BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Sikap dingin Zain


__ADS_3

Sudah ke sekian hari sikap Zain berubah dingin, Maura menanggapinya dengan biasa. Terserah! mungkin selama ini Zain bersikap baik padanya berdasar rasa kasian, kasian karena pengkhianatan Reynan dulu.


Sudah hampir larut malam, Zain belum pulang. Mendadak ia diliputi gelisah mengingat hubungan mereka yang datar.


Kamu dimana kak? apa kamu marah denganku, kenapa sikapmu semakin hari semakin sulit aku pahami, batin Maura. Ia mengigit bibirnya kuat-kuat sembari berulangkali melihat ke arah jam dinding, hatinya gusar.


Berusaha menutupi kecemasannya saat ini, dengan berusaha baik-baik saja di depan kedua orang tuanya pun mertuanya.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Kenia yang melihat Maura duduk termenung di sofa keluarga. Ibu paruh baya itu memang sering ke dapur saat lapar meski tengah malam. Namun, baru kali ini ia melihat Maura duduk sendiri dengan raut wajah gusar.


"M-mama," Maura terbata, berusaha menutupi kecemasannya, akan tetapi sepertinya mertua sekaligus mantan ayahnya itu bisa menebak suasana hatinya saat ini.


Dengan lembut ia mengusap bahu Maura, "Ada masalah apa anak mama, hmm? mama tahu selama ini kamu menyimpannya sendiri, mama minta maaf tidak bisa menasehati suamimu, maafkan anak mama ya." ia meraih Maura dalam pelukan, entah harus sedih atau senang saat ini. Yang jelas, Maura beryukur karena kehadiran mama mertuanya dengan segala sikap lembut sedikit mengurangi beban yang berkecamuk.


"Maura gak papa, Ma." ucapnya dengan senyum. Namun, Kenia paham apa yang dirasakan Maura saat ini. Menikah karena perjodohan memang tak selalu manis, dan tak melulu berhasil seperti dirinya dan Shaka. Terlebih Zain dan Maura sama-sama tak memiliki perasaan.


"Maura, mama tahu apa yang kamu cemaskan saat ini. Cepat tidur, biar Zain mama yang urus, ini sudah hampir larut. Gak baik kamu begadang nungguin suamimu yang entah pulang jam berapa." tutur Kenia.


"Iya, ma. Maura ke kamar dulu kalau begitu." Maura pamit, dan melangkahkan kaki menuju lantai atas dimana kamarnya dan Zain berada.


Beruntung sekali ia memiliki mertua seperti Kenia.


Pantas ayah pernah jatuh cinta padanya, selain lembut mama juga pengertian. Aishhh, tapi tetap saja mama Rain terbaik. Batin Maura.


Ia memilih menunggu Zain di sofa, sembari membaca salah satu novel favoritnya.


Zain, saat ini ia tengah berada di club milik Bara. Berulang kali menuangkan wine ke dalam gelas, mengesapnya perlahan dan berulang-ulang, saat ini ia sedang merasa penat karena pekerjaan, selain itu, club adalah satu-satunya pelarian agar bisa menghindari sang istri, Maura.

__ADS_1


"Kenapa kamu muram sekali Zain, apa istrimu tidak melayanimu?" tanya Bara yang melihat Zain jadi lebih sering mengunjungi clubnya semenjak menikah. Ia tak begitu paham apa yang terjadi dalam rumah tangga Zain. Namun, yang ia tahu, Maura adalah gadis yang baik.


Bara sempat kecewa saat wanita yang ia kagumi ternyata adalah calon istri Zain. Akan tetapi pria itu memilih mengubur dalam rasa yang baru tumbuh itu ketimbang mengutarakannya, tentu saja ia tak ingin membuat persahabatannya dengan Zain berantakan.


"Istri..." ia tertawa hambar, "Aku belum menyentuhnya, dia permata yang paling berharga."


"Justru karena dia permata yang paling berharga kau harus segera menyentuhnya. Menjadikan Maura seutuhnya milikmu," desis Bara, Zain menghela napas sejenak. Sebenarnya, ia tak ingin terus menerus menyiksa Maura dengan sikapnya. Namun, ia ingin tahu sejauh mana Maura bisa menghadapi sikapnya bahkan yang terburuk sekalipun. Ia sempat melihat Maura dan Reynan beradu pandang, jadi bukan tidak mungkin jika istrinya masih sangat mencintai mantannya. Bukankah ia dan Maura sama-sama terpaksa menjalani pernikahan ini?


"Aku pulang dulu," Zain bangkit dari sofa ruang VIP, dimana ia dan Bara menikmati beberapa botol wine malam ini. Sudah pukul sebelas malam, ia harus segera pulang.


Zain, meski mabuk ia masih sadar. Meski Bara menawari orang untuk mengantarnya pulang, ia menolak. Selagi bisa, lebih baik pulang sendiri.


Sampai di rumah gontai ia langkahkan kaki masuk ke dalam. Namun, matanya membulat sempurna demi melihat mama yang kini duduk di sofa dengan tangan terlipat di dada dan tatapan mata tajam.


"Darimana kamu, Zain? Sudah menikah bukannya pulang, malah keluyuran." desis Kenia emosi.


"Kamu punya istri sekarang, paling tidak kamu bisa kabari istrimu jika ingin pergi, bukan membiarkannya berdiam diri menunggu berjam-jam. Kamu sudah dewasa Zain."


"Maksud mama apa?" Zain menautkan alisnya heran, baru kali ini ia melihat Kenia marah padanya.


"Mama kecewa sama kamu Zain." Wanita paruh baya itu bangkit meninggalkan Zain sendiri.


Gegas Zain melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Namun, tersentak kala melihat Maura tertidur di sofa samping ranjang. Matanya menelusuri wajah cantik sang istri yang tertidur pulas karena menunggunya.


Jemarinya tiba-tiba teralih membelai wajah cantik itu, "Maaf, membuatmu menunggu. Membuatmu begitu kesusahan karenaku." gumamnya pelan, sembari memandang istrinya lekat-lekat. Zain segera meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke ranjang, lalu menyelimutinya hingga separuh tubuh, lalu ikut merebahkan diri di samping Maura. Tak ada sentuhan, tak ada ucapan selamat malam tak ada gurauan sepasang suami istri sebelum tidur, semua terasa dingin dan biasa-biasa saja.


"Maafkan aku Maura." gumamnya sebelum akhirnya ikut terlelap, menggapai mimpi.

__ADS_1


Pagi pun menyapa, Maura tersentak saat mendapati diri rupanya tidur di atas ranjang, seingatnya setelah mengobrol dengan mama mertua. Ia menunggu Zain di kamar, duduk di sofa sembari membaca novel favoritnya.


Bahkan, novel yang ia baca masih tenggorok di meja.


Dahinya mengernyit, terlebih saat ini Zain tidur di kamar mereka. Selama ini, diam-diam Zain tidur di kamar Nora lewat pintu balkon kecuali jika saudara kembarnya itu menginap disini, tapi kali ini? Zain tidur satu ranjang dengannya?


Bolehkah Maura berfikir jika semalam Zain menggendongnya dari sofa? Membayangkannya pun tiba-tiba Maura mengulas senyum tipis.


Namun, senyum itu tak bertahan lama. Buru-buru ia bersikap biasa saja saat Zain, suaminya membuka mata.


"Pagi kak," sapanya.


"Hmm," Zain hanya berdehem lalu menyibak selimut. Berjalan cuek ke arah kamar mandi.


Maura pun hanya bisa menghela napas, ia menyusul Zain masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya terbuka, rupanya Zain tengah membasuk muka dan menggosok gigi.


Hari ini adalah hari minggu, bolehkah ia berharap Zain akan mengajaknya keluar sekedar jalan-jalan.


Kini mereka bersebelahan, Maura membasuh mukanya. Akan tetapi, Zain masih terus bersikap dingin dan hanya meliriknya sekilas.


"Kak?" ia bermaksud mengutarakan keinginannya untuk keluar bersama.


"Apa?" jawab Zain tanpa ekspresi.


Maura menunduk dalam-dalam, nyalinya tiba-tiba menciut.


Like komen dan voteπŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2