
"Gue Elkan."
Radit memijat pelipisnya, sesaat kemudian ia menepuk balik bahu Elkan.
"Iya iya gue inget, apa kabar brother seperjuangan dulu?"
Ia menuangkan wine untuk Elkan dan mengajaknya bersulang.
Dion asyik menggoda Viona yang malu-malu, sedang Rain justru menatap mereka bergantian.
"Gimana kabar lo sama Ken?" pancing Elkan, padahal jelas ia tahu jika Kenia sudah menikah dengan laki-laki lain.
Rain yang sedari tadi menyimak, lagi harus menekuk wajahnya. Sepertinya setiap tempat dan setiap teman mungkin akan selalu mengingatkan masalalu kekasihnya.
"Gue udah gak sama Ken ia, dia udah merried sekarang," Radit tersenyum.
Setidaknya Rain lega, raut wajah laki-laki itu menggambarkan bahwa ia sudah terlepas dari masalalu.
"Wait????"
"Hay sayang, jangan cemburu yaaa... dia hanya enggak tahu." jelas Radit, pandangannya terarah pada bartender cantik yang sedang menunduk malu karena wajahnya sudah bersemu merah.
Elkan mengikuti arah pandang Radit, " Dia pacar mu?"
Radit mengangguk...
"Sorry brat, gue tadi enggak tau sumpah."
"Kalo tau dia cewek lu, kaga bakal gue godain."
El mengangkat dua jarinya ke atas membentuk huruf V,
"Gapapa, El."
"Ngomong-ngomong, gue minta maaf karena mancing lo soal Kenia," El menjeda ucapannya.
"Why???" tanya Radit.
__ADS_1
"Ya, jadi gue tahu kalo Kenia udah nikah, gue ketemu di Bali men, dah lama banget, gue juga sempet gantiin Arin meriksa dia, dia hamil siii mungkin sekarang dah lahiran." Cerita Elkan.
"Iyaa si dah lama banget aku enggak ketemu Ken, ya lo tau kan dia nikah sama siapa, dan sejak saat itu gue jadi jauh sama keluarga gue satu-satunya."
Rain hanya menyimak, sembari membuat beberapa minuman pesanan.
"Emangnya dia nikah sama siapa men, keknya pengusaha kaya ya." pikir Elkan.
Radit menghela nafas, lalu menghembuskannya pelan, ia sudah move on dan melupakan semuanya, ia cukup menjaga jarak dengan keluarga om Wira. Tapi jika Elkan itu belum tahu, ia tak akan berhenti bertanya sedangkan Rain sudah menekuk wajahnya, Radit tahu perasaan gadis itu jika mendengar ia membahas Kenia.
"Gini El, sebenarnya gue enggak mau bahas Kenia lagi."
"Lah iya gue penasaran aja, kan lo sama dia itu yaaaa... "
"Iyaaaa, tapi ya kembali semua itu bukan takdir. Kenia nikah sama sepupu gue dan gue sekarang udah bahagia sama Rain, mungkin juga gue gak butuh waktu lama buat nikahin dia."
Elkan menepuk pelan pundak Radit, " Okeee gue sebagai temen cuma doain yang terbaik buat elo, kita emang enggak tahu takdir selanjutnya seperti apa, tapi gue yakin lo pantes bahagia dan dapetin cewek secantik Rain."
"Thanks brat..."
"Gue cabut dulu yaaa," El pamit kepada Radit, juga pada Dion, El memang memiliki sikap friendly.
Sementara orang-orang lebih suka berjoget di area dance floor.
Dentuman dj semakin memekakkan telinga, hawa semakin panas.
Malam makin larut, justru pengunjung club semakin rame.
***
"Enak banget si kerjaan mereka, kita yang repot sementara mereka di manjakan." Neta mengomel sendiri.
"Iyaa tuhhh, kerja apa pacaran tuh." sahut pelayan lainnya.
Neta semakin tersulut kalau melihat Dion sedang menggoda Viona.
"Dasar sama aja mereka, tukang goda." omel Neta.
__ADS_1
Andre menghampiri Neta, " Ngapain sih ngomel-ngomel gak jelas."
"Noh liat pujaan hatimu," tunjuk Neta pada Rain.
Andre pun melihat ke arah Rain, ia melihat wanita yang ia suka sedang bersama laki-laki, ia laki-laki yangs sering menjemput Rain, laki-laki yang membawa Rain waktu pingsan kala itu.
Namun Andre selalu menepis jika laki-laki itu kekasih Rain, ia selalu menyakinkan diri jika laki itu hanyalah teman pujaan hatinya sama seperti hubungan Rain dan Dion.
"Dia bukan pacarnya Rain." Sanggah Andre.
"Lo goblok apa buta sih Ndre, jelas mereka pacaran hmmm."
Neta berusaha menyadarkan Andre, ia sebenarnya tak tega jika Andre terus berharap pada Rain yang kenyataannya enggak akan kesampaian.
Ia cukup merasakan sakit hati berharap sama Dion, dan ia tak mau Andre bernasib sama seperti dirinya.
"Ndre, mereka pacaran. Gue lihat dengan mata gue sendiri mereka jalan-jalan ke Mall berdua. Gue cuma ga mau lo berharap sama Rain yang akhirnya hanya akan mematahkan hati lo, seperti gue berharap ke pak Dion."
"Gue tahu Net, Rain cuma angan. Dia adalah bintang yang gak akan pernah bisa gue Raih."
"Dan makasih udah nyadarin gue." Andre berlalu, ia memilih pergi ke tempat yang mungkin tenang untuk dirinya.
Neta mematung, ia sungguh terharu dengan ketulusan Andre, ia sadar selama ini keinginannya hanyalah obsesi semata.
Ia hanya ingin memiliki boss nya, bukan mencintainya dengan tulus.
"Gue harus minta maaf sama Rain, dia enggak salah apa-apa."
"Ngapain si lo minta maaf Net, haaa." teman sebelahnya menyambung.
"Ya karena Rain enggak salah, gue selama ini cuma..."
"Cuma apa hhhaaa?" potong temannya cepat.
.
.
__ADS_1
.
like komen dan votenya kakak🥳