
Zain menggenggam tangan Maura tanpa melepasnya sedikitpun, entah kenapa, Maura butuh seseorang untuk sandaran saat ini. Mereka pun berjalan beriringan memasuki lift menuju lantai dimana letak kamar Aurora berada.
Zain langsung menuju nomor dimana apartemen Aurora berada.
Ting tong! Zain menekan bell pintu apartemen Aurora, sementara Maura, jantungnya berdebar kencang, jujur ia belum siap patah hati. Namun, jika benar Reynan kekasihnya selingkuh dengan Aurora, mungkin hal yang pantas di lakukan Maura adalah melepasnya, itu lebih baik.
"Kak, aku takut." Lirih Maura sembari mengeratkan pegangannya, Zain yang menyadari itu pun langsung beralih menatap Maura, "Kenapa, hmm? kok malah takut?" Zain menatap intens Maura, batinnya cukup penasaran karena ia bisa merasakan tangan Maura yang berubah menjadi dingin.
Zain bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang terjadi dengan Maura? jika karena kekasihnya selingkuh, harusnya ia meluapkannya di caffe tadi. Tapi ini, ia malah memilih pergi dan sekarang meminta bertemu dengan Aurora.
Zain menekan lagi bel pintu apartemen Aurora, karena merasa tak ada respon.
Ceklek!
Pintu terbuka, "Kak Zain." pekik Aurora senang, lalu hendak bergelayut di tangan Zain namun seketika mata Aurora membulat sempurna.
"Maura!" saat ini ekspresi Aurora benar-benar terkejut, ia tak menyangka jika Zain akan datang bersama Maura.
"Boleh aku masuk, aku kangen banget sama kamu! dah lama loh kita gak ketemu." Ucap Maura dengan seulas senyum.
Aurora bergetar, bukan hanya karena terkejut dengan Maura yang berubah drastis. Bahkan lebih cantik dari dirinya, masalah lain lagi adalah, Reynan saat ini berada di apartemennya.
Aurora berniat mengenalkan Rey kepada Zain sebagai kekasihnya, tak disangka Maura justru berada disini.
"Siapa sayang?" Tanya seseorang yang berjalan dari arah dapur, siapa lagi kalo bukan Reynan.
__ADS_1
Tarr! Rey reflek menjatuhkan gelasnya, tubuhnya mematung dengan mata membulat sempurna.
"Ma-Maura," ucapnya tak berkedip.
"Hay Rey, kak Zain bilang Aurora akan mengenalkan kekasihnya yang sekarang ada di apartemen, apa itu kau?" Maura tersenyum, lalu memilih langsung duduk di sofa.
Zain sendiri selain terkejut memilih diam sementara, membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.
"Jadi ini alasan Maura ingin bertemu Aurora? Sungguh pengkhianatan yang sangat menyakitkan, tapi kenapa ia tetap tersenyum?" batin Zain bertanya-tanya.
"Mar, aku bisa jelasin." Reynan mendekat ke arah Maura, duduk di samping gadis itu, sementara Aurora terlihat sangat kesal, menekuk wajahnya.
"Gak perlu Rey, aku kesini cuma ada perlu sama kamu dan Aurora, kalo mulai saat ini kita putus, dan aku kesini sama kak Zain juga mau ngasih tau kalau kami akan menikah segera."
"Gak bisa gitu dong, Mar! Aku nggak mau kita putus, apa karena cowok itu kamu jadi berubah gini." Reynan berusaha membujuk Maura, wajahnya memelas, selain karena tiba-tiba Maura minta putus kini, pandangan Reynan juga tak teralihkan dengan wajah sang kekasih yang sudah bermetamorfose, namun nasi sudah menjadi bubur. Luka yang Reynan torehkan sudah terlanjur membuat Maura bertekad untuk berhenti berjuang pada cinta yang salah.
"Terserah, itu urusanmu. Lagi pula alasan apa yang membuatmu tak ingin putus dariku Rey, kamu selingkuh dengan Aurora, dan sekarang kamu nggak mau aku ngakiri hubungan kita, cehh, menggelikan!" ucap Maura dengan nada sedikit tinggi.
"Maksud kamu apa Rey? kamu bilang nggak pernah mencintai Maura dan cuma jadiin dia pelarian, terus ini apa?" tanya Aurora.
"Kak Zain, urusanku disini udah selesai, bisa kita pulang?" tanya Maura, Zain yang sedari tadi mematung akhirnya sadar, lalu mengangguk, mengiyakan.
"Ra, aku pulang dulu. Selesaikan masalahmu dengan Reynan." pamit Zain, meski ia juga kecewa akan Aurora yang telah merebut kekasih Maura, biar bagaimanapun Aurora adalah adik sepupunya.
"Kak Zain juga ninggalin aku? Kak, jangan pergi." Rengek Aurora sembari menangis.
__ADS_1
"Mar, apa kamu sengaja merubah penampilanmu, demi merebut semua yang ku punya? Apa selama ini kamu iri, aku bisa mendapatkan segalanya termasuk kekasihmu," Pekik Aurora.
Maura memiringkan senyum, entah kekuatan dari mana ia sampai tak menitikkan air mata saat mendapati kenyataan yang tak sesuai dengan ekspetasi di angannya.
"Aku, iri? Untuk apa? bukankah langit tak perlu menunjukkan diri bahwa ia tinggi?" Sindir Maura, "Dan aku, aku tak perlu menunjukkan siapa diriku sebenarnya, karena yang benar menyukaiku tak akan membutuhkannya dan yang membenciku pun tak akan memperdulikannya." Maura melangkah keluar apartemen milik Aurora, sejujurnya ia sudah tak bisa menahan air matanya.
Saat Maura pergi, Rey berusaha mengejar namun tangan mungil Aurora mencekalnya.
"Stop Rey, kamu udah mutusin milih aku dari pada Maura, harusnya kamu seneng karena keinginanmu untuk putus sudah terwujud sekarang." terocos Aurora, kesal.
"Nggak, nggak bisa! Aku sadar aku sangat mencintai Mauraku.'' ucap Rey penuh tekanan, Sedangkan Aurora menaik turunkan alisnya, "Masalahnya kamu sudah terlambat, karena kak Zain bukanlah orang yang mudah merelakan apa yang sudah menjadi miliknya, sudahlah Rey harusnya kamu bersyukur." sinis Aurora.
Pada Akhirnya, apa yang menjadi keinginan Aurora terkabulkan, Reynan putus dengan Maura, dan menjadi miliknya. Aurora tak perlu susah-susah menyembunyikan hubungannya dengan Reynan, namun yang membuat Aurora tak habis fikir, saat ini Reynan justru terlihat menyesali keputusannya.
Reynan mengusap rambutnya frustasi, berulang kali menghela nafas kasar, pikirannya kalut karena Maura sudah tahu bahwa ia memiliki hubungan dengan Aurora, padahal hubungan itu baru saja dimulai hari ini, dan Reynan dilema, antara harus senang karena putus atau sedih karena tau Maura akan menikah dengan Zain.
"Sudahlah Rey, mending kita have fun! Lagian, kamu sendiri kan yang bilang, kalo mau putusin Maura, karma emang secepet itu ya nyampenya." Aurora duduk di sofa tepat di depan Reynan.
"Ra, hubungan kita ini udah salah." desahnya berat, sembari memejamkan mata. Kepalanya akhirnya memilih bersandar di sofa.
"Terus harus seperti apa, kamu mau kita akhiri hari ini juga? Apa kamu pikir, dengan kamu ninggalin aku lantas membuat Maura kembali sama kamu, cehhh!"
"Kasih aku waktu untuk memikirkan semuanya, aku harap kamu mau ngerti posisiku saat ini," Rey bangkit lalu membenahi jaketnya, ia meraih slingbang juga ponsel di nakas dekat sofa lalu melangkah pergi.
Sepeninggal Reynan, Aurora mengamuk melempar kasar vas bunga juga segala yang ada di meja ruang tamu apartemennya, ia menangis tergugu. Aurora menutup wajahnya, harusnya hari ini menjadi hari yang bahagia dan mengesankan karena Reynan mengungkapkan perasaannya, namun sejak kehadiran Maura ia kembali ragu, apakah benar Reynan mencintainya atau malah mencintai Maura tapi tak pernah menyadari perasaannya.
__ADS_1