
Obrolan hangat mengalir bersama selingan canda tawa antara Akbar dan Tania. Menjelang pukul 8 malam, Akbar pamit pulang. Tania mengantar sampai teras depan.
"Teman baru teh?" tanya Bapak begitu Tania memasuki rumah.
"Iya baru kenal beberapa bulan. Kenalnya juga pas di nikahan Mbak Sari" jawab Tania.
"Anaknya baik ya. Sopan" puji Bapak. Setiap teman yang datang ke rumah Tania, Bapak selalu memperhatikan dan kemudian menilainya layaknya pakar ekspresi. Dan kebetulannya prediksi Bapak tak pernah salah.
"Dalam sekali pertemuan Bapak udah menyimpulkan kayak gitu?"
"Ga tau. Feeling aja Bapak mah"
"Aishhh lagaknya kayak pakar ekspresi aja nih si Bapak"
"Dulu bapak teh pengen jadi psikolog tapi gak kesampean"
"Mudah mudahan atuh si ade jadi psikolog melanjutkan impian bapak"
"Eits tunggu dulu. Ade mah gak mau jadi psikolog maunya jadi pegawai bank" protes Salwa sambil keluar dari kamarnya.
"Teh, yang tadi siapa? Pacar teteh? Ade mah asa pernah liat da gak asing gitu wajahnya" sambungnya sambil mendaratkan pantatnya di samping bapak.
"Ah, kamu mah kepo" ujar Tania.
"Tapi iya deh teh. Aku mah asa sering liat si aa itu. Orang mana emang?"
"Itu orang kampung sebelah. Gak jauh dari pangkalan ojek yang satu lagi"
"Yang rumahnya banyak kontrakannya bukan?"
"Loh kok tahu?"
"Iya atuh aku kan kalo ke sekolah suka jalan mabal kesitu biar deket jalan ke sekolahnya"
"Iya bener dia tinggal di situ. Malah yang punya kontrakannya teh neneknya dia"
"Aisshhhh si teteh gaya eunk sama cucu juragan kontrakan" goda Salwa.
"Apaan sih ade orang cuman temenan aja"
"Tapi keliatan da teh sam ade juga tatapan dia saat liat teteh ada cinta nya" kekeh Salwa.
"Cinta cinta. Ada juga Cileuh dina mata alias belek kali di mata mah" ledek Tania
"Ih si teteh mah beneran tau ih malah bercanda"
"Lagian tau apa atuh ih kamu mah masih smp udah cinta cintaan aja"
"Atuh tau we liat di drakor sama sinetron kan kayak gitu"
"Sayangnya hidup teteh mah bukan sinetron atau drakor" ucap Tania sambil pergi masuk kedalam kamarnya meninggalkan Bapak dan Salwa yang terus mengobrol ria tentang Akbar. Sepertinya Akbar akan menjadi trending topik malam ini.
"Ehh si teteh mah" ucap Salwa yang kini tatapannya beralih ke Bapak.
"Pak, menurut Bapak cowok tadi keliatannya gimana?"
"Yaa kitu we de. Kesan pertama mah baik, sopan, enak diajak ngobrol, terus nyambung we ngobrol sama Bapak teh" jelas Bapak tampak menerawang mengingat kesan pertamanya bertemu dengan Akbar.
"Selevel A Yudha gak sih, Pak?"
"Iya ya bener. Kayak A Yudha. Ngomong-ngomong soal A Yudha, udah lama ya dia gak kesini" ucap Bapak.
"Iya udah lama kalo di inget-inget mah. Kenapa ya? Aku pernah liat si teteh sekarang mah gak pernah di jemput lagi sama A Yudha. Apa ada masalah gitu sama mereka?"
"Ya Bapak kan gak tau. Coba kamu tanyain sendiri sama teteh kamu." ucap Bapak.
"Justru ade teh takut mau nanya teh. Masalah cinta mah kan sensitip pake P lagian si teteh suka ngegas kalo ade yang nanya" ucap Salwa cemberut.
"Apalagi Bapak. Nanti Bapak disebut Bapak yang posesif sama anaknya. Bapak mau ngasih kebebasan sama anak-anak Bapak. Tapi bukan berarti Bapak tidak mengawasi kalian"
__ADS_1
"Hmmmm iya deh iya".
Malam itu ibu tidak ikut nimbrung diacara bincang bintang kebetulan sedang ikut pengajian di mesjid. Bintang kali ini adalah Tania.
Dikamar Tania malah santai dan pembiacaraan Bapak bersama Salwa tidak terdengar sama sekali, pasalnya ia menyetel musik dengan volume full di ponselnya. Dan ia pun ikut menyanyi mengikuti lirik lagu yang di mainkan.
Sandarkan lelahmu dan ceritakan
Tentang apapun aku mendengarkan
Jangan pernah kau merasa sendiri
Tengoklah aku yang tak pernah pergi
Bagiku kau tetap yang terbaik
Entah beratmu turun atau naik
Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik baik saja
Kita hanyalah manusia
Wajar jika tak sempurna
Saat kau merasa gundah
Lihat hatimu percayalah
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk
Kau berkata dunia sedang tak ramah
Ya bukan berarti kau mesti berubah
Yang menatapmu asing dari cermin
Bagiku kau tetap yang terbaik
Entah beratmu turun atau naik
Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik baik saja
Kita hanyalah manusia
Wajar jika tak sempurna
Saat kau merasa gundah
Lihat hatimu percayalah
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk
Kita perlu kecewa untuk tahu bahagia
Bukankah luka menjadikan kita saling menguatkan
Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik baik saja
Kita hanyalah manusia
__ADS_1
Wajar jika tak sempurna
Saat kau merasa gundah
Lihat hatimu percayalah
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk
Sumber: Musixmatch
Penulis lagu: Fiersa Besari
Tok...tok....tok...
"Teteh ....." teriak Salwa dibalik pintu.
Tania meletakkan earphone nya lalu bergegas menuju pintu.
Clek...
"Ada apa de?" tanya Tania.
"Itu ada yang kirim makanan"
"Makanan? Siapa?" tanya Tania heran.
"Si Aa yang tadi" jawab Salwa santai.
"Si Aa yang tadi? Akbar maksud kamu?"
"Iya. Cepetan ih tuh udah nungguin di depan"
Tania menyimpan ponsel dan earphone nya lalu menemui Akbar di teras depan.
"Eh, Bar. Ada apa?" tanya Tania.
"Eh, Tan. Ini aku mah cuman mau ngasih ini aja. Kebetulan tadi sepulang dari sini aku di suruh Amih beli kebab"
"Ya ampun kok sampe nganterin kesini segala kan Amih yang minta"
"Gak apa-apa lagi sekalian. Itung-itung ganti roti bakar yang tadi hehehe" kekeh Akbar.
"Emmh itu mah kan formalitas nyuguhin tamu aja atuh gak perlu di ganti. Aku jadi malu ih kamu mah menj sering ngirim aku makanan" ucap Tania.
"Deuhhh pake formalitas segala. Sebenernya mah alesan aku aja ini mah pengen liat kamu lagi hahaha"
"Iya sih da aku mah ngangenin orangnya" jawab Tania pede.
"Iya deh iya. Udah malem nih. Aku pulang dulu ya, Amih udah nungguin"
"Oke sip. Makasih ya sekali lagi. Nanti aku ganti deh" ucap Tania.
"Gak perlu di ganti"
"Kan kamu juga itung-itungan"
"Gantinya sama yang lain aja jangan sama makanan"
"Sama apa?"
"Hmmm pikir aja deh. Ya udah aku pulang ya.. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam"
__ADS_1
Kira-kira Akbar minta di ganti dengan apa ya? Jangan sampai membuat Tania berpikir banyak. Pikirannya sudah terkuras memikirkan perubahan sikap Yudha.
Yudha apa kabarnya ya?