
Maura gegas meraih handle pintu dan membukanya, wajah teduh sang mama yang menenangkan membuat Rain tak kuasa menghambur ke pelukan wanita paruh baya itu.
"Ma," lirihnya terisak-isak.
Rain mengusap lembut punggung putrinya, lalu membawa Maura masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Kenapa sayang?" tanya lembut Rain, setelah dirasa Maura tenang.
"Salah Maura apa, ma? kenapa Maura selalu disakiti, kenapa Maura gak pernah sedikit saja merasakan bahagia." ucapnya meluap-luap, tangisnya pecah saat itu juga.
Deg! Rain tertegun dengan penuturan putrinya.
Apa selama ini kamu tidak bahagia, nak..
Apa kamu sebenarnya tidak mau dijodohkan, kamu memaksakan diri demi menghindari Reynan?
Ya Allah,
Rain menutup mulutnya tak percaya, ia langsung merengkuh kembali Nora dalam pelukan.
"Maafin mama sayang, maafin mama. Karena kesalahan mama di masalalu, kamu seperti ini, maafin mama. Semua salah mama sayang." Rain ikut menangis, hingga suara pintu kamar terbuka mengagetkan keduanya.
"Ayah," Maura langsung mengusap air matanya dan tersenyum, menghampiri sang ayah.
"Putri ayah kenapa, hm?"
Maura menggeleng sembari tersenyum.
"Maura kangen sama ayah dan mama, makanya kak Zain anter Maura menginap disini, iyakan ma?" ucap Maura melirik sang mama, memberi isyarat agar mengangguk saja.
__ADS_1
Radit tersenyum memeluk putrinya, "Ayah kangen sama putri ayah." kemudian mengacak rambut Maura gemas. Bagi Radit, Maura masih sama. Ia masih gadis kecil kesayangannya, meski kini tanggung jawab Maura ada di tangan Zain.
Malam yang dingin tanpa adanya sang istri, ada yang berbeda saat pertama ia membuka handle pintu kamar. Kosong dan hening.
Zain menghela napas perlahan, tiba-tiba kepalanya pening. Terlebih ucapan mama dan papa dibawah cukup menyentil egonya.
Satu jam yang lalu,
"Kamu ini gimana sih Zain, harusnya kalau Maura ingin menginap di rumah orang tuanya, kamu ikut kesana. Pekerjaan ada papa di rumah, ada Zian yang bantu. Jangan banyak alasan kamu." ucap Shaka dengan sorot mata tajam.
"Susul Maura, Zain! Sekalipun kamu tidak mencintainya, kamu harus bertanggung jawab, Maura tetaplah istrimu." ucap mama Kenia.
***
Zain mengacak rambutnya frustasi, potongan demi potongan ingatan ia dan Maura melakukan malam pertama mulai tergambar jelas.
Segera ia masuk ke dalam kamar mandi untuk merendam kepalanya, berharap sedikit dingin.
Rambutnya yang basah ia biarkan acak-acakan, segera ia turun ke bawah dan pamit kepada orang tuanya untuk menyusul kembali Maura.
Shaka dan Kenia senang mendengarnya, mereka pun mengizinkan Zain pergi, bahkan bila perlu libur beberapa hari.
Meski malam, jalan Jakarta memang selalu macet, alhasil membuat Zain berulangkali mengumpat sembari melihat jam di ponselnya.
"Sial, semoga Maura belum tidur."
Zain berulang kali berdecak kesal kala deretan mobil lambat menghalanginya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Perasaannya semakin gusar, ia harus segera bertemu istrinya.
Sampai di pelataran rumah Radit, sekitar pukul sembilan.
__ADS_1
Satpam pun berlari membukakan gerbang, dan mempersilahkan masuk.
Ketukan pintu berulang-ulang membuat bi Salis yang masih terjaga gegas membuka pintu.
"Tuan Zain," ucap Bi Salis mempersilahkan masuk.
Hening, itulah yang Zain rasakan.
"Kok sepi, bi? ayah sama mama dimana?"
"Mereka sudah istirahat di kamar, Tuan. Non Maura juga izin tidur lebih awal." jelas bi Salis.
"Makasih, bi." ucap Zain langsung melangkahkan kaki. Menaiki tangga demi tangga dengan suara pelan.
Dadanya berdegup kencang saat sudah sampai di depan pintu kamar Maura.
Tok.. tok.. tok..
Hening, tak ada sahutan. Namun, Zain bernapas lega kala ia berhasil membuka handle pintu. Hya, Maura sama sekali tidak mengunci pintu kamarnya. Keningnya mengkerut kala melihat lampu temaram, apakah Maura sudah tidur?
Zain mengganti pakaiannya, lalu merebahkan diri di samping Maura. Ia pandangi wajah lelap.
Kentara sekali kesedihan terpancar meskipun mata Maura dalam keadaan terpejam.
"Sayang, maaf sudah membuatmu begini. Bersabarlah sebentar, aku akan memperbaiki semuanya." gumam Zain menelusuri wajah cantik Maura dengan jemarinya.
"Mimpi indah, Mauraku." Zain ikut memejamkan mata, lalu tidur dan memeluk pinggang Maura dari belakang.
Biarkan begini, sebentar saja...
__ADS_1
Memelukmu, sepanjang malam...