
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, kini keadaan Radit semakin membaik, ditambah ada sosok Rain yang selalu menemani dan merawatnya hingga sembuh.
Hari ini Radit sudah diperbolehkan pulang, kondisinya sudah membaik, bahkan luka di wajahnya hampir pulih 90%.
Rain mendorong kursi roda Radit, melewati koridor rumah sakit dengan dibantu Shaka, sebenarnya bisa saja ia jalan sediri, namun kekasihnya itu menolak keras permintaan Radit, dan meminta agar ia menurut kali ini.
Dengan dibantu Shaka, Rain membawa Radit masuk ke dalam mobil.
"Ck! Gue bisa naik sendiri, Shak!" tolak Radit ketika sepupunya itu hendak membantunya masuk ke dalam mobil.
"Lo terlalu keras kepala, hmm." Shaka kemudian mengisyaratkan seorang suster agar mendekat dan membawa kembali kursi roda yang tadi dipakai Radit.
Rain kemudian ikut masuk menemani Radit dan duduk di kursi belakang, sementara itu Shaka mengambil posisi depan membawa mobil.
"Shaka, anterin kita ke rumah mas Radit ya?" pinta Rain.
Bukan apa, karena di apartemen Radit, kekasihnya itu tinggal sendiri, sementara di rumah banyak orang meskipun itu hanya pelayan.
Shaka menganggukkan kepala, lalu mulai mengambil alih stang kemudi dan melesatkan mobilnya membelah jalanan, beruntung tak ada kemacetan sepanjang jalan menunju pulang, sehingga Shaka lebih leluasa membawa mobilnya.
Sementara itu, semua orang sedang menunggu kepulangan Radit di rumah besar itu, rumah peninggalan orang tua Radit, mereka sedang sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut si pemilik rumah pulang, tak terkecuali Dina dan Wira, ia juga turut menyambut ponakan tersayangnya itu pulang.
"Biar kubantu, ma?" tawar Kenia yang berjalan menghampiri mama Dina di sudut dapur.
Dina mengulas senyum, "Si kembar bagaimana, apa ia tidur?" tanya sang mama dan Kenia mengangguk.
Beruntung Zain dan Nora tidak begitu rewel jika diajak kemana-mana, "Si kembar ditunggu papa Wira di kamar tamu, ma!" Sambung Kenia.
Anak dan mertua itu sangat bahagia bisa membantu bi Salis menyiapkan sambutan untuk tuannya, terlebih momen kumpul keluarga sudah lama tak terlaksana, karean Radit selalu beralasan sibuk.
Dina dan bi Salis masih sibuk berkutat di dapur, sementara Kenia dan Kamila membantu membereskan meja makan, dan menata beberapa masakan yang sudah siap.
"Istirahatlah, Mil. Perutmu sudah membesar, kau pasti lelah." titah Kenia.
Kamila menghela nafas sejenak, lalu menatap sahabat sekaligus kakak iparnya itu dengan senyum.
"Iya, aku akan istirahat." Ucap Kamila, kemudian beralih tempat ke sofa ruang tamu, hari ini seluruh pekerjaan dilimpahkan kepada Sam, beruntung Sam sangat bisa dihandalkan dalam menghandle urusan kantor.
**
Sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah Radit, siapa lagi kalo bukan Shaka.
Hiya, Shaka, Radit dan Rain kini sudah sampai di rumah.
__ADS_1
Rain menggandeng tangan Radit dan membantunya berjalan dibantu oleh Shaka, Semua orang menyambut dengan haru.
Hiya, Radit sejujurnya dikelilingi banyak orang yang sayang padanya, termasuk sepasang suami istri paruh baya yang kini tengah bergantian memeluknya dengan tangis haru.
"Dasar anak bandel, kenapa tidak hati-hati hmm, tante khawatir sama kamu nak!" omel Dina seraya memeluk Radit dengan tangis.
Begitu juga Wira, namun lelaki paruh baya itu hanya memeluk Radit sembari menghapus air matanya, "Dari dulu om tak pernah membedakan kalian, tapi kenapa kamu seperti menjauhi kami, haa!" lirihnya sembari memeluk Radit.
"Sudah om, jangan begitu!" sahut Radit menepuk pundak Wira.
"Tapi om sama tantemu selalu dihantui rasa bersalah, nak!"
"Sttt, itu masalalu om! sekarang jangan membahasnya di depan calon istriku," seru Radit dengan sedikit menekan kata calon istriku, hingga membuat wajah Rain tiba-tiba memerah.
"Astaga, aku melupakan calon menantuku!" Seru Dina kemudian meraih tangan Rain dan memeluknya, gadis itu terharu dengan perlakuan keluarga Radit, tepatnya orang tua Shaka.
Sudah lama Rain tak merasakan hangatnya pelukan sosok mama, sudah lama! Sejak mereka pergi dari dunia ini.
Dina hendak melepas pelukan itu, namun sepertinya Rain enggan.
"Sebentar saja tante, karena aku rindu pelukan mamaku." lirih Rain dengan mata berkaca-kaca.
Dina mematung sesaat, ia terharu dan ingin menangis, perlahan tangannya terangkat mengelus punggung gadis itu, "Kau bisa menganggap tante ini mamamu sayang!" Seru Dina kemudian mengajak mereka semua masuk dan menikmati makan siang.
"Haii bibi cantik, gak kangen sama aku." goda Radit, bi Salis hanya tersenyum.
Kini mereka semua sudah duduk melingkari meja makan.
"Kembar mana?" tanya Radit celingukan, seperti tak melihat kehadiran keponakannya.
Kenia menepuk jidatnya, kemudian bangkit hendak menuju kamar tamu.
"Biar bi Salis aja non, kan si kembar masih tidur, non Kenia lanjut ikut makan ya?" tawar bi Salis.
Kenia mengulas senyum, "Makasih bik."
Dari luar rumah, Sam ikut datang untuk makan siang dan menjenguk Radit.
"Kau terlambat menyambutku, Sam!" omel Radit dengan sorot mata tajam.
"Cehh, aku tidak sedang menyambutmu, Dit! Aku mau ketemu istriku," Seru Sam, namun bukan mendekati Kamila, Sam diam-diam mendekat ke arah Radit yang sudah mengalihkan pandangannya, lalu mencengkram bahu radit.
"Ck! kau selalu begitu, peluk aku sini!" Seru Radit, membuat yang lain terbahak.
__ADS_1
"Aku sudah sering memelukmu, hmm! Apa kau lupa." Sam memutar bola matanya malas, lalu memilih menarik kursi dan duduk di samping istrinya.
"Hallo chil, kangen papa nggak!" Seru Sam sembari mendekat ke perut Kamila dan mengusapnya lembut.
Sam memang yang paling mahir membuat orang lain iri, "Kalo kita nikah, aku juga akan seperti itu." bisik Radit di telinga Rain, si empu langsung bersemu merah merona.
Mereka mulai makan saat para wanita melayani pasangan masing-masing, ya mereka terlihat seperti sedang dinner masal.
Pasalnya Radit bersama Rain, Shaka dan Kenia, Dina dan Wira juga tak ketinggalan Sam dan Kamila.
"Sudah lama kan kita, nggak kaya gini makan bareng! Biasanya ada yang selalu alasan sibuk..." Sindir Shaka sembari melirik ke arah Radit, namun bukan merasa justru Radit terliat sedang menggoda kekasihnya.
"Biarin, Shak! Anak muda, beda sama kamu yang udah bapak-bapak!" sahut Dina sembari terkekeh, Shaka langsung mengerucutkan bibir tanda protes.
"Aku nggak setua itu, bahkan kita masih pantes pacaran, iya kan sayang?" Shaka menyenggol lengan sang istri.
Kenia hanya mengangguk, mengiyakan.
"Tante, minggu depan nikahin aku sama Rain ya? ya tant?" seru Radit kepada Dina.
Sontak yang lain menatap Radit bergantian.
"Pulihkan dulu wajahmu, Dit! pasti nanti kami nikahkan, jangan sampai pas resepsi pernikahanmu dengan Rain, wajahmu masih ada bekas luka." Seru Wira terkekeh, suasana kembali riuh karena ucapan Wira.
"Iya, jangan sampai pengantin wanitanya cantik, tapi kau terlihat babak belur." sambung Shaka.
Radit berdecak sebal, "Tapi aku sudah tak sabar membawanya ke kamar!" sahut Radit, langsung mendapat cubitan mesra dari Rain.
***
Sepi, tinggalah kini Radit ditemani Rain dan beberapa pelayan termasuk bi Salis.
Radit melarang Rain pulang, hya lelaki itu mendadak sangat manja.
"Jangan pulang, ya ya ya?" mohon Radit dengan wajah memelas.
"Tapi, apa gak papa?" tanya Rain, ia sendiri juga bingung.
"Gapapa, kamu kan calon istriku, biar bi Salis siapkan kamar tamu, sayang!"
Rain mau tak mau mengangguk, ia juga tak tega meninggalkan Radit yang terus memohon, sementara itu, bi Salis tersenyum, ia turut bahagia melihat tuan mudanya bahagia.
Like komen dan Vote ya kakak😘😘😘
__ADS_1