
Rain senang sekali membawa Nora dalam pelukannya, bahkan bayi kecil itu justru bertingkah lucu sekali dan menggemaskan, sangat berbeda dengan baby Zain yang lebih suka di gendong laki-laki.
Kenia pun mengizinkan Rain menggendong Nora sesuka hati, karena Kenia yakin sebentar lagi Rain juga akan sama sepertinya, menikah dan memiliki anak.
"Kau terlalu asyik dengan baby Nora sehingga mengacuhkanku." Seru Radit, namun dengan ekspresi tersenyum.
"Hey mas, apa kau sedang cemburu dengan anakku." Kenia menimpali, merasa anaknya telah merebut sesuatu milik Radit.
"Haha, ampun! aku hanya bercanda." Radit terkekeh, sedang Rain hanya menggelengkan kepala melihat kekasihnya itu.
"Shaka sama Zain mana, Ken?" tanya Radit, pandangannya masih mengedar ke sekeliling pesta.
"Tau tadi katanya mau nyamperin Dion, boleh nitip Nora bentar? aku ingin ke toilet." seru Kenia kepada Rain.
"Tak masalah, pergilah! aku akan menjaga Nora dengan baik." jawab Rain dengan seulas senyum.
**
Seperginya Kenia ke toilet, Radit mendekat ke arah Rain hingga jarak tersisa beberapa senti.
"Kau memang cukup diandalkan sayang untuk menjaga Nora." pujinya terkagum melihat Nora begitu nyaman bersama Rain.
Rain mengulas senyum, " Karena aku calon ibu, aku juga memiliki sisi nyaman dan sifat keibuan yang terpendam."
"Benarkah, aku kira kau akan terus menerus meracik minuman di clubnya Dion,"
"Apa kau sedang meragukanku sekarang, apa kau ingin bukti?" mimik wajah Rain berubah serius.
"Hay aku hanya bercanda sayang, kamu tetaplah ibu untuk anak-anakku kelak."
Radit dan Rain sedang berbicara dengan baby Nora, meski baby mungil itu belum bisa menjawab, tapi ia sudah bisa merespon setiap ucapan orang dengan kekehan kecil dan tatapan mata yang menggemaskan.
"Aku jadi tak sabar ingin segera punya anak." Seru Radit.
"Baiklah, kita bisa menikah besok pagi." sahut Rain enteng.
Radit yang mendengar ucapan Rain pun tertawa, " Kalo kamu gak kesiangan, kita nikah." Si empu langsung mengerucutkan bibir, karena Rain memang hobi sekali bangun siang.
**
Dan saat semua kembali, Shaka dan juga Kenia.
__ADS_1
Kenia pun mengambil alih Nora kembali, mengingat sedari tadi sudah cukup lama berada di gendongan Rain.
Dion dan Viona justru menghampiri mereka, padahal kursi Rain dan Radit serta Shaka dan istri berada di ujung belakang.
Ia karena dua baby kembarnya takut mengacau suasana pesta jika tiba-tiba menangis.
Sepasang pengantin yang malu-malu itu akhirnya mendekat.
"Kak Kenia boleh aku pinjem Nora." katanya, Viona ingin sekali menggendong bayi perempuan Shaka.
" Dengan senang hati, semoga setelah gendong Nora disegerakan ya kalian." Doa tulus Kenia.
Viona mengangguk dengan senyum, lalu membawa Nora ke dalam pelukannya.
"Kau menggemaskan sekali," Seru Viona kepada Nora.
Lagi bayi cilik itu terkekeh kecil, dengan tangan bergerak-gerak membuat semua mata yang melihatnya pun ikut tertawa gemas.
"Jangan lupa, nanti malam langsung cuss!" seu Shaka, Dion pun menjawab dengan dua jempol "Siappp!"
Viona menunduk malu, jujur ia belum siap.
"Jangan dulu deh, barengan aja sama kita yakan?" Seru Radit dengan tawa.
Tawa seketika membahana.
"Vi, selamat ya akhirnya lo nikah juga. Gue seneng plus terharu banget." seru Rain.
"Selamat ya, Yon! jaga sahabat gue dengan baik." sambung Rain lagi.
"Oke siappp." jawab Dion.
Semua orang pun ikut memberi selamat atas pernikahan dua insan itu, hingga waktu hampir malam dan pesta akan usai.
Mereka kembali pulang, termasuk Rain dan juga Radit.
Hening! di dalam mobil, Rain memilih menatap luar.
"Sayang, kamu gapapa kan?"
Rain tak menjawab, sepertinya ia melamun. Entah pikirannya berkelana kemana sekarang.
__ADS_1
"Sayang, kamu gapapa hmm?" tanya Radit dengan suara sedikit keras.
"Ehh, maaf sayang." Rain tersenyum kikuk, ia menatap Radit dan bertanya ada apa.
"Kamu kenapa hmm, kenapa melamun? pengen nikah juga ?" seru Radit.
"Entahlah, bisakah besok mengantarku ke suatu tempat?" tanya Rain.
"Kemana pun, untuk kamu!"
"Ke pemakaman orang tuaku!" ujar Rain, namun ekspresi wajahnya sulit diartikan.
Mobil memasuki parkiran apartemen Rain, gadis itu ingin beranjak turun namun tangan Radit mencekal pergelangan tangannya hingga gadis itu berbalik hingga terjatuh.
Dua bibir itu kini bersentuhan lama, menempel hingga membuat Rain mematung.
Deg!
Jantung Rain berdegup kencang, sama halnya dengan Radit. Debaran itu nyata dan membuat mereka larut.
Cup!
Radit mencium sekilas lagi, kala bibir itu terlepas.
"Awhhh, kenapa kau menciumku sayang!" omel Rain ketika sadar.
"Dikit sayang, kamu telat ngomelnya." Radit nyengir kuda.
Rain turun, ia memasuki gedung apartemen setelah sebelumnya meminta Radit pulang.
Kejadian tadi membuatnya mendadak nerveous dan tak bisa mengontrol detak jantungnya.
Sampai di kamar, gadis itu langsung merebahkan diri.
Menatap langit langit kamar sembari teringat kala bibir mereka bersentuhan tanpa sengaja tadi.
"Aaaaaa... mas Radit, kau membuatku gila!" pekik Rain teriak, kemudian ia menutup wajahnya dengan bantal.
.
.
__ADS_1
Like komen dan Votenya kakak, kasih sajen biar semangat up😘😘😘