BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
liburan terakhir


__ADS_3

Seharian penuh Radit mengurung Rain di dalam kamar Villa, setelah malam menghujaninya berulang kali.


Rain merasakan tulang-tulangnya seperti remuk.


Sehingga seharian juga ia hanya beristirahat sambil menikmati view pegunungan dari balkon kamar.


Hal yang sama juga dilakukan Dion dan Viona.


Mereka juga memilih bersantai di balkon kamar dan mengurung diri di dalam kamar setelah melewati malam pengantin yang baru mereka rasakan kemarin.


**


Esoknya, adalah liburan terakhir sebelum mereka kembali ke Jakarta.


Di luar rencana yang masih dua atau tiga hari lagi, kenyataannya rumah sakit sedang membutuhkan Radit.


"Aku pengen ke taman bunga." rengek Rain, Radit pun mengiyakan.


Sedangkan Dion dan Viona memilih pergi ke pantai, dengan menyewa mobil beserta sopirnya.


"Maaf ya aku enggak ikut, kami mau ke pantai!" ujar Viona merasa tak enak, Rain dan Radit memakhlumi.


Membiarkan mereka menikmati waktu berdua dan menciptakan momen indah, hal itu juga yang akan di lakukan Rain dan Radit.


Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di Taman bunga, karena jarak villa ke taman hanya sekitar tiga kilo.


Setelah membeli tiket masuk, Radit mengajak Rain untuk berjalan masuk dan mengelilingi taman, selain banyak bunga-bunga indah juga terdapat berbagai macam wahana yang menyenangkan.


"Kamu suka?" Rain pun mengangguk, lalu memilih mendekat ke arah bunga dan berswafoto disana.


"Foto, yuk?" ajak Rain, Radit mendekat lalu menarik pinggang Rain hingga tak berjarak dengannya.


Lalu mengambil foto, Cekrekk!


**


Puas berfoto dengan bunga, Rain dan Radit melanjutkan jalan-jalan lagi.


Menikmati wahana sky bike yang terkenal di taman bunga itu.


Rain dan Radit sangat bahagia, seperti pasangan yang baru saja mengenal apa itu cinta.


__ADS_1


Pemandangan yang indah dengan berbagai macam bunga dengan lahan seluas 18 hektar, juga dilengkapi dengan berbagai wahana untuk dewasa, remaja bahkan juga anak-anak.


**


Pulang dari jalan-jalan, Radit membawa Rain untuk makan, karena perut mereka sudah lapar.


Namun sebelum itu, mereka terlebih dulu mampir ke pusat oleh-oleh, membeli berbagai pernak pernik sebagai kenangan di kota Malang, kelak ketika mereka punya anak akan ada cerita sederhana dari bulan madu mereka.


Radit membukakan pintu untuk Rain, "Silahkan istriku yang cantik." serunya, setelah Rain masuk Radit berputar kemudian ikut masuk.


"Mas, makasih ya." ucap Rain, Radit mengulas senyum kemudian mengacak rambut Rain gemas.


"Sama-sama, apapun itu buatmu, sayang!" Mobil pun melesat meninggalkan area wisata taman bunga, kini tujuan Radit dan Rain adalah mengisi perut sebelum pulang.


Kali ini Radit membawa Rain ke sebuah caffe, tempat makan dengan nuansa romantis juga iringan musik piano.


"Mau makan apa, hmm?" tanya Radit kepada istrinya, tak lupa ia mengacak rambut Rain gemas, hya karena bagi Radit, Rain itu menggemaskan.


"Tuhkan, kebiasaan jadi berantakan rambutku." Rain mengerucutkan bibir.


"Habis kamu gemesin, jadi pengen makan lagi." Radit terkekeh.


"Dasar mesum!"


"Boleh ya dek, minta foto?" pinta seorang ibu-ibu yang duduk tak jauh dari meja Rain.


"Lah, maaf bu! Tapi kami bukan artis." Jawab Radit sopan, bukan menolak bahkan ia belum sempat memesan makanan, kasian pelayan menunggu dari tadi.


"Bentar aja mbak, ya ya?" bujuknya sembari mengelus perut.


Radit dan Rain baru paham, jika yang meminta foto sedang nyidam pengen foto bareng.


Alhasil mereka dengan senang hati menurutinya, siapa tahu setelah ini Tuhan juga menghadirkan malaikat kecil di rahim Rain.


"Makasih ya mbak, mas." Seru ibu-ibu itu dengan senyum sumringahnya, lalu pamit.


"Sama-sama, sehat-sehat ya ibu dan debaynya!" Rain mengulas senyum.


Radit dan Rain bernapas lega, setelah ibu tadi pergi barulah ia memesan makanan.


"Maaf ya mbak, lama!" ucap Rain kepada pelayan yang menunggunya pesan. Untung caffe tak terlalu rame.


"Aku pesan capucinno dua, sama dimsum sama sushi, juga nasi bakar!" ucap Rain setelah melihat buku menu.

__ADS_1


"Yakin kamu makan sebanyak itu sayang?" Ragu Radit, tapi setelah melihat Rain mengangguk, ia tak lagi bertanya, mungkin perempuan jika lelah laparnya menjadi, pikir Radit.


"Aku steak sama kentang goreng."


Setelah menunggu beberapa menit, makanan pesanan mereka datang.


Rain dengan semangat penuh menghabiskannya, "Hehe, maaf aku lapar sayang!" ucap Rain setelah hampir menandaskan semua makanannya.


"Hmm, aku tahu!" singkat Radit, ia masih menikmati kentang gorengnya.


**


Selesai makan, Radit meminta bil lalu membayar makanannya, sedangkan Rain, ia menunggu Radit di dalam mobil.


Radit masuk dengan membawa air mineral di tangan, tambah beberapa camilan.


"Kenapa nggak ke mini market aja belinya?"


"Gapapa, sekalian biar kita bisa langsung pulang."


Radit melesatkan mobilnya menuju villa, hari masih begitu sore.


"Kita pulang?" tanya Rain, dan Radit mengangguk, " Aku ingin memakanmu dan meremukkan tulang-tulangmu." goda Radit.


"Astagaaaa, aku mau jalan-jalan lagi aja." pekik Rain frustasi.


Radit terkekeh melihat tingkah istrinya, padahal ia sama sekali tak serius dengan ucapannya, namun entah kenapa, ia suka sekali menggoda Rain dengan tatapan mesum.


"Kita susul Dion sekarang!" titah Rain.


"Nggak, jauh sayang kalo Dion dan Viona udah pulang, gimana?"


"Aku wattshap mereka, katanya masih di pantai! Lagian ini masih sore, mereka pasti menunggu senja." kekeh Rain, dari pada Radit mengungkungnya lagi di dalam kamar, lebih baik ia mencari aman, padahal badannya sudah tak bisa diajak kompromi.


Mau tidak mau, akhirnya Radit menuruti kemauan istrinya untuk menyusul Dion dan Viona melihat senja di pantai.


Mengingat besok pagi, ia sudah kembali ke Jakarta, ia tak ingin Rain kecewa.


"Yaudah, iya! Tapi nggak usah cemberut gitu, jelek!" goda Radit, ia menepikan mobilnya sebentar, dan Cuppppp!


Radit langsung mencium bibir Rain, "Aaaaa...."


"Apa, sekarang kan bebas!" santai Radit, lalu kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2