BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
BPC S2 - Rencana Radit


__ADS_3

"Kamu lihat kan sayang, kamu lihat sendiri kan, Reynan memang tak pantas mendampingi Maura, dan sekarang aku yakin Maura sudah tahu jika Reynan memiliki perempuan lain." ucap Radit dengan pandangan mata terus menatap ke bawah, ke arah dimana Maura dan Reynan sempat bicara, dan kebetulan posisi mereka terpantau dari balkon kamar milik Radit dan Rain.


Rain menghela napas sejenak, meski mereka tak tahu apa yang Reynan dan Maura, anaknya bicarakan. Melihat dari cara bicara dan sorot mata mereka tampak terlihat sedang bersitegang. Dan sepertinya Maura memang sedang berdebat hebat dengan Reynan, hingga berulang kali menepis tangan pemuda itu.


Kali ini Rain menatap lekat suaminya, "Ada yang kamu sembunyikan, sayang?" tanya Rain, dan Radit mengangguk.


"Reynan, perasaannya masih labil. Aku melihatnya beberapa kali bersama Aurora, tapi aku membiarkannya karena aku masih menghargai Aurora sebagai anak Sam, sahabatku. Sepertinya aku semakin yakin untuk tetap menjalankan perjodohan Maura dan Zain, dan aku yakin Shaka pasti sangat setuju." ungkap Radit.


"Jangan terburu, fikirkan perasaan Maura." sahut Rain.


Radit menghela napas kasar, lalu menatap istrinya sejenak.


"Aku tidak akan memaksanya sayang, kalo begitu ayo kita turun. Kasihan Maura," Ajak Radit dan Rain pun mengangguk.


Selepas kepergian Reynan, Maura menangis sejadi-jadinya, gadis itu langsung berlari masuk ke dalam kamar.


Radit masuk bersama Rain saat pintu kamar Maura terbuka sedikit, menampilkan gadis yang tengah terisak dengan kepala ia tenggelamkan ke dalam bantal, Maura memang lebih dekat dengan Radit, karena Radit adalah sosok ayah yang lembut.


"Maura," panggil Radit, lalu duduk di tepi ranjang bersama dengan Rain, Maura terdiam namun masih enggan menampilkan wajahnya, ayahnya pasti akan menanyakan kenapa dia menangis sampai terisak, begitulah fikiran Maura berkecamuk bingung.

__ADS_1


Setelah dirasa lebih baik, Maura mengangkat kepalanya, lalu mengubah posisinya menjadi duduk, "Ayah, mama." cicitnya pelan, "Kok kalian disini?" tanya Maura.


"Anak ayah kenapa nangis, coba gih cerita." tutur Radit dengan lembut.


"Gapapa ayah, mama. Maura cuma kecapekan." tuturnya, namun dengan tatapan mata menunduk, sedikit saja matanya mendongkak, maka sang ayah akan tahu jika ia sedang berbohong.


"Beneran sayang, nggak lagi berantem sama Reynan kan?" tanya Rain, raut wajahnya khawatir.


Maura menggeleng keras, masih enggan jujur.


Radit menghembuskan napas kasar, "Ayah sudah tau semua, tak apa jika belum mau cerita. Tapi ayah harap, kamu berfikir ulang untuk mempertahankan laki-laki seperti Reynan." Radit mengusap pucuk kepala Maura.


"Tentu ayah mama tahu, laki-laki itu bukan hanya sekali dua kali sama perempuan lain, Maura." terang Radit, tanpa menyebutkan siapa perempuan yang slalu bersama Reynan.


"Tapi masalahnya perempuan itu Aur.." Maura menggantung ucapannya, terdiam beberapa saat. Entah, apakah ia harus memberi tahu ayahnya atau memilih menyimpannya rapat-rapat.


"Aurora kan, ayah diam bukan karena tak tau Nak," Kali ini sang mama bersuara.


"Sudah sini, peluk mama biar ilang sedihnya." Rain merentangkan tangan lebar-lebar, dan langsung disambut dua makhluk terkasihnya, Radit dan Maura.

__ADS_1


Haru membiru, kini perasaan Maura sudah lebih baik.


"Jika kamu mau, masih ada Zain, laki-laki yang pasti lebih baik dari Reynan, itu kalau kamu mau sayang, papa nggak akan maksa."


Maura mengangguk pelan, "Jika kak Zain bersedia, aku mau ayah." ucap Maura akhirnya.


***


"Kamu istirahat ya, mimpi indah sayang." Rain memasangkan selimut untuk Maura, lalu menciuminya bergantian dengan Radit.


"I love you, ayah mama." balas Maura, kemudian ia mulai memejamkan mata.


Sementara Zain begitu sampai rumah, mendapati sang papa sedang menunggunya di ruang tamu.


"Dari mana, Zain?" tanya sang papa dengan tatapan mata menyelidik.


Zain menghembuskan napas kasar, lalu duduk di samping papanya. "Dari rumah om Radit, pa." singkatnya.


Mendengar jawaban Radit, seketika membuat bibir Shaka melengkung ke atas. Lalu iya menepuk pundak Zain pelan, "Kamu memang sosok pelindung yang baik Zain, bahkan kamu rela mengorbankan perasaanmu demi Nora, papa akan merestui keputusan Nora, apapun itu." ungkap Shaka, sepertinya ia menyadari, jika keegoisannya sempat hampir menghancurkan kehangatan keluarganya.

__ADS_1


"Bukan itu masalahnya sekarang pa," Zain membuang napas kasar, "Maura punya kekasih, dan aku nggak mau jadi orang ketiga." ujar Zain dan langsung mendapat respon senyum dari Shaka.


__ADS_2