BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
BPC S2 - Kecemburuan Reynan


__ADS_3


Maura merasa jenuh, saat orang-orang terdekatnya terasa jauh. Dulu, ia dan Aurora sangatlah dekat, tapi ujung pun tak kan menyangka jika hubungannya dengan putri sahabat ayahnya akan memburuk karena seorang laki-laki bernama Reynan. Nora, Maura sendiri tak paham kenapa Nora memilih pergi dan menolak keras perjodohan orang tuanya. Zain, Zain memang dekat dengannya namun tak membuat perasaan sepi di diri Maura menghilang, jujur Maura rindu saat-saat bersama Reynan. Saat laki-laki tampan itu terus membuatnya tersenyum tanpa rasa canggung, tertawa lepas bebas tak berbatas.


"Rey, apa aku harus memberimu kesempatan?" gumam Maura pelan, merasa jenuh gadis itupun pergi bermaksud menghibur diri dengan jalan-jalan di salah satu Mall terbesar di Jakarta.


Baru beberapa langkah memasuki Mall, seseorang tanpa sengaja menyenggol bahunya hingga membuat ia terhuyung dan hampir jatuh. Lalu dengan sigap pemuda itu meraih pinggang Maura dan menahannya agar tidak terjatuh. Sesaat kedua netra itu beradu pandang, lalu buru-buru Maura bangkit.


"Maaf," ujar Maura, "Iya gak papa, aku yang minta maaf." ucap pemuda blasteran korea dengan senyum tipis.


Gegas Maura melanjutkan langkahnya, memasuki mall.


"Cantik." gumam si pemuda dengan bibir tersenyum tipis.


***


Setelah puas mengelilingi mall, kini Maura memilih duduk di salah satu meja di sudut foodcourt untuk makan siang, sendiri tentunya.


"Boleh aku duduk," ucap seseorang, Maura seketika mendongkak. " Kamu yang tadi kan?" tanya Maura, cowok itu mengangguk," Tempat duduknya penuh." ucapnya dengan seulas senyum.


"Duduklah, lagi pula aku sendiri." tutur Maura ramah. Sembari menunggu makanan datang, pemuda itu mengajak Maura mengobrol.


"Bara." Ucapnya mengulurkan tangan, berharap Maura menyambutnya.

__ADS_1


"Maura," ucap Maura lalu mereka bersalaman.


Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang, "Makasih." ucap Maura kepada pelayan pengantar makanan itu. Sesaat Bara terpaku akan sosok gadis manis di hadapannya, lalu sesegera mungkin menyentuh makanannya untuk menetralisir rasa gugup yang mendera.


Maura pun sama, ia dengan santai mengunyah makanannya tanpa merasa terganggu akan adanya Bara yang duduk di depannya.


Hingga makanan keduanya tandas, barulah Bara membuka suara.


"Tinggal dimana, Maura?" tanya Bara yang merasa penasaran akan bidadari di hadapannya. Ya, bagi Bara Maura layaknya bidadari di siang hari.


Senyumnya mampu menggetarkan setiap insan yang memandang, bibirnya merah bak buah chery membuat mata siapapun yang memandang tergoda akan pesonanya.


"Di daerah komplek Mutiara blok B, kalau kamu?" tanya Maura, "Di Apartemen bilangan Cempaka." sahut Bara, dengan seulas senyum pastinya.


Saat mereka sedang asik mengobrol, dari kursi yang berjarak dua meja, Rey mengepalkan kedua tangannya kesal.


"Tuan, jari-jarimu luka, apa tidak sebaiknya diobati." ucap salah seorang pelayan perempuan.


Maura yang beranjak hendak pergi pun sontak menoleh, tubuhnya membeku kala netranya menatap sosok Reynan yang sedang meringis di meja tak jauh darinya.


"Rey." gumamnya tanpa sadar, "Rey?" Bara menautkan alisnya, "Eh, tidak-tidak." sahut Maura cepat.


"Makanannya biar aku yang bayar, kamu pulang aja." ucap Bara akhirnya, "Eh, gak bisa gitu! Kita kan baru kenal," tolak Maura.

__ADS_1


"Gak papa, anggap aja salam perkenalan." Ucap Bara, "Itu temenmu kan? tolongin, kasian tangannya luka." sambung Bara sembari menunjuk cowok yang kini menatap ke arah ia dan Maura dengan sorot mata kesal.


"Kamu gak papa?" tanya Maura, lalu duduk dihadapan Rey, Maura meminta kotak p3k yang tersedia di foodcourt itu, lalu gegas mengobati tangan Reynan yang terluka.


Maura memang sebaik itu, bahkan untuk bersikap tidak peduli kepada orang yang sudah menyakitinya pun tidak bisa.


"Gak papa, makasih sayang sudah diobatin." ucap Reynan, Maura menghembuskan napas kasar, lalu menatap mata Reynan lekat.


"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." tegasnya tanpa ekspresi. Reynan menggenggam tangan Maura, namun segera Maura menepisnya dan gegas beranjak.


"Jauhkan tanganmu dari calon istriku," ucap seseorang dengan begitu dingin dan sorot mata tajam. Keduanya tersentak, saat melihat berdiri tubuh kekar Zain disana.


"Kak, kamu sudah datang?" lalu gegas Maura merangkul tangan kekar Zain. Reynan yang melihat adegan itu semakin terbakar cemburu.


"Jadi kamu beneran udah sama dia, ceh murahan! Baru putus denganku sudah dapat yang baru, apa ini caramu menarik perhatian lelaki." dengan penuh amarah, Reynan mencerca Maura.


"Jaga bicaramu," Zain menarik krah kemeja Reynan dengan emosi.


"Udah kak, biarin aja. Udah, dia bicara seolah dialah manusia paling baik, tanpa mau bercermin sedikitpun dan melihat betapa menjijikkannya dia, udah ayo pergi." ajak Maura, ucapan Maura barusan benar-benar membuatnya mengerang frustasi.


***


"Bentar lagi, Nora akan menikah. Dan setelah itu, papaku dan om Radit berencana..." Zain menjeda ucapannya, lalu menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Iya tahu," santai Maura tanpa beban, "Syukurlah kalau Nora akhirnya menemukan kebahagiaannya."


"Kita bagaimana?" tanya Zain, dua orang itu kini sedang menikmati es crim, di salah satu sudut mall.


__ADS_2