
"Huh....akhirnya" ucap Tania.
Seperti biasa hari senin adalah hari yang paling tersibuk bagi umat pekerja. tak terkecuali bagi Tania dan teman temannya.
"Mae, masih banyak gak sih orderan style 7071 ini? Kok ya ga selesai selesai gitu malah semakin menumpuk. Mana yang bagian QC belum ngambil lagi" keluh Tania yang bertepatan dengan kedatangan Maela.
"Sabar Ceu, ini masih 2000 piece lagi kayaknya. memang permintaan yang sekarang makin tinggi, Tan" Ucap Maela sambil berjalan menuju ruangannya.
"aduh Gustiiiiiii mana belum sarapan lagi aku Mae. Tapi untung aja sih laporan udah aku beresin, tinggal ini nih cek barang ke QC" ucap Tania.
1 tahun sudah Tania diangkat menjadi Adm produksi di sebuah pabrik. Sebelumnya Tania hanya menjabat sebagai operator produksi. Ia diangkat menjadi Adm produksi karena kinerjanya yang bagus serta karena Ia dekat dengan salah satu staf bagian sample kesayangan kepala bagian yaitu Maela. Alasan lainnya adalah agar pekerjaan lebih kondusif dengan adanya kerjasama yang baik.
sebetulnya Tania enggan menerima tawaran itu, sebab rasanya malas sekali berhadapan langsung dengan Pak Mul tiap hari yang hobinya teriak teriak melulu. Tapi kenyataan berkehendak lain, para geng ibu ibu operator yang lain menyetujuinya. Mereka menilai Tania pantas jadi Adm produksi karena gesit, badannya yang mungil mendukung Tania bergerak cepat kesana dan kemari.
Saat mengangkat satu lusin produksi yang lumayan berat ibarat beratnya beban hidup tiba tiba Iqbal datang membantu Tania.
"Sini aku bantuin. Kasian aku liat anak kecil ngangkat produksi berat gini. takutnya nanti pas lempar produksi ke rak malah kamu yang ikut terlempar" ucap Iqbal sembari mengangkat 2 lusin produksi.
"Ish.....niat bantuin ga sih? Malah ngatain aku. Jangan nyepelein ya badan aku kecil juga tenaga mah gede"
"Iya iya percaya deh diliat dari hasil produksi mesin yang sekarang udah tertata begini. Cepet juga kerja kamu"
"Iyalah kalo masalah kerjaan aku bakalan totalitas ada batas"
"Lho kok ada batas segala? kata dari mana tuh?"
"Dari kamusku babang Iqbal yang ganteng. begini ya kalo aku cape dan capenya pake banget banget banget pasti totalitasnya akan terbatas"
"Wahahahahhaah... bener juga kamu" gelak Iqbal.
Saat sedang membereskan hasil produksi dan mencatat pendapatan mesin hari ini, tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara gebrakan meja dan teriakan. yaaaa siapa lagi kalau bukan Pak Mul si kepala bagian.
Braaaakkkkk !!
"Apa apaan ini Tania? Kalau kerja yang becus dong. Kenapa ini produksi sampai menumpuk begini di Adm hah? Terus apa lagi ini? Kamu laporan mesin yang jalan deret A kok ga sesuai sama real nya?" Cecar Pak Mul sambil melempar berkas laporan dan menunjuk muka Tania dengan mukanya yang memerah.
Seketika wajah Tania pucat pasi. Meskipun sudah sering berhadapan dengan Pak Mul tapi jika keadaannya begini tetap saja suka degdegan parah.
"Gini lho Pak, ini produksi belum pada dijemput tuh sama bagian QC jadi numpuk begini. Saya lihat tadi mereka lagi ada meeting dulu sama kepala bagiannya" Jelas Iqbal yang pada saat itu masih bersama Tania. Wajah Iqbal santai saja karena sudah biasa dengan Pak Mul.
__ADS_1
"Apa apaan kamu ikut-ikutan di Adm? Apa mesin gak ada yang gangguan kamu bisa santai disini?" tanya Pak Mul kepada Iqbal
"Karena mesin lancar semua Pak makanya saya kesini bantuin Tania beresin produksi biar saya juga ada kerjaan gak makan gaji buta" jawab Iqbal sambil memamerkan deretan giginya
"Heh Tania napa kamu diem aja? kan saya lagi nanya sama kamu bukan sama si Iqbal".
"Eh Iya pak.." jawab Tania kaget.
"Tadi kan sama Iqbal sudah di jelaskan pak kenapa produksi numpuk disini"
"Ya terus itu kenapa mesin yang deret A kok datanya gak sama dengan laporan kamu?" tanya Pak Mul masih dengan nada tingginya.
"Kalau itu saya belum cek ulang Pak. Mungkin sama Mbak Ani sudah di ganti dengan warna benang yang baru karena stok benang warna burgundy sudah habis Pak. Dan Mbak Ani belum konfirmasi ke saya jadi saya belum betulin laporan sampai Bapak datang" jelas Tania sambil menunduk.
"Yasudah saya mau tegor dulu itu si Ani. Ganti benang kok gak bilang bilang. Jadi salah paham begini" ucap Pak Mul sambil berlalu melewati mesin yang berjejer.
Pt. Busana Berkembang adalah sebuah pabrik garmen yang bergerak dalam produksi barang hasil rajutan. Pengoprasiannya menggunakan mesin komputer dari Jerman dan Jepang. Adapun dengan cara manual hanya ada 3 mesin saja.
"Hufhhhhhh....." Tania merasa lega akhirnya amarah Pak Mul tidak berkepanjangan.
"Sudah santai aja kalo berhadapan sama Pak Mul. Kalo Pak Mul ngamuk gitu kamu keep calm aja. Dia mah gampang baik lagi kok. Mukanya kondisikan takut Pak Mul sampe wajah kamu pucat gitu hahaha" ucap Iqbal sambil tertawa.
" Yaudah nanti istirahat kita bareng ya. Kita ajak tuh si Nicko sama Si Yudha buat istirahat bareng" ajak Iqbal
"Boleh banget, apalagi kalo aku di traktir" oceh Tania.
"baiklah baiklah kalo sekedar traktir kamu bakso mah" jawab Iqbal sambil menggelengkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam makan siang....
Mereka berempat tiba disebuah warung bakso. Tania, Iqbal, Yudha, dan Nicko. Tak menunggu lama Tania langsung saja memesan bakso. Iqbal yang tahu keadaan Tania yang sedari pagi belum makan langsung geleng-geleng. Nicko dan Yudha juga ikut Tania memesan bakso disusul dengan Iqbal.
"Mas, aku mau bakso cincang pakai bihun tauge dan sayur ya. Bihunnya banyakin sama Baksonya yang gede" ucap Tania kepada si Mas bakso.
"Saya juga samain aja kayak Tania ya bos cuman bihunnya porsi biasa aja" sela Yudha.
"Kalo saya mah pengen mie ayam bakso urat ya mas" kata Nicko
__ADS_1
"Trus mas yang satu lagi apa mas?" tanya si Mas bakso.
"Saya mah campur aja mas porsi biasa" kata Iqbal
Sambil menunggu pesanan datang mereka pun bercengkrama ditengah hiruk pikuk warung bakso yang mulai banyak pelanggan berdatangan untuk sekedar makan siang.
"Kamu kenapa Tanikuk gak salah pesen bakso porsi mukbang?" tanya Nicko yang sudah terbiasa memanggil Tania dengan sebutan Tanikuk. Meskipun belum lama kenal tapi Nicko sudah menganggap adiknya sendiri, sama hal nya dengan Iqbal dan Yudha yang menganggap Tania sebagai adik mereka sendiri.
Iqbal adalah anak kedua dari 3 bersaudara, kakaknya perempuan sudah menikah, sedangkan adiknya laki laki baru smp. Usia Iqbal dan tania terpaut 2 tahun lebih tua Iqbal.
Nicko anak ke 3 dari 3 bersaudara, semua kakaknya perempuan dan sudah menikah. Sedangkan Yudha pun sama dengan Nicko anak ke 3 dari 3 bersaudara, hanya saja kakak Yudha semuanya pun laki laki dan sudah menikah pula. Nicko dan Yudha sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMK. Usia mereka dengan Tania terpaut 3 tahun lebih tua.
"Si Tania tuh sawan kayaknya. Tadi abis di semprot Pak Mul gara-gara produksi numpuk di area kerja dia" jawab Iqbal sambil terkekeh
"Asli seriusan Tan?" tanya Nicko sambil terkejut
"Ih gak gitu juga tau. Aku belum sarapan dari pagi a. udah mah laper, tambah liat produksi numpuk gitu tambah lagi ada Babeh yang tiba-tiba gebrak meja sambil ngamuk. Kan kaget aku tuh" oceh Tania.
"Yaelah itu sih sama aja kamu tuh sawan Tanikuk" kata Nicko sambil menjitak kepala Tania.
"auhhh....." teriak tania
"sakit tau" ucap tania sambil memukul tangan Nicko.
"Udah udah tuh pesenannya datang. Ngapain sih lu ko main jitak kepala adek gue?" kata Yudha sambil meletakkan pesanan dari si Mas bakso.
"Nih cepet makan takut nanti kamu keburu pingsan. Biar A Yudha yang bayarin sekalian" kata Yudha kembali.
"Wahhhh Alhamdulillah. Aku makan ya a. Bismillah....." ucap Tania
"Eh pret gue di bayarin kaga nih sama si Babal?" tanya Nicko penuh pengaharapan.
"Kalo lu sama si Babal mah bayarin nafsi nafsi ya. Cowok kok minta ditraktir apa kata dunia" jawab Yudha
"Eh Bal kamu kan tadi mau traktir aku bakso?" tanya Tania.
"Gak jadi Tan. Kan udah dibayarin sama si Yudha" jawab Iqbal sambil terkekeh sebab dalam bathinnya Iqbal berkata bahwa isi dompetnya aman. Lumayan buat malam mingguan.
Mereka pun menikmati hidangan bakso dengan lahap. Sampai ketika bakso mereka habis mereka masih menikmati jam istirahat mereka. Hingga 10 menit jam masuk kerja mereka pun membayar bakso pada si mas bakso dan bergegas pergi lagi ke pabrik dengan Tania di bonceng Yudha, sedangkan Iqbal dan Nicko membawa motor masing-masing.
__ADS_1