
Club masih sepi, namun para pekerja sudah datang.
Termasuk Neta, Vio, Andre juga yang lain.
Rain sendiri sudah berada di club sejak tadi bersama Dion.
Dan saat Neta berada di ruang belakang, tepatnya ruang yang Dion siapkan khusus untuk pekerja nya yang ingin duduk, istirahat atau sedang bersiap.
"Wah..wah.. Miss Neta sudah datang." entah keberanian atau kebencian.Sorot mata Rain seolah ingin menabuh genderang perang.
Neta yang merasa tak punya salah pun menatap Rain heran.
"Lo pasti herankan." Rain memiringkan senyum.
Tangannya membawa gelas berisikan wine.
"Ehh maksud lo apaan heh, gue udah gak ada urusan sama lo." Neta berujar.
"Salah lo itu satu, yaitu berurusan sama gue!
Ck! Apa lo pikir gue enggak tau akal picik lo menjadikan Andre menjebak gue, tanpa mengotori tangan lo." Rain memainkan gelas itu.
"Andre, jebak lo? hish jangan asal nuduh ya."
"Demi apa sih lo kek gitu, demi ngedapetin cintanya Dion??? hahahhaha." tawa Rain menggelegar.
Dan..
Satu!
Dua!
Tiga!
Byurrr....
Rain menyiram tepat muka Neta dengan segelas wine yang sedari tadi dimainkan Rain.
__ADS_1
Sontak Neta tersulut emosi namun belum sampai melawan, Rain sudah lebih dulu menjambak rambutnya.
Akhhh! pekik Neta kesakitan, "Kalo lo mau ngerusak hidup gue demi dapetin cintanya Dion. Gue harap lo segera bangun dari mimpi konyol lo yang gak akan pernah terwujud itu." Rain menguatkan jambakannya.
"Sa.. sakit." rintih Neta kesakitan.
Andre yang waktu itu melihat Neta dijambak Rain mencoba melerai.
"Rain cukup, jangan gini. Kenapa kamu jadi sekasar ini sih." Andre berusaha menengahi.
Namun Rain justru menatapnya dengan tatapan tak kalah tajam.
"Rain... kita bisa omongin baik-baik, kalian ada masalah apa sih ?" tanya Andre masih heran.
"Cewek murahan kek lo emang pantes dihancurin." pekik Neta.
Plakkkk!
Tamparan keras buat Neta, ia terhuyung hingga hampir jatuh, namun Andre buru-buru menolongnya.
Rain tersenyum smrik, ia mendekatkan wajahnya ke arah Neta.
Lalu seketika Rain kembali berubah dingin, dengan tatapan tajam.
"Lo boleh bangga karena malam itu, lo beruntung banget pulang diantar Dion. Boss idaman lo." Rain menjeda ucapannya.
"Tapi asal lo tau Neta, yang ngasi tau gue soal siapa yang menjebak gue dengan air minum andre waktu itu adalah Dion. Dion ngasi tau gue, lewat cctv club ini. Apa lo pikir setelah ini lo masih bisa dapetin dia,hmmm???"
"Maksud kamu, minuman apa?" Andre masih belum paham.
"Lo tanya sendiri tuh sama Neta, dan gue sih gak peduli ya sama nasib miris lo sekarang. Karena mungkin pandangan Dion saat ini ke elo itu lebih ke jyjyk." Rain tertawa jahat.
Hari ini ia sudah seperti kesetanan karena emosi, sudah cukup lemah lembutnya. Karena Neta selalu mencari masalah dan selalu meremehkan Rain.
Rain meninggalkan ruangan itu, lalu bergabung bersama Vio di bar depan.
Rain memulai aktivitasnya meracik minuman.
__ADS_1
"Lo tadi dari mana Rain?" tanya Vio penasaran.
"Habis ngerjain si cucunguk."
"Siapa cucunguk?" tanya Vio heran.
"Siapa lagi kalo bukan Neta, musuh gue juga cuma itu." Sahut Rain dengan tangan masih sibuk meracik minuman.
Sejenak Rain membuka ponselnya, siapa tau ia mendapat pesan dari Radit.
Radit : Rain semangat kerja, nanti aku jemput🖤
Rain senyum-senyum sendiri bacanya, padahal jelas itu bukan kalimat rayuan atau ungkapan cinta. Hanya emot berbentuk hati di pesan Radit nyatanya mampu memporak-porandakan perasaannya.
"Iya iya yang kasmaran." sinis Vio.
"Biarin welkkk, iri bilang bosss." Rain menjulurkan lidahnya kearah Vio.
"Hilihhh, kaga ngiri gue! jomblo lah bisa apa selain turut bahagia." senyum Vio.
Rain mendekat ke arah Vio, "Asal jangan kek si cucunguk itu aja, gue mah lebih bangga ke elo yang jomblo dari pada orang macam cucunguk Neta itu, yang ngehalalin segala cara buat menjebak musuhnya."
"Fix lo sahabat terbaik gue Rain." Vio memekik senang lalu memeluk Rain.
Gemerlap lampu disco serta dentuman musik dj seperti hiburan tersendiri bagi Rain, baginya bekerja di club cukup menghibur.
Apalagi berada diantara dua sahabatnya itu, Viona dan Dion.
Hingga waktu menunjukkan hampir pagi, orang-orang mulai pergi meninggalkan club.
Radit telah menunggu Rain di depan club Blackzone.
"Mas Radit.." Rain memanggil laki-laki itu dengan nada manjanya.
Sedang Radit yang bersandar di mobil, mengulas senyum ke arah Rain.
"Sudah lama?" tanya Rain
__ADS_1
Radit menggeleng, baginya seberapapun waktu yang ia buang asal itu demi Rain, ia akan melakukannya.
Sudah cukup dulu ia tak punya banyak waktu untuk Kenia, ia tak ingin hal itu terulang lagi terlebih bersama Rain.