengen ini, pengen itu udah diturutin ujung-ujungnya nggak mau makan.


Sayang aku pengen mangga muda, sayang aku pengen rujak, sayang aku pengen es kelapa, sayang aku pengen nasi padang, sayang aku pengen pecel, sayang jangan pake parfum itu, sayang aku mau kamu pake kemeja warna pink. Itu hanya sebagian dari keinginan Rain di masa-masa nyidamnya, menurut Radit nggak terlalu ribet selagi ia masih bisa menuruti keinginan sang istri, baginya masa-masa nyidam Rain mempunyai nikmat tersendiri yaitu ia merasa dibutuhkan, menjadi suami sekaligus calon ayah siaga.


Radit sedikit tenang, sudah dua hari Rain tidak meminta sesuatu. Makan apapun yang ada dan menjadi lebih pengertian. Ibu hamil memang gitu, susah ditebak.


Sekarang anteng besoknya belum tahu, tergantung bagaimana janin di dalam perut.


"Mas, aku ikut ke rumah sakit ya?" rengeknya manja.


Radit mengulas senyum, "Iya boleh." Radit memperbolehkan, mungkin Rain jenuh terus menerus di rumah, pikir Radit.


Radit sedang mematut diri di depan cermin, dengan memakai jas hitam dengan dasi senada, sementara Rain ia tampak bingung memilah-milah pakaian mana yang cocok untuknya.


"Aku pake baju mana mas, menurut kamu?" tanya Rain seraya menunjukan dua buah gaun simple dengan warna berbeda.


"Yang itu gimana?" tanya Radit menunjuk gaun sebelah kanan berwarna navy. Seketika istrinya menggeleng kuat-kuat. "No no no mas, aku gak suka warnanya." tolak Rain.


Radit menghela napas kasar, "Hufttt.."

__ADS_1


"Yaudah, yang satunya itu aja, sebelah kiri." ujar Radit, lagi istrinya itu menggeleng.


"Astaga Rain, terus yang mana? Kalo nggak mau dua-duanya kenapa aku suruh milih." Radit menepuk jidatnya.


"Heheheh, yaudah aku cari lain lagi." tanpa dosa Rain kembali memilah gaun yang ada di lemari. Lima belas menit lagi, Radit sudah harus berangkat ke rumah sakit. Sedang istrinya, masih sibuk berdrama.


Orang hamil memang susah dimengerti.


***


Sepuluh menit berlalu, dan Rain masih mengganti pakaiannya.


"Sayang sudah belum, aku hampir terlambat." ucap Radit yang menunggu di sofa samping ranjang, berulang kali mengusap wajahnya kasar.


Radit mendongkak, untuk kesekian kali ia terpesona oleh kecantikan sang istri dan sejak hamil pula Rain dua kali lipat lebih cantik.


Pandangan Radit menyapu dari atas sampai bawah tubuh sang istri. Namun, dahinya seketika mengkerut karena pada akhirnya Rain memakai baju yang ia pilih tadi, sungguh anehnya perempuan.


"Katanya nggak suka pake baju itu!" ujar Radit, Si empu tersenyum.


"Anak kamu ini, bukan aku!"seloroh Rain, Radit menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasan istrinya. Dan lagi, ia menunggu Rain sedari tadi tapi justru Rain berjalan lebih dulu.


"Pelan-pelan turunnya," ujar Radit kala Rain menuruni tangga sedikit cepat.

__ADS_1


Berhubung waktu yang mepet, mereka pergi ke rumah sakit tanpa sarapan lebih dulu.


"Kita sarapan di rumah sakit, Ya sayang?" pinta Radit kala sudah masuk ke dalam mobil. Rain mengangguk setuju, saat akan melajukan mobilnya, Radit melihat Rain kemudian membantu memakaikan belt.


"Makasih mas, aku lupa tadi hehe."


Radit mengangguk, lalu mulai melajukan mobilnya. Di sepanjang jalan, Rain lebih suka diam dan melihat keluar kaca.


Sedangkan Radit, ia terus fokus mengemudikan mobilnya, sesekali melirik Rain sekilas.


Mobil sudah memasuki area parkir Rumah sakit, sejurus kemudian Radit turun lalu membukakan pintu untuk Rain.


Seperti biasa, ketika berpapasan dengan pemilik Rumah sakit Hermina, para suster dan dokter menunduk, memberikan hormat.


Radit pun juga, ia selalu ramah terhadap semua orang, dan itu yang berhasil membuat bibir sang istri menekuk kesal.


"Senyum terus sana senyum terus, banyak kan cewek cantik disini." seloroh Rain kala suasana koridor yang mereka lewati sepi.


"Kenapa sih, yang? cemburu?" kini gantian Radit bertanya.


"No no no, aku nggak cemburu hanya karena kamu tebar senyum, tapi aku nggak suka!" kesal Rain.


Radit menggeleng-gelengkan kepala, namun seketika sudut bibirnya sedikit terangkat.

__ADS_1


__ADS_2