BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Perasaan


__ADS_3

"Rain..." panggil Radit.


Namun hening tak ada jawaban.


Radit menghampiri Rain di ruang kerjanya, namun gadis itu ternyata tertidur di kamar istirahatnya.


Ia mendekati Rain yang tertidur pulas dengan posisi yang menurutnya tak nyaman, bahkan ponselnya masih menyala memperlihatkan drama korea yang gadis itu tonton lewat aplikasi yutub.


Radit mendesah berat, Rain mengingatkannya dengan sosok Kenia.


Bagaimana kabar wanita yang pernah mengisi hatinya dulu, akhir- akhir ini dunia Radit teralihkan oleh sosok Rain yang hadir dalam hidupnya.


Ia bahkan sudah melupakan kepatahannya yang sempat membuat ia menyesal.


Tidak, tapi saat ini Radit justru bersyukur, ada Rain disisinya. Meski ia belum mengungkapkan perasaannya.


Radit mematikan ponsel Rain, lalu membenarkan posisi gadis itu agar lebih nyaman tidurnya. Kemudian ia memilih menunggu di sofa sembari memejamkan matanya.


"Mas Radit...." panggil Rain.


Belum juga Radit tertidur, Rain sudah bangun.


Padahal saat Radit membenarkan posisinya. Rain masih begitu pulas.


"Kamu sudah bangun,hmmm?"


Radit membuka matanya menatap Rain yang sudah berubah posisi menjadi duduk.


"Jam berapa mas Radit pulang, aku tertidur cukup lama rupanya." Rain menguap namun segera ia menutup mulutnya.


"Ini bahkan sudah menjelang makan siang, dan kamu tertidur cukup lama tadi. Kamu mau makan??" tawar Radit.


"Makan dimana?" tanya Rain.


"Di kantin rumah sakit gimana?" ajak Radit.


"Boleh mas."

__ADS_1


Rain turun dan toilet mencuci mukanya, kemudian merapikan tampilannya yang sedikit acakan karena tidur dan tak lupa memoles tipis wajahnya.


"Ayo mas." Ajak Rain antusias, mungkin karena lapar.


Mereka berdua pun memutuskan untuk makan di kantin, Rain tampak semangat. Meski bukan kali pertamanya ia berkunjung ke rumah sakit milik Radit.


Gadis itu sangat mengagumi rumah sakit besar Hermina itu.


"Mas Radit luar biasa, mas Radit hebat bisa mempunyai rumah sakit sebesar ini." Rain berdecak kagum.


"Kamu terlalu memujiku Rain." ujar Radit.


"Aku serius mas, pasti banyak wanita di luar sana yang mengagumi mas Radit." Tiba- tiba wajah Rain berubah sedih.


"Ayo duduk, aku akan pesankan makanan." titah Radit memilihkan meja kosong untuk dirinya dan Rain.


Setelah memesan makanan, Radit kembali duduk di kursi depan Rain.


" Aku memesan bakso untukmu, apa kamu tidak keberatan?" tanya Radit.


"Rain.."


Rain mendongkak, namun seketika pipinya memerah kaka Radit menggenggam tangannya dan menatapnya begitu intens.


"Iya mas."


"Aku mendengar obrolan kamu dan Angga waktu itu, katakan sejujurnya Rain. Apa....?" Radit berhenti, ucapannya seperti tercekat di tenggorokan.


Pov Radit


Aku hampir saja jujur dengan perasaanku, perasaan aneh yang akhir-akhir ini menggelitiki hatiku.


Hya, aku mungkin terlalu gengsi untuk mengatakan aku sudah jatuh cinta.


Jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang berprofesi sebagai bartender di club malam.


Sangat bertolak belakang dengan seleraku yang awalnya adalah Kenia.

__ADS_1


Kenia itu lebih dari segalanya sebelum pada akhirnya kami memilih jalan masing-masing.


Awalnya aku menjadikan Rain sebagai pacar pura-pura. Konyol kan? aku sendiri juga heran.


Padahal aku mohon- mohon sama dia buat jadi pasangan ku di pernikahannya Shaka dan Kenia.


Dan dia, Rain Anastasya..


Gadis cantik itu bahkan membantuku cuma-cuma, tidak minta uang atau apapun itu sebagai imbalan nya.


Sejak saat itu aku merasa ingin selalu di dekatnya, menemaninya, dan melindunginya.


Tak pernah terfikir akan sejauh ini hubungan kita, hubungan yang masih tanpa status jelas karena aku selalu menampik perasaan yang ku punya.


Rain..


Andai aku bisa mengungkapkan perasaanku sekarang, aku bukan hanya ingin menjadi pelindungmu tapi juga cinta dalam hidupmu.


Tapi untuk mengungkapkan itu aku masih belum bisa, rasanya susah! suaraku seperti tercekat di tenggorokan.


Antara jantungku yang berdetak cepat dan dadaku yang selalu sesak, karena setiap dekat denganmu, aku seperti kekurangan oksigen.


Maafkan aku yang masih belum bisa menetralkan perasaanku, maaf.


"Mas Radit." Rain melambaikan tangannya ke wajah Radit yang justru malah melamun.


"Ha.. iya Rain." Radit gugup.


Rain tersenyum manis, "Ayo makan. Makanannya sudah datang mas Radit malah melamun, ntar keburu dingin."


"Maaf Rain, aku jadi mengabaikan mu." ujar Radit.


"Tak apa mas, ayo makan." titah Rain.


Radit mengangguk kemudian mulai menyentuh baksonya.


"Maaf mas aku sengaja mengalihkan pembicaraan, aku yakin kamu mau menanyakan soal aku waktu itu yang menjadikanmu alasan meninggalkan Angga." Batin Rain menatapi Radit

__ADS_1


__ADS_2