BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Honeymoon


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dion dan Viona sudah sampai di rumah Radit, mereka akan berangkat liburan ke Malang.


Rain memang sangat menyukai kota malang, sesederhana itu keinginannya. Bagi Rain Malang adalah kota impian, ia ingin sekali memiliki rumah atau villa disana.


Rain keluar rumah bersama Radit, mobil sudah ia persiapkan.


Perjalanan Jakarta - Malang mungkin akan memakan waktu lama, namun itu justru yang membuat gadis itu bersemangat, mungkin akan sedikit melelahkan di perjalanan, tapi mereka percaya semua akan terbayarkan nanti disana.


Pukul tujuh, mereka mulai melesatkan mobilnya, setelah segala persiapan dan tak lupa camilan dan seabrek makanan juga mereka bawa.


Haneymoon sederhana ala Rain dan Radit.


Demi mengurangi rasa suntuk, mereka memilih berada dalam satu mobil.


"Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Dion penasaran.


Radit terkekeh, melirik Dion dari kaca depan dengan mode mengejek, "Tentu, gercep kan?" sahut Radit dan langsung mendapat cubitan mesra dari Rain.


"Sabar ya, kasi aku waktu." ucap Viona merasa bersalah, Dion mengangguk lalu mengusap rambut Viona begitu lembut, "Gapapa, asal kamu nyaman? aku siap nunggu!"


"Jangan lama-lama, Vi." ucap Rain sembari tersenyum.


Hingga saat siang menyapa dan mereka sudah sampai di separuh jalan, mereka memutuskan mampir makan sebentar di Caffe.


"Mau makan apa?" tanya Radit, "Samain mas aja," Radit mengangguk, Dion dan Viona pun begitu, akhirnya mereka memesan menu yang sama.


Beberapa menit kemudian makanan sudah siap, seorang pelayan mengantarkan makanan dan tak lupa senyum sapa.


"Silahkan, dan selamat menikmati kak!" Sapa pelayan itu membungkuk kemudian pamit pergi.


Karena perut lapar, Rain sudah lebih dulu menghabiskan makanannya.


Padahal Radit, Dion juga Viona belum habis separuh.


"Laper banget ya, sayang?" Radit mengusap sisa makanan di sudut bibir Rain, merasa cara Radit memperlakukan Rain begitu istimewa, Dion pun melakukan hal yang sama.


"Aduh bee, pelan-pelan jangan belepotan!" Seru Dion mengusap bibir Viona.


Rain yang melihat tak ada cemong di bibir Viona pun menahan tawanya dengan tingkah Dion.


"Iyakah?" sontak Viona mengeluarkan kaca kecil dari tasnya dan bercermin.


**


Selesai makan, Radit meminta bil kepada pelayan lalu membayar semua makanan.


Bukan karena apa, tapi Radit memang seperti itu, Dion pun sebenarnya juga sama.

__ADS_1


Sedangkan yang lain menunggu Radit di parkiran.


Rain sudah tak sabar untuk sampai di Kota Malang, padahal perjalanan masih jauh.


Seperti biasa, Radit membukakan pintu mobil untuk Rain, bahkan juga memasangkan belt untuk istrinya.


Sedang dua sejoli di belakang hanya memperhatikan.


"Ceh, lama-lama kita berubah jadi nyamuk bee!" Seru Dion, "Gapapa nyamuk, asal mereka berdua bukanlah cicak." Viona terkekeh pelan.


"Cehh, mati saja kalian." canda Rain.


Mobil kembali melesat, dan hanya butuh beberapa jam untuk mereka sampai di Kota Malang, kota yang indah nan sejuk.


**



Sampailah mereka di Villa yang akan mereka sewa. Villa sederhana pilihan Rain dan Viona.


Radit juga Dion merasa beruntung memiliki istri yang tak pernah gelap mata oleh materi, baik Rain maupun Viona, mereka adalah dua wanita polos yang sederhana, memiliki sifat lembut dan sayang juga manja. Meski sederhana, Villa itu memiliki view pemandangan yang menarik, hal itu yang sangat disukai oleh Rain dan Viona, pemandangan indah gunung dengan udara sejuk dan menyegarkan sepertinya akan sangat menyenangkan bagi mereka.


Menjelang sore, mereka memilih istirahat ke kamar karena badan yang sangat lelah dengan perjalanan.


Makhlumi saja Jakarta - Malang bukan jarak yang cukup dekat.


Mungkin Rain benar-benar lelah, mengingat dari pernikahan, langsung ritual malam tertama dan sekarang lanjut perjalanan haneymoon.


**


Sementara itu, di Kamar, Dion sedang membujuk Viona agar mau memenuhi haknya yang tertunda, dengan jurus rayuan maut, akhirnya dengan wajah merona malu Viona pun mengangguk.


"Benar, bee kamu dah siap?" tanya Dion antusias.


Viona mengangguk dengan senyum yang ia sembunyikan.


"Iyaa, maaf sudah membuatmu menunggu lama, bee!"


"Gapapa sayang, pelan-pelan kamu akan terbiasa!" Dengan senyum yang terus merekah, Dion melancarkan aksinya.


Menanggalkan satu demi satu pakaian milik Viona, sampai tak menyisakan sehelaipun.


"Jangan takut, aku akan melakukannya dengan lembut!" Dion mendekat, dan mulai mencium bibir mungil Viona, turun ke leher hingga menciptakan jejak kissmark disana.


Belum hilang penasaran, serta Dion yang merasa tak ada penolakan dari istrinya, ia langsung melancarkan aksinya.


Setelah lama mencoba, akhirnya dalam satu hentakan terakhir ia berhasil menerobos pertahanan milik sang istri, hingga Viona meringis sembari mencengkram kuat punggung Dion.

__ADS_1


Rasa sakit itu berangsur hilang, berganti dengan suara-suara indah saling memanggil diantara keduanya.


Namun sayangnya, tangan Viona sempat melukai punggung Dion hingga menciptakan bekas cakaran.


"Tak apa, bee asal kamu bahagia aku rela kamu cakar seperti ini." bisik Dion setelah keduanya usai ritual.


"Maaf, membuat punggungmu sakit." Viona masih saja merasa bersalah, padahal jika ia berjalan atau bangkit pasti ia juga merasakan sakit, bahkan lebih sakit dari yang Dion rasakan.


Dion tersenyum puas sembari memeluk sang istri, akhirnya ia bisa benar-benar berbulan madu kali ini.


**



Sore harinya, Rain dan Radit sudah membersihkan diri, Rain memoles tipis wajahnya di depan cermin.


"Mau jalan-jalan?" tawar Radit, "Kemana?" tanya Rain, sebenarnya ia masih lelah tapi jika itu bersama orang yang dicinta, akan selalu menyenangkan.


"Emhh, rahasia dong." bisik Radit dengan senyum menggoda.


"Aisssh bikin penasaran, bentar ya aku siap-siap dulu!"


"Udah gini aja, istriku akan selalu cantik!" Bisik Radit lagi, lalu mencium pipi Rain sekilas.


Mereka berdua berjalan sembari bergandengan tangan keluar kamar sambil sesekali saling melempar senyum, namun sebelum menuruni tangga mereka sempat melirik ke arah kamar Dion dan Viona yang letaknya hanya bersebelahan dengan milik Radit dan Rain.


"Ajak mereka nggak, apa kita bangunin aja?" tanya Rain meminta pertimbangan.


"Jangan, mereka pasti lelah!" tolak Radit.


Tapi Rain memang begitu, jika tak mengajak ia merasa tak enak hati dengan Viona mengingat Viona adalah sahabatnya dan mereka liburan kesini juga sama-sama.


"Tapi sayang," Rain ragu, namun saat Radit menutup bibir Rain dengan telunjuknya, saat itulah Rain diam.


"Mereka melakukannya, sudahlah tak apa, tak usah gak enak hati sayang mereka lelah." ucap Radit dengan senyum, dan Rain langsung paham.


Mengingat malam pertama rasanya amat sakit, Rain menarik Radit dan mengajaknya segera pergi.


Sampailah mereka di kolam privat yang ternyata sudah Radit persiapkan untuknya.


"Aku ingin menikmati wine ini bersamamu," Radit menyuruh Rain duduk dan menuangkan wine sedikit untuk istrinya, lalu menuang lagi untuknya.


"Aku tidak bisa minum banyak." ucap Rain.


"Aku tahu, aku tidak sedang menyuruhmu minum banyak, kita nikmati sedikit demi sedikit." Radit tersenyum lalu mengajak Rain bersulang.


Suasana yang syahdu dan ditambah semilir angin membuat mereka sangat bahagia, otak pun terasa dingin dengan sejenak melupakan masalah serta fikiran yang ada.

__ADS_1


Hari ini dan beberapa hari berikutnya akan mereka nikmati dengan bersenang-senang.


__ADS_2