
Maura bingung, ia terus berjalan mondar-mandir di dalam kamar kala teringat bahwa Zain masih berada di rumahnya, sesekali ia menggigit bibir bawahnya.
Apa iya harus turun dengan tampilan seperti ini? atau kembali mengubahnya menjadi gadis cupu.
Setelah lama berfikir, akhirnya Maura memilih turun. Membiarkan Zain melihat dan tahu seperti apa dirinya, toh itu tidaklah penting. Karena sampai kapanpun, Zain hanya menganggap Maura sebagai adiknya, begitu pula sebaliknya.
Pelan-pelan Maura menuruni anak tangga, saat sudah hampir sampai lantai bawah ia tertegun kala netranya bertemu dengan manik mata indah Zain.
"Nah itu dia orangnya, Maura emang lama kalau mandi, apalagi kalau udah di depan cermin kadang bisa berjam-jam." ucap Rain diiringi tawa.
Sementara Zain menatap Maura tanpa berkedip. Maura menghampiri dan memilih duduk di sebelah Zain. "Maaf ya kak, lama. Aku hampir lupa kalau kak Zain mampir sini."
"Astaga, makhlumi saja ya Zain, anak om memang seperti itu. Kamu harus mulai mengenalnya dari sekarang, supaya nanti kalo kalian menikah,--" Radit menggantung ucapannya, kala mata Maura membulat sempurna.
"Ayah, apa-apaan sih, aku belum mau nikah!" potong Maura cepat.
**
Hari ini, Zain menghabiskan makan malam di rumah om Radit, untuk pertama kalinya ia terpukau akan kecantikan Maura. Mungkin, yang orang lain tahu selama ini, Maura hanyalah gadis cupu. Tapi saat ini juga Zain sadar, bahwa Maura menyembunyikan kecantikannya untuk melindungi diri sendiri.
__ADS_1
"Om, boleh izin ngobrol sama Maura bentar?" Tanya Zain dengan sangat hati-hati, Radit yang mendengarnya pun tersenyum, "Boleh, sekalian ajak Maura keluar, Zain. Itu anak gak pernah jalan-jalan, pacarnya sibuk terus."ucap Radit.
Zain mengangguk, "Ayo Mar, cari angin." Alibi Zain, padahal sejak ia melihat Reynan, kekasih Maura dengan perempuan lain. Lubuk hatinya ingin sekali menghibur Maura terkhusus hari ini.
"Bentar kak, aku ambil kaca mata dulu." pamit Maura.
"Eh gausah sayang, gitu aja cantik. Iyakan Zain?" Seru Rain, ia heran kenapa anaknya memilih berpenampilan cupu.
"Yaudah," Akhirnya Maura pasrah.
Zain akhirnya pamit mengajak Maura pergi, dan saat mereka sudah berada jauh dari pandangan Rain dan Radit, Zain mengapit jemari tangan Maura.
"Kamu cantik." kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Zain. Maura terkesiap, pertama kali ia mendapat pujian cantik dari orang lain selain Reynan.
Mobil melesat, meninggalkan rumah Maura.
"Kamu mau kemana, hmm? terkhusus hari ini aku akan mengantarmu kemana saja, asal kamu udah gak sedih." tutur Zain lembut, wajahnya yang tampan serta senyuman manisnya. Betapa Zain adalah laki-laki yang sempurna.
"Aku ingin bertemu Aurora, tapi kak Zain yang menghubunginya. Jangan bilang aku ingin bertemu." dengan hati-hati Maura bicara, takut salah langkah.
Jika kamu bisa merebut apa yang menjadi milikku, maka detik ini aku putuskan untuk membuatmu menyesal karena mengusikku, aku jahat, tapi itu karena kamu yang lebih dulu menyentil hatiku..
__ADS_1
Jika Aurora bisa membuat Reynan tergila-gila dengannya, Maka Maura akan menjadikan Zain alat untuk menunjukan, bahwa ia bukanlah gadis cupu yang pantas diremehkan.
"Kamu kangen sama Aurora? Mau curhat sama dia, kenapa gak cerita ke aku aja si hmmm, kenapa mesti harus curhat ke cewek." gerutu Zain, cowok itu bisa bawel juga, jika sudah akrab.
"Eh, enggak kak. Aku cuma kangen kok. Setelah ini aku pasti bakal cerita semuanya sama kak Zain." janji Maura. Dan Zain benar-benar menuruti permintaannya, menghubungi Aurora!
Zain mengambil benda pipihnya di dalam saku, lalu mencari name kontak Aurora dan menghubunginya.
"Hallo, Ra? Bisa ketemu? kamu dimana?" tanya Zain setelah panggilan telepon terhubung.
"Aku di Apartemen kak, sini gih. Ada pacar aku juga, nanti aku kenalin sama kak Zain." Suara manja Aurora di seberang sana.
"Oke aku kesana sekarang,"
Tut!
Telepon terputus, Zain menatap Maura yang memasang wajah sendunya.
"Eh kok malah sedih, kamu kan juga denger tadi kalo Aurora di apartemen sama pacarnya, katanya kangen." hibur Zain.
Maura hanya sedang mempersiapkan diri, kemungkinan terburuk setelah ini. Mengingat Reynan merangkul bahu Aurora sangat mesra, apa mungkin kekasihnya memang berselingkuh dengan Aurora?
__ADS_1
"Nggak kak, aku terharu aja. Kalian deket banget ya?" Maura berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya, dia emang manja banget kalo sama aku. Maaf ya sudah membedakan kalian." Zain mengusap lembut kepala Maura, "Aku janji, mulai saat ini aku akan selalu ada di sampingmu." ucap Zain.