BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
BPC S2 - Sandiwara Reynan


__ADS_3

Jangan bangga jadi orang kedua. Jangan bangga jadi orang ketiga. Jangan bangga jadi orang yang ada diantara hubungan orang lain. Karena kalau di pikir-pikir kamu cuma si murah, yang tau dimana kesalahanmu tapi bertingkah seakan kamu tidak bersalah!


MauraAnnajira_


Tulis Maura di instastory, dan itu berhasil membuat Aurora tersinggung.


"Oke, aku memang orang ketiga, tapi akan jadi yang pertama dan satu-satunya milik Reynan!" Gumamnya, sembari memandangi story Maura beberapa menit yang lalu. Gadis itu berdecak kesal, sembari terus mengumpat. Setelah membuat apartemennya kacau balau kini ia memutuskan memanggil seseorang untuk membereskan apartemennya.


***


"Ayah, kenapa tidak menelponku kalau Rey datang kesini," Maura memasang wajah manis, lalu duduk di sisi Reynan.


Sedangkan Zain, ia cukup terkejut dengan Maura yang tiba-tiba berubah sikap, padahal tadi gadis itu enggan masuk ke dalam rumah karena kedatangan Reynan.


Reynan mengukir senyum, lalu menatap Maura.


"Gapapa sayang, lagian ayah sudah menjelaskan kalau kalian saudara." ucap Reynan, dan Radit pun mengiyakan.


"Zain duduk dulu, nak!" pinta Radit, namun sepertinya Zain merasa canggung jika berada ditengah-tengah antara mereka.


"Em, saya pulang aja om. Takut papa nyari, lagipula Nora kan sekarang tinggal sendiri jadi kasian mama nggak ada temennya kalo papa lagi sibuk." Alibi Zain, lalu pamit, mencium tangan Radit. "Salam buat mama, papamu ya!" ucap Radit akhirnya, dan diangguki oleh Zain.


"Loh, Zain mau pulang?" tanya Rain dari arah dapur dengan membawa minuman.


Rain meletakkan minumannya diatas meja, "Kok buru-buru, kenapa?" sambungnya lagi kepada Zain.


"Nggak papa tante, kasian mama." Zain kemudian pamit kepada Rain, lalu kepada Maura, akan tetapi matanya menangkap tatapan sinis Reynan.


"Bye tant, om, Mar." ucapnya sembari melambaikan tangan lalu melangkah pergi.


**


Hari ini, Zain dan kedua orang tuanya dikejutkan dengan kepulangan Nora pulang ke rumah. Hal itu membuat Zain senang bukan main. Namun, saat tau Nora bersama seseorang, Zain diam seribu bahasa.

__ADS_1


Melihat sang papa acuh dan tetap egois, saat si pemuda itu melamar Nora, hati Zain merasakan sakit. Sebegitu egoiskah sang papa? Namun, Nora tetaplah Nora, sifat kerasnya mirip dengan papa, sama-sama memiliki ego yang tinggi.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Zain dan Nora mengiyakan.


Zain hanya bisa pasrah, lalu meminta kepada laki-laki yang bernama Devano untuk menjaga saudara kembarnya dengan baik.


Rupanya Nora pulang bukan untuk tinggal, melainkan hanya meminta izin. Dan gadis kecilnya kembali pergi dengan segala penolakan sang papa.


Zain membawa Kenia ke ruang tamu dan menenangkannya, ia bertekad untuk menghampiri sang papa yang sudah naik ke lantai atas karena kecewa.


Sementara Shaka, mengerang frustasi.


Zain mendekat kepada papa, ia tahu masalah apa yang papanya pikirkan saat ini.


"Pa, apa papa tidak bisa minta bantuan kepada om Radit atau paman Sam." Saran Zain, ia harap sang papa bisa berfikir jernih dan tak lagi memaksa Nora.


Shaka berbalik, menatap Zain.


Zain mengerutkan alisnya heran, "Aku?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu harus menikah dengan Maura." Sebenarnya tanpa Shaka minta, Radit pasti akan membantunya, meskipun Radit bukan pembisnis. Tapi jika dengan Shaka, ia tak segan-segan.


"Aku mau, asal papa tidak memaksa Nora menikah dengan Alan." ucap Zain akhirnya.


Keputusan terberat Zain, namun mau tak mau ia harus setuju demi kebahagiaan Nora. Mungkin, memang sudah jalan dari Tuhan seperti ini, ia lebih rela dijodohkan tanpa cinta ketimbang harus Nora yang mengalaminya.


**


"Diminum nak Rey, gimana kerjaannya apa lancar?" tanya Radit.


"Lancar yah, maaf akhir-akhir ini Rey sibuk jadi jarang menemui Maura." Dasar memang Rey si Aktor handal, pintar sekali berakting. Maura sebenarnya muak, namun ia harus membuat Reynan terlena dengan sikap manisnya.


Bukankah orang seperti Rey harus dibalas dengan cara halus, agar nanti sakit hatinya lebih ngena?

__ADS_1


"Gak papa, Maura pasti ngerti, iyakan nak?" Radit menatap Maura, dan langsung diangguki oleh anak gadisnya.


"Makanan siap, makan dulu yuk yuk." ajak Rain dengan ramah. Jika biasanya Reynan menjadikan buru-buru, urusan penting, syuting dadakan sebagai alasan, entah kenapa ia kini justru terlihat betah berlama-lama di rumah Maura. Maura harus ektra sabar saat merasakan sakit dan muak di hatinya secara bersamaan.


"Aku ke kamar bentar ya Rey," pamitnya kepada Reynan saat orang tua Maura sudah lebih dulu ke meja makan. Sedangkan Reynan,menunggu Maura di ruang tamu meski sudah diajak oleh Radit agar menunggu Maura di meja makan.


Sampai di kamar, Maura kembali mengikat rambutnya tinggi dan tak lupa memakai kacamata kudanya. Lalu kembali turun ke bawah.


"Ayo." Ajak Maura, Reynan terkesiap, saat melihat Maura kembali memakai kacamatanya, namun ia enggan menunjukkan ketidak sukaannya dengan penampilan Maura yang seperti ini.


"Loh, kok dipakai lagi kacamatanya sayang?" tanya Rain, menatap anaknya penuh tanda tanya.


"Maura nggak bisa kalo nggak pakai kacamata ma, nggak jelas." alibinya.


"Makhlumi aja Rey, sudah kebiasaan Maura setiap hari." terang Radit, Reynan pun mengangguk sembari tersenyum, senyum terpaksa pastinya.


Mereka makan dengan hening, hanya suara sendok dan garpu yang bersahutan.


Selesai makan, Reynan meminta izin bicara empat mata dengan Maura, dan Radit pun mengiyakan. Maura mengajak Rey ke taman samping rumah.


"Apa yang mau kamu jelaskan, bukannya aku bilang kita udah selesai ya?" cerca Maura dengan napas tersengal.


"Nggak akan, aku cinta sama kamu Mar." jawab Reynan. "Ceh, omong kosong apalagi." singkat Maura, entah Reynan pun terkejut dengan sikap Maura yang berubah secepat itu.


"Aku janji, cuma kamu Maura, cuma kamu yang aku cintai." akunya memohon, sementara Maura seperti memiliki kekuatan, ia tegar dan kuat jika di hadapan Reynan.


"Aku mohon berhenti bersandiwara di depan orang tuaku."


"Aku tulus sayang, sumpah!" Reynan sampai mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


"Ketulusan macam apa yang kau punya, hm??? Pulanglah, dan berhenti sampai disini, kita akhiri semuanya, toh Aurora sangat menginginkanmu!"


"Aku cuma mau kamu sayang." nada Reynan sudah memelas, namun keteguhan Maura untuk tidak jatuh ke dalam luka yang sama patut diacungi jempol, "Jangan harap, aku bukan lagi Maura yang dulu." Sia-siakah sandiwara Reynan? Kenyataan meluluhkan hati Maura kembali tak semudah dulu saat pertama kali ia membuat Maura jatuh hati, menyesalkah Reynan menyakiti Maura? Pemuda itu berjalan lesu, saat Maura meninggalkannya sendiri di taman rumahnya, tanpa pamit ia pulang dari rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2