
Dua minggu berlalu, Radit sudah benar-benar sembuh, dan ia benar-benar menagih janji kepada tante Dina untuk menyiapkan acara pernikahannya dengan Rain.
Radit meminta agar pernikahannya di laksanakan dengan sederhana, mengingat Radit dan Rain sama-sama yatim piatu.
Namun bukan keluarga Admaja jika tidak memberi kejutan kepada keponakan tercinta, Dina telah menyusun rencana begitu rapi bersama Wira dan dibantu Shaka.
Rumah megah Radit kini telah disulap menjadi istana yang siap menyambut para tamu undangan.
Persiapan demi persiapan sudah dilakukan, termasuk mendekorasi setiap sudut ruang serta halaman yang akan menjadi saksi bisu sejarah percintaan Rain dan juga Radit.
"Tante, Om. Kenapa mewah sekali, dan ini kenapa ada bunga-bunga, bukankah Radit sudah bilang, cukup nikahkan kami dengan sederhana." Protes Radit yang baru saja keluar kamar dan melihat seluruh rumahnya sudah disulap dengan dekorasi mewah.
"Anak tante memang cerewetnya minta ampun, kami memang menikahkanmu dengan sederhana! memangnya harus seperti apa?" tegas Dina dengan tangan terlipat di dada.
"Sudahlah, nurut saja! toh nikah cuma sekali, yakan?" Shaka menaik turunkan alisnya, Perihal seperti ini, ia sama bawelnya dengan Dina dan juga Wira, makhlum gen keturunan.
Radit menghela nafas kasar, lalu kembali masuk ke kamar untuk mandi, dua jam lagi acara pernikahannya dengan Rain akan dimulai.
Calon istrinya kini sedang berada di ruang tamu bersama Kenia dan juga Kamila, sedangkan si kembar cukup anteng bersama bi Salis yang tiba-tiba merangkap menjadi baby sister Zain dan Nora.
Rain memandangi wajahnya di depan cermin, ia sangat gugup. Meski rambutnya belum tertata rapi namun ia sudah terlihat cantik dengan gaun yang melekat di tubuhnya.
"Kamu cantik Rain, mas Radit pasti bahagia menikah sama kamu!" Seru Kenia dengan mata berkaca-kaca, terharu!
"Kamu terlalu memujiku, Kenia! Aku hanya menjalaninya seperti air mengalir, aku juga bukan perempuan yang sempurna." ucap Rain, matanya pun ikut berkaca-kaca.
"Seperti apapun kamu, kamu adalah takdir mas Radit, dan aku hanya berharap kelak kalian akan selalu bahagia dan segera menyusul kami memiliki momongan." Doa tulus Kenia.
Suasana haru biru turut menghiasi ketiganya, Kamila juga sama, ia memeluk Rain layaknya saudara, "Bahagia selalu," ucap Kamila, segera Mila melepas pelukannya, karena perutnya yang besar membuatnya kesusahan bernafas.
"Bayimu menendangku," Seru Rain berbinar.
Kamila tersenyum, "Dia sedang mengucapkan selamat kepada tantenya." Jawab Kamila.
**
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamar Radit sedang berusaha menetralkan kegugupannya, semua bercampur menjadi satu, antara gugup, senang, bahagia. Bahkan Radit sampai tak bisa mengekspresikan hatinya saat ini.
Satu jam lagi pernikahannya dengan Rain akan segera dimulai, ia sudah siap dengan setelan jassnya.
Rambutnya masih terlihat berantakan, namun kadar ketampanannya sudah naik 2x lipat.
Bukan segera turun, Radit justru memandangi rumahnya yang sudah disulap dari arah balkon.
"Andai mama sama papa masih hidup, bukankah kalian akan bahagia melihatku setampan ini, bukankah kalian akan senang melihatku menikah dan menjadi seorang suami." gumam Radit
Radit menyeka air mata yang hampir saja jatuh, buru-buru ia ke arah cermin dan merapihkan rambutnya yang masih berantakan.
Setelah dirasa siap, Radit segera turun.
Lama menunggu, akhirnya Rain keluar dengan didampingi Kenia dan Kamila, sejenak Radit terpaku akan kecantikan calon istri, tanpa sadar matanya tak lagi berkedip sedari tadi.
"Kedua mempelai apa sudah siap?"
Kini sepasang kekasih itu telah resmi menjadi suami istri, Radit tersenyum puas, andaikan tak ada orang, ia ingin segera menggendong Rain dan membawanya ke dalam kamar.
Tanpa ragu, Radit mendaratkan kecupan di bibir Rain sekilas, disini dihadapan semua orang.
Meraih jemari Rain, dan menggandengnya menuju singgasana yang telah dipersiapkan, banyak orang yang datang, namun terkhusus keluarga dan teman-teman Radit dan Rain ada acara pesta yang akan dilaksanakan malam hari nanti.
Tamu undangan dan juga para kolega bisnis Admaja group ikut serta menikmati pesta, tak lupa seluruh karyawan rumah sakit juga hadir disana.
Shaka melangkah mendekat ke arah Radit, ingin sekali ia menggoda sepupunya itu.
"Lo punya waktu istirahat dua jam setelah ini, bermainlah!" bisik Shaka, lalu membalikkan badan dan pergi.
Saat para tamu undangan sudah mulai pergi, tinggalah keluarga dan sahabat dekatnya.
"Selamat, nak! tante bahagia akhirnya kamu menikah." Seru Dina memeluk Radit.
Orang tua Kenia juga tampak hadir dan memberi selamat, juga Sam, Shaka, dan Dion serta para perempuan.
__ADS_1
Zain dan Nora kini berada di pangkuan Ed dan Wina, orang tua dari Kenia.
"Sekarang istirahatlah nak, om akan menyiapkan pesta untukmu nanti malam." seru Wira kepada Radit, mengisyaratkan agar membawa Rain istirahat ke kamar.
"Baiklah, jika kalian memaksa aku akan ke atas bersama istriku." pamit Radit, waktu menunjukan pukul tiga sore, artinya ia punya waktu dua jam untuk istirahat dan dua jam bersiap untuk pesta nanti malam.
Radit meraih jemari Rain, dan menautkan tangannya, menggandeng perempuan yang saat ini telah sah menjadi istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Belum sempat menaiki tangga, Radit meraih tubuh Rain dan menggendongnya ala bridal style menaiki tangga menuju kamar milik Radit.
Sampai di lantai atas, Radit membuka pintu dengan kakinya, beruntung pintu kamarnya masih bisa didorong dengan kaki, sehingga masih sangat mudah untuk Radit membukanya.
Rain sudah memerah, wajahnya merona malu dengan perlakuan Radit yang romantis meski ini bukan pertama kalinya, namun terkhusus hari ini, mereka sudah sah menjadi suami iatri dan mereka sama-sama sedang dalam keadaan sadar.
Betapa Radit dan Rain terkejut melihat kamar miliknya yang kini dipenuhi dengan bunga-bunga mawar dan lilin-lilin kecil.
"Apa kamu yang menyiapkan semua ini, sayang?" Rain menatap ke arah sekeliling, benar-benar suasana yang romantis.
Radit menggeleng, ia juga terkejut dengan kamarnya yang sudah berubah.
"Aku yakin ini ulah tante Dina, atau mungkin Shaka sayang." Pelan-pelan Radit membawa Rain menuju Ranjang, takut jika kakinya tak sengaja menyenggol lilin dan gagal romantis.
Perlahan, Radit meletakkan tubuh Rain yang masih dibalut gaun pengantin ke atas Ranjang.
Radit melonggarkan dasinya kemudian ikut merebahkan diri disamping Rain, kini posisi mereka sudah berhadapan.
Jemari Radit membelai pipi Rain, menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi kecantikan istrinya itu.
"Kamu cantik," puji Radit seraya menatap lekat manik mata Rain.
"Dan kamu juga sangat tampan." jawab Rain dengan pipi yang merona, "Aku tidak menyangka kita sudah menikah." Radit merubah posisi menjadi telentang, menatap langit-langit kamar yang mungkin sebentar lagi akan menjadi saksi bisu percintaannya.
Sajen mak sajen, kasih author bunga mau aku tabur di kamar radit, wkwkwk
lanjut??? komen dan like dibawah yak( ˘ ³˘)♥
__ADS_1