
"Rain..." panggil Radit, namun gadis yang kini dalam gendongannya itu tak menyahut.
Segera ia merebahkan Rain di atas ranjang, "Astaga Rain ! kamu tidur apa pingsan sih." gerutu Radit.
Segera Radit mencari minyak angin di laci nakas, siapa tau ada.
Setelah menemukannya, Radit mengoleskannya segera di hidung Rain.
Benar saja selang beberapa detik, Rain terbangun.
Saat matanya terbuka Radit langsung menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Maaf mas, lagi-lagi aku merepotkanmu."
" Sudahlah, tak apa. Aku justru khawatir kamu sakit, kamu pucet banget soalnya." ucap Radit.
Rain membenarkan posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang.
"Makasih mas, aku selalu merepotkan ya. Aku juga nggak tau kenapa selemah ini. Aku paling nggak bisa banyak fikiran."
"Mikirin Angga ya?" tebak Radit.
Dan benar saja Rain langsung mengangguk dengan wajah sendu.
"Saran aku lebih baik temuin dia, bicara baik-baik masalah hubungan kalian. Aku mengenal Angga dengan baik, jadi aku percaya hubunganmu dan Angga bisa diperbaiki." ucap Radit memegang tangan Rain.
Apa dia sedang menyuruhku kembali dengan Angga, apa dia sama sekali tak memiliki perasaan padaku..
Mungkin selama ini, aku salah menganggap segala kebaikanmu adalah berdasarkan kata suka...
Lalu apa artinya ucapanmu di club waktu itu,
apa kau fikir cinta sebercanda itu...
Batin Rain nyeri mendengar penuturan Radit, mungkin selama ini ia terlalu berharap lebih atas perlakuan dokter tampan itu.
"Rain...." suara Radit memecah lamunannya.
"Dapur sebelah mana?" tanyanya.
Rain pun menunjukan letak dapur pada Radit, kemudian Radit beranjak entah apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Radit kembali membawa secangkir teh hangat.
"Mas Radit kenapa gak bilang kalo mau teh, kan bisa aku buatkan." ucap Rain.
"Ini buat kamu, biar badannya anget dan kamu punya tenaga." ucapnya sembari menyodorkan secangkir teh diatas lepek.
"Minumlah, selagi masih hangat." titahnya.
Rain tersenyum lalu mengangguk, segera ia meneguk teh buatan Radit.
Manis semanis yang buat...
"Makasih mas." ucap Rain meletakkan cangkir di atas nakas.
"Sekarang ceritakan semuanya, aku juga ingin tau lebih banyak tentang dirimu Rain."
Rain menghela nafas, sepertinya Radit memang ingin tau hubungannya dan Angga. Tapi untuk apa." Batin Rain bertanya-tanya.
"Aku memang menjalin hubungan dengan Angga mas, tapi saat itu aku menghilang. Saat dimana kedua orang tuaku pergi, aku kembali menata hidupku. Aku kehilangan separuh duniaku, sampai-sampai aku lupa aku masih punya Angga, aku meninggalkannya tanpa alasan." Rain menghela nafas sejenak lalu melanjutkan ceritanya lagi.
"Untuk perasaan cinta, entahlah. Aku tidak yakin masih mencintainya.
Aku telah mengecewakannya, aku juga sudah menyakitinya. Rasanya tak adil jika aku kembali bersamanya lagi, mungkin yang ada hanya akan menambah luka lama." Rain menunduk, tanpa terasa buliran bening luruh dari matanya.
"Hey hey, sudah jangan menangis! Ada aku." ucap Radit seraya menghapus air mata Rain lalu merengkuhnya dalam pelukan.
Pelukan yang menenangkan bagi Rain.
"Semua orang punya kesalahan, kita hidup tidak ada yang sempurna. Mungkin saat itu kamu bingung memilih jalan, jika seseorang pernah salah mengambil langkah, bukan berarti orang itu tak lagi mempunyai kesempatan memperbaikinya." Ucap Radit begitu bijak.
"Jika kamu memang sudah tidak bisa bersama Angga lagi, setidaknya selesaikan apa yang belum terselesaikan. Aku yakin Angga pasti ngerti. Apapun keputusanmu, aku akan selalu ada buat kamu Rain. Kita mengalami masa sulit yang sama, aku tak ingin kamu putus asa."
Setelah dirasa tenang, Radit melepas pelukannya.
"Sekarang senyum, aku tak ingin liat kamu sedih lagi. Rasa bersalah itu wajar, akupun pernah merasakannya." Radit mengulas senyum.
Rain mengangguk, ia semakin mengagumi sosok Radit yang begitu dewasa baginya.
Dan lagi Rain mulai merasa nyaman berada di dekat laki-laki itu.
"Sekarang istirahatlah, aku mungkin akan kembali ke rumah sakit. Oh iya dengan kamu seperti ini lebih baik tak masuk kerja dulu." Ucap Radit.
__ADS_1
"Tapi mas, Aku harus kerja. Nanti Dion ngomel-ngomel lagi."
Sontak Radit menatap tajam Rain, " Libur aja dulu, biar aku yang ijin dengan Dion." ucap Radit kemudian mengambil benda pipih disakunya.
Segera ia mencari name kontak Dion dan menelponnya.
Dion : "Hallo Dit, ada apa?
Radit: " Rain gak enak badan, ia izin ya."
Dion :" Oke tak masalah."
Tuttt ! telpon terputus. Sengaja Radit meloudspeaker telponnya.
"Dengerkan, aman ! jadi kamu gak boleh kerja dulu." ucap Radit.
"Iya deh iya." Rain mencebik.
"Aku nanti balik kesini, kalo kamu gak ada awas!" ancam Radit dan Rain hanya mengangguk pasrah.
Radit beranjak, lalu pergi keluar kamar dan meninggalkan apartemen Rain.
Disisi lain, Dion tersenyum setelah menerima telpon dari Radit.
Entah, ia begitu senang andaikan Radit dan Rain bisa bersama, jadi sebisa mungkin ia akan mendekatkan mereka.
**
Rain mencoba memejamkan matanya, sejak Radit pergi ia kembali gelisah.
Rain mengambil benda pipihnya yang belum sempat ia ambil di tas.
Rain mencari name kontak Angga, ternyata kontak itu belum di hapusnya.
"Semoga masih aktif..." batin Rain.
Maafkan aku Angga, aku tak bermaksud..
Kenyataannya aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku tak ingin kembali hanya karena perasaan bersalahku, semoga segera kau menemukan wanita yang lebih baik dariku, Aku hanya tak ingin menambah luka lama dihatimu...
Jika kenyataannya aku telah begitu nyaman dengan cinta yang baru.
__ADS_1