
Maura pun kembali merebahkan diri, sementara Zain ia masih merasa sangat malu, seolah jika dirinya yang seperti itu dan orang lain memergoki. Oh tidak, Zain menggelengkan kepalanya.
Merasa aneh dengan sikap suaminya, lantas yang Maura lakukan adalah pura-pura tidur nyenyak.
"Eh, sudah tidurkah dia?" gumam Zain yang tersadar, Maura sudah memejamkan mata. Namun, siapa yang tau jika saat ini, Maura justru memasang telinga lebar-lebar meski kedua mata tertutup rapat.
"Syukurlah kalau sudah tidur, untung pas aku berniat tidur di kamar Nora, Maura tidak tau." gumamnya.
"Jadi dia masih berniat menghindariku," batin Maura dalam hati, lantas yang dilakukannya adalah membalikkan tubuh memunggungi Zain dengan kesal.
"Eh, dia dengar aku ngomong kah?" tanya Zain, merasa tubuh Maura seolah merespon sebal gumamannya.
Tangan Zain lantas meraih pinggang Maura dan menariknya ke dalam pelukan. Maura masih diam, ia membiarkan Zain merengkuhnya.
"Aku gak bisa tidur," bisik Zain, karena kasian perlahan Maura membuka mata.
"Kenapa?" keduanya saling berhadapan. Namun, hal yang tak terduga adalah tangan kekar Zain membuat jarak antara tubuh mereka semakin terkikis.
__ADS_1
Zain menarik Maura agar lebih merapatkan tubuhnya hingga napas keduanya bersautan.
"Aku butuh kamu." kata Zain mengu lum senyum, kemudian mengedipkan matanya menatap sang istri.
"Untuk?" tanya Maura polos.
Zain menggelengkan kepalanya, "tidak untuk apapun, tidurlah." bisik Zain seperti sebuah dongeng di telinga Maura hingga tak butuh waktu lama segera membuat terlelap.
"Ck!" Zain berdecak, menyesal sekali rasanya meminta Maura tidur, padahal ia bisa bermain lebih dulu dengannya.
Maura, ia masih bisa mendengar decakan Zain saat dirinya terlelap. Namun, sebenarnya ia sedang menguji Zain. Suaminya itu bahkan masih berego tinggi, kentara sekali saat ia terlelap dan Zain berdecak resah sendiri. Tanpa Maura duga, ia merasakan tangan Zain menelusup masuk dan meraba perutnya yang rata kemudian berpindah-pindah.
"Euh..." Maura merasakan sensasi luar biasa dan suaranya berhasil membangkitkan gerakan lebih tangan Zain yang kini sudah berada tepat di bongkahan da danya.
Merasa tak mendapat penolakan, Zain terus melancarkan aksinya. Kini ia memangut bibir Maura perlahan, akan tetapi terkejut saat sang istri membuka mata dan membalas pagutannya.
Bahkan tangan Maura juga bergerak menelusup dibalik tubuhnya, memaksa Zain melakukan yang lebih.
__ADS_1
"Maaf membuatmu terbangun."
"Aku tidak tidur sedari tadi," bisik Maura dengan senyum.
"Ouh, jadi kamu menikmatinya, hm? Kalau begitu ayo lanjut lagi." Zain memindah posisi jadi mengung kung Maura, akan tetapi sebelum itu ia sudah lebih dulu menanggalkan pakaiannya.
Maura mengangguk, ia tak menolak sama sekali kali ini dan membiarkan tangan Zain menyusuri manapun bagian tubuhnya.
Bak candu, Zain tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mengesap, mencicip setiap inti tubuh Maura yang kini sama polosnya setelah Zain berhasil meloloskan sisa penutup kain terakhir.
"I love you Maura." bisik Zain di sela-sela pemanasan mereka, hingga di detik terakhir Zain menghujwmkan miliknya ke tubuh Maura hingga berhasil membuat keduanya menegang nik mat.
"Love you too Zain." balas Maura dengan senyum kelegaan.
Zain tersenyum, ia semakin bersemangat menjejaki tubuh Maura malam ini. Tak ada lagi kekesalan, kecemburuan, atau hal apapun. Karena mulai malam ini, Zain yakin Maura benar-benar mencintainya, hanya mencintainya bukan Reynan.
TAMAT~
__ADS_1