BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
BPC S2 - Kecewa


__ADS_3


Maura Annajira, gadis berusia 23 tahun dengan rambut panjang tergerai, hidung mancung serta lesung di pipinya. Maura, gadis cantik yang menjelma menjadi gadis cupu berkaca mata kuda.


Maura kini sedang menekuni hoby di bidang desain, sesuai dengan bidang kuliahnya.


Keinginannya kelak, adalah membuat baju pengantin untuk dirinya sendiri, gadis ceria milik pasangan Radit dan Rain itu kini sudah benar-benar berubah menjadi wanita dewasa.


"Halo, Maura?" sapa Zain akhirnya melalui videocall watshapp.


"Hallo kak Zain, ada apa?"


"Apa Nora disitu? ah maksudku apa Nora bersamamu atau kamu tahu dimana keberadaan Nora?" tanya Zain, penuh harap.


Maura menggeleng, "Enggak kak, emang ada apa dengan Nora, sudah dua hari ia tak mengirimku pesan." Seru Maura.

__ADS_1


"Gapapa, yaudah met istirahat! sorry ganggu." belum sempat Maura menjawab, Zain sudah lebih dulu mematikan sambungan Video callnya.


Maura menghela nafas kasar, entah kenapa setiap bicara dengan Zain, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Sejak awal, ia sudah merasa canggung. Enggan mengakrabkan diri dengan sosok Zain Alexan. Jodoh dari kecil, kata sang Ayah.


Maura melesatkan mobilnya, hari ini ia begitu suntuk hingga ingin melepaskan diri sejenak dari rasa penat. Tujuannya kali ini adalah pantai.


"Hallo, Rey? gimana? Emm, yaudah gak papa." Maura menutup telepon, tak bisa dipungkiri, saat ini hatinya sedang kecewa. Sebelumnya, Maura mengirim pesan kepada Reynan. Mengajak kekasihnya itu menikmati senja di pantai, namun lagi-lagi Maura harus kecewa. Reynan sang kekasih selalu tak punya waktu untuknya. Reynan selalu sibuk dengan urusan syuting hingga tak memiliki sedikit pun waktu untuk Maura.


Tiba-tiba ia ingat akan perkataan sang Ayah waktu itu.


Maura menggeleng pelan, "Ayah, apa karena aku terlalu mencintainya hingga rasa kecewa itu hadir, apa aku sudah benar-benar menjatuhkan hatiku hingga rasanya sesakit inu." monolog Maura, sesekali ia memukul stang kemudi karena kesal sebagai pelampiasan.


Maura memarkirkan mobilnya begitu sampai di parkiran pantai, suasana hatinya sedikit lebih tenang. Bagi Maura, saat sedih ia lebih menyukai kesendirian. Dengan gontai ia menyusuri bibir pantai, ombak menggulung menerpa kakinya ia hiraukan. Maura ingin meluapkan semuanya disini, di pantai ini. Memupus segala rasa kecewa, untuk sekian kalinya.

__ADS_1


**


Zain menyusuri pantai, saat sedang lelah mencari keberadaan Nora. Ia ingin sekali menenangkan fikirannya. Namun pandangannya tertuju pada gadis familiar yang sedang berjalan sendiri di bibir pantai.


"Maura?" Dahi Zain mengernyit, apakah ia hanya berhalusinasi membayangkan Maura berada di pantai ini?


Ragu, ia harus mendekat atau mengabaikan. Dan saat ombak besar datang, dan hanya gadis itu yang tetap berada di tempat, segera Zain berlari.


Zain menangkap gadis itu dan membawanya ke tempat yang aman dari jangkauan ombak.


"Hati-hati, nyawamu bisa hilang jika tidak memperhatikan ombak." Seru Zain, dengan nafas tersengal.


Maura mendongkak, menatap lekat laki-laki yang telah menyelamatkannya.


Seketika dua netra itu saling tatap begitu lama.

__ADS_1


"Kak Zain," ucap Maura masih dengan keterkejutannya.


Dua insan itu masih dalam posisi duduk dan saling memeluk pinggang tanpa sadar.


__ADS_2