
Definisi cinta itu apa? apa kepercayaan?
Aku percaya kamu mencintaiku dan kamu percaya apapun tentang diriku itu karena aku mencintaimu..
Raditya_
"Gue tadi ketemu Rain," Elkan buka suara, ia duduk di samping Radit yang masih sakit, luka-lukanya cukup parah, beruntung Radit adalah orang yang kuat.
"Gue baru sadar, kalo kita tinggal satu apartemen." sambung Elkan lagi.
Radit menautkan alisnya, terkejut.
"Kok gue gak tau? padahal gue sering nginep disana?" jujur Radit.
"Nginep? wah parah lu, anak orang brat!" omel Elkan.
Radit menghela nafas kasar, "Gue itu cinta sama dia, mau gue nginep disana, dia itu permata, gak bakal gue apa-apain sebelum sah!"
Elkan menepuk pelan pundak Radit, ia bangga akan sifat Radit, laki-laki baik.
"Rain jalan-jalan, sama cowok kayaknya, tadi ada cowok sama cewek nungguin dia dibawah."
Radit memejamkan matanya sejenak, memijat pelipisnya.
Batinnya berkecamuk, mendengar penuturan Elkan tentang Rain, tapi bukankah ia harusnya mempercayakan semuanya kepada Rain.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Radit, lebih ke diri sendiri.
"Salah satu pelayan Blackzone, gue inget!" seru Elkan.
Haruskah aku bilang aku cemburu sekarang..
Ah, andai kamu tahu keadaanku sayang, aku berusaha menutupi agar kamu tak khawatir, tapi kenapa sesakit ini hatiku saat kamu sibuk dengan yang lain..
"Mungkinkah itu, Andre?" tebak Radit, dan Elkan mengiyakan.
Radit mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Bugh!
Radit memukul bed, tempat ia berbaring, kepalanya mendadak pusing.
Elkan menyuntikkan obat pereda nyeri, beberapa menit kemudian Radit sudah terlelap.
Radit butuh banyak istirahat, terus terang Elkan sangat prihatin dengan Radit, ia memilih bohong soal keadaannya kepada Rain, padahal jelas Radit sangat membutuhkan Rain saat ini.
Beruntung El sempat menanyakan sandi ponsel Radit, alasanya simple saja. Mau numpang telepon.
Segera dokter muda itu mencari nama Rain, ia membuka akun watshap dan menemukan kontak Rain disana.
Segera ia menekan simbol Videocall.
"Hallo, sayang!" suara berat diseberang sana, terdengar bising.
Elkan mengarahkan kamera ponsel ke arah Radit berbaring, dengan luka-luka di kepala dan tangannya.
"*Mas, Radit.." pekik Rain terkejut.
__ADS_1
"Sorry, Rain. Tadi gue mau bilang pas ketemu lo, tapi gue lupa! Radit udah dua hari ini masuk rumah sakit." Jelas Elkan*.
Di seberang sana, Rain tak kuasa menitikkan air mata.
Segera gadis itu mengusapnya kasar, lalu pamit menutup telepon.
***
"Aku- aku, aku pulang duluan ya, Net? ada urusan." Rain bangkit dari kursi tempat mereka makan, ya sehabis mereka nonton, kini mereka sedang makan di salah satu caffe dalam mall.
"Why, are you oke?" Seru Angga, ia menatap Rain.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang, mas Radit kecelakaan!" Seru Rain akhirnya.
"Rain, sorry! gue gada maksud buat ngajak lo seneng-seneng disaat kekasih lo sakit." Sesal Neta.
"It's ok, gue yang salah!"
"Lo langsung pulang aja ya, biar gue yang bayar! Ngga, bisa anterin Rain nggak?" Tanya Neta.
Angga mengangguk, lalu ikut berdiri.
"Nggak usah, Ngga! Aku nggak mau mas Radit marah." tolak Rain, "Aku duluan.." Gadis itu sudah berjalan meninggalkan caffe, sementara Angga mematung di tempat.
"Lo masih cinta kan sama dia?" cerca Andre.
Angga menggeleng kuat, "Aku nggak seegois itu, Rain sangat mencintai mas Radit."
Angga memilih kembali duduk, ia melanjutkan makannya.
Tapi ia lebih khawatir jika Radit marah dengan Rain, karena kehadiran dirinya nanti.
Radit sangat membutuhkan Rain saat ini, itulah sebabnya ia membiarkan Rain pulang sendiri.
Masalah Rain pergi dengan Neta, Andre dan juga dia. Itu semua tanpa sepengetahuan Rain.
***
Setelah memesan taxy online, Kini Rain sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit Hermina, gadis itu tak hentinya menitikkan air mata.
"Harusnya aku peka kan? kenapa di saat kamu butuh, aku justru nggak ada mas! Maafin aku."
Pandangan Rain mengarah ke kaca jendela mobil, hingga sampailah gadis itu di depan gedung rumah sakit Hermina.
"Makasih pak." ucap Rain membungkuk, sebelum akhirnya taxy itu melaju lagi.
Segera gadis itu berlari, ia panik dan tak menghiraukan beberapa perawat yang hampur ia tabrak.
"Maaf, sus! Ruangan dokter Radit ada dimana?" tanya Rain kepada perawat yang berada di ruangan Radit.
"Ada di ruang VIP 02 lantai dua mbak Rain."
Tanpa fikir panjang, Rain segera pergi mencari letak dimana ruangan Radit berada.
Nafas Rain memburu, sejenak menghela nafas untuk menetralkan detak jantungnya.
Rain memejamkan mata sejenak, sebelum meraih handle pintu dan membukanya.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang dua hari ini ia rindukan, laki-laki yang ternyata memilih membohonginya, ketimbang membuatnya tahu bahwa saat ini, Radit terbaring lemah dengan luka.
Merosot sudah tubuh Rain, kakinya lemas tak mampu menompang berat badannya, padahal tubuhnya kecil dan langsing.
Setelah memiliki sedikit tenaga, Rain bangkit dan mendekati ranjang Radit, menggenggam tangan yang terpasang selang infus itu.
"Sayang.." lirih Rain dengan suara bergetar.
Rain duduk, disisi ranjang Radit, lalu menggenggam jemari kekasihnya itu dan menciumnya.
"Pasti sakit ya, sangat sakit! maafin aku..."
Radit masih tertidur pulas, tak tahu jika saat ini ada sepasang mata sendu yang menunggunya bangun dan ingin memeluknya.
Rain masih setia terjaga, menunggu sang kekasih.
Ia menyesal, sampai tidak tahu keadaan Radit yang sebenarnya.
Bulir bening masih terus membasahi pipi, sesekali Rain mengusapnya kasar.
Ahh andai Radit tahu, ia sudah berada disini menunggunya, menunggu laki-laki itu tersenyum padanya.
Radit terbangun membuka matanya, merasa ada yang menyentuh kulit tangannya, ia melirik dan mendapati Rain tertidur bersandar di ranjangnya dengan posisi duduk.
Seulas senyum tersungging di wajahnya, ia sebahagia itu ia melihat Rain berada disini.
Pertanyaannya, siapa yang memberitahu kekasihnya?
Rain terbangun, mendapati Radit menatapnya, gadis itu mengulas senyum.
"Kenapa bisa seperti ini, sayang ?" tanya Rain, jemarinya mengusap lembut wajah Radit.
Radit hanya menjawabnya dengan senyum, namun itu tak membuat Rain berhenti bertanya.
"Kenapa gak dijawab, pasti sakit ya? disaat kamu kaya gini aku malah pergi sama Neta dan Angga." jujur Rain.
Mendengar nama Angga, seketika membuat Radit murung.
"Jadi kamu jalan-jalan sama Angga?" Radit memalingkan wajah, memang Radit bohong soal ia sakit, tapi seharusnya Rain tidak pergi dengan Angga.
"Ma, maaf!" ungkap Rain, aku cuma gak mau bohong sama kamu sayang, kamu berhak marah! Tapi aku nggak tahu kalo Neta dan Andre sama Angga.
"Hmmm, iya!" Radit memejamkan mata sejenak, memang ini semua bagian dari kesalahannya, andaikan ia memberitahu Rain, jika ia kecelakaan, mungkin kekasihnya itu gak akan sampai pergi bertemu mantannya.
.
.
***Hallo Readers sayang, kasih Vote biar aku semangat up yaaa.. btw ini hari senin lho, yang punya vote nganggur boleh kok disumbangin, kasi bunga biar rada romantisan juga boleh wkwkwkwk, author mau ngamen biar disumbang vote..
dudu..du... la...la..la....🤣
Yang mau masuk grup, masuk aja gak usah sungkan, kita kenalan😘***
__ADS_1