
Ini hanya tentang kita berdua, kita yang selalu melakukan segalanya sama-sama dan mama sedang menikmati fase ini, fase dimana kamu berada nyaman dalam perut mama..
Mama mencintai kamu, nak..
"Hay sayang, kamu denger mama? mama mau ajak kamu jalan-jalan." Rain mengusap lembut perutnya, mengajak si debay mengobrol seolah mereka adalah teman yang akrab. Saat kesepian, Rain lebih sering meluapkannya kepada si debay, dari mulai mengajaknya mengobrol, menyanyi hingga masak.
Kelak, jika benar anaknya terlahir perempuan. Rain berharap ia bisa menjadi mama sekaligus teman dalam segala hal untuk putrinya.
Dulu, ia tak pernah berniat untuk menikah muda. Tak disangka, diusia 25 tahun ia akan menjadi seorang ibu.
Rain tengah bersiap, hari ini akan ia habiskan untuk jalan-jalan bersama Viona. Sudah lama sejak positif hamil Rain tak lagi bekerja di Blackzone. Bertemu dengan sahabatnya, Viona pun jarang. Hanya beberapa kali jika Viona sempat menyambanginya atau jika Rain dan Radit punya waktu senggang untuk bertemu Dion dan Viona.
Rain sedang mematut diri di depan cermin, dengan beberapa gaun yang bingung harus ia pakai yang mana? Hampir semua gaunnya berukuran kecil, ukuran saat ia belum mengandung.
Dan setelah menemukan gaun yang cocok, Rain bergegas mengganti pakaian.
Jam masih menunjukan pukul sembilan pagi, artinya Radit sibuk-sibuknya di Rumah Sakit.
**
Rain mengambil tas dan dompet. Tak lupa ia mengambil benda pipihnya di atas nakas.
Dicarinya name kontak Suaminya.
To husband 🖤
Sayang, aku izin jalan sama Viona ke Mall, cuma bentar kok. Bolehkan?
Radit : Iya boleh sayang, hati-hati, jangan capek, dan jangan telat makan bee😘
Melihat balasan sang suami, Rain senyum-senyum sendiri, layaknya ABG yang lagi jatuh cinta.
Saat sadar, ada suara mobil memasuki gerbang rumahnya, Rain mengintip dari balkon kamar.
Benar saja, Viona sudah datang.
Rain memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian memoles tipis wajahnya. Lalu menuruni anak tangga pelan-pelan.
Langkahnya terhenti kala Viona sudah berada di dalam rumah, tidak sendiri. Ada Dion di sampingnya.
"Hay, Rain." Viona menghambur memeluk Rain.
"Hmm, kangen aku yak? kangen banget!"
__ADS_1
Dasarnya wanita, memang begitu jika bertemu, bahkan terlihat normal. Andaikan laki-laki yang seperti itu jika bertemu sahabatnya, akan sangat aneh.
"Hay, Yon! Kok lu ikutan si, kan aku berasa jadi nyamuk." gerutu Rain, lalu menatap Viona.
"Tenang aja, dia cuma nganter kita sampai mall. Lo kan tau gue gak bisa bawa mobil." ucap Viona, kemudian meraih tasnya.
"Langsung aja berangkat yuk?"
"Oke hayukk!"
**
Karena tak tega dengan Rain, Viona memutuskan duduk di belakang, menemani sahabatnya itu. Lagi pula, tangannya ingin sekali mengelus perut buncit Rain, kata orang jaman dulu biar cepat nular.
Saat ini, Viona dan Dion masih dalam tahap berjuang, berjuang mendapatkan kepercayaan menjadi orang tua.
Mobil melesat menuju salah satu mall besar di Jakarta.
Begitu sampai di parkiran, dua wanita itu keluar mobil dengan bibir mengukir senyum.
"Dah, bee! Hati-hati pulangnya!" ucap Viona, melambaikan tangan ke arah Dion.
"Okee kalian hati-hati, ada apa-apa langsung telpon aku atau Radit." Dion pun akhirnya melesatkan kembali mobilnya meninggalkan parkiran mall.
"Mbak pesen ini, ini dan ini ya." pesan Rain dan Viona.
Pelayan itu mengangguk, kemudian membuatkan pesanan. Sembari menunggu, Viona dan Rain mengobrol panjang lebar.
"Aaa, aku gemes." Viona mengusap perut Rain, dan debay dalam perut Rain langsung merespon dengan tendangan kecil.
Pelayan datang, meletakkan beberapa makanan dan dua buah orange jus ke atas meja.
"Selamat menikmati." ucapnya lalu membungkuk, melangkah pergi.
"Gila ya lo, badan dua makannya masih aja dikit, emang nggak laper?" terocos Viona setelah mereka selesai makan, biasanya orang hamil makannya dua kali lipat dari porsi biasanya.
Rain menggeleng pelan, "Gak tau, makanku masih biasa aja, cuma ya lebih suka masak nggak suka makannya, bawaan hamil emang gitu ya?"
"Lah mana gue tau, kan gue belum ngerasain." tiba-tiba wajah Viona berubah sendu.
Sebagai sahabat, Rain tau apa yang dirasakan Viona, ia juga ingin seperti dirinya segera diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua.
Pelan Rain mengusap bahu sahabatnya itu,
__ADS_1
"Sabar, suatu hari nanti kamu juga akan menjadi ibu sama sepertiku, kalo kamu nggak sabar nanti jatuhnya malah tertekan. Gini deh, lo harus rileks, bahagia terus dan jaga emosi. Lagian lo dan Dion sama-sama subur dan gak ada masalah, gue yakin secepatnya lo pasti bakal nyusulin kita-kita, but untuk saat ini bahagiain hati lo dulu."
"Iya, thanks ya Rain, belakangan gue emang rada sering debat sih ama Dion, tapi bukan masalah yang besar." Viona kembali tersenyum, baginya quality time bersama Rain adalah kelegaan tersendiri, meski tak segala keluh kesahnya terluapkan.
"Eh belanja yuk, dah lama banget kita nggak belanja bareng, gue mau beli beberapa dress yang agak gedean." ajak Rain.
Viona pun menyetujuinya, setelah selesai makn dan membayar tagihan mereka melanjutkan jalan-jalannya dengan shopping.
Puas berbelanja dan membeli beberapa dress, mereka juga menyempatkan diri nonton bareng, ngegame dan mengelilingi mall.
Waktunya pulang, mereka berjalan keluar mall.
Di luar sudah ada Dion yang menunggu.
**
"Makasih sudah diantar pulang, kalian nggak mampir dulu?" tanya Rain, menawari Dion dan Viona.
"Next time, Rain. Kita pulang dulu." pamit Viona dan Dion bebarengan.
Rain mengangguk, tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Mobil Dion melesat meninggalkan rumah Radit.
Rain hendak masuk, namun terkejut kala mobil Radit sudah terparkir disana. Bukankah ini baru mau menjelang sore?
"Pak, apa mas Radit sudah pulang?" tanya Rain kepada satpam rumahnya.
"Iya, non! katanya kurang enak badan, den Radit."
"Baiklah, aku masuk dulu. Makasih pak." Rain langsung masuk begitu mendengar Radit kurang enak badan.
Rumah tampak sepi, mungkin bi Salis sedang di belakang. Pelan menaiki anak tangga, agak kesusahan ia membawa barang-barangnya, namun dengan kesabaran sampai juga ia di kamar.
Ceklek, Rain membuka pintu. Benar saja, Radit sudah tertidur disana. Dengan selimut menutupi tubuh.
Rain khawatir, ia menepelkan punggung tangannya di dahi Radit, "Tidak panas sih, apa mungkin sakit itu nggak harus panas ya." gumam Rain. Ia bingung harus gimana, menunggu Radit bangun dan memastikan suaminya sakit apa.
Rain memutuskan membersihkan diri, badannya yang lengket membuatnya risih.
Berendam dengan aromatherapy sebentar adalah favoritnya, selain merilekskan juga membuat tubuh menjadi segar dan wangi.
**
Radit membuka mata sebelah, mengintip keberadaan sang istri. Setelah Rain masuk kamar mandi, barulah ia bangkit dan menata kembali sepreinya. Menaburi bunga mawar, lalu dengan cepat mendekorasi kamarnya sederhana.
__ADS_1
Bantu like komen dan Vote ya kakak😘