
Hari demi hari kesehatan Yudha berangsur membaik. Namun Yudha tidak diperbolehkan untuk pulang mengingat kondisi kesehatannya yang naik turun dan harus terus di awasi oleh tim dokter.
"Mah, Aa ingin pulang aja. Udah ngerasa baikan ini. Diem terus di rumah sakit gak enak. Lebih nyaman di kamar sendiri." Ujar Yudha merajuk.
Mamah menghembuskan nafas kasar, "Sabar dulu, dokter belum bolehin kamu pulang. Kalo di rumah kamu gak bakalan fokus sama kesehatan kamu, pasti fokusnya sama yang lain-lain." Jawab Mamah Yudha.
"Pikiran lain-lain gimana? Ya gak mungkin atuh, justru pikiran aku bakalan tenang diem di kamar sendiri." Ucap Yudha tidak mau kalah tetap dengan keinginannya.
"Ya sudah biar nanti coba ayah suruh bicarakan dengan dokternya". Akhirnya Mamah luluh untuk menuruti keinginan anaknya.
Siang harinya, di waktu jam istirahat kantor ayah menyempatkan untuk menjenguk ke rumah sakit. Seperti sudah ada telepati bahwa ayah harus ke rumah sakit segera. Begitu sampai di ruangan ayah menghampiri mamah beserta Yudha.
"Eh baru aja mau mamah telepon, yah."
"Memangnya ada apa?"
"Ini loh Yudha ngotot mau pulang aja. Dia ngerasa baikan katanya. Ayah coba ngobrol sama dokter Eman ya." Pinta ibu, dan langsung di mengerti oleh ayah. Tidak menunggu lama, begitu mendapat titah untuk bertemu dokter, ayah langsung menuju ruangan Dokter Eman.
Tok.. Tok....
"Silahkan masuk" terdengar suara di dalam mempersilahkan.
Ceklek ! Pintu terbuka.
Dokter Eman mendongakkan wajahnya melihat siapa yang datang mengunjunginya.
__ADS_1
"Oh, Pak Eddy. Silahkan duduk. Saya kira suster. Soalnya jam-jam segini pasti suka ada suster yang ngasih laporan pasien." Ucap Dokter Eman dengan suara beratnya. Ayah hanya tersenyum saja menanggapi perkataan Dokter Eman.
"Ada keperluan apa ya, Pak?" Tanya Dokter Eman.
"Euhh... Begini, dok. Yudha ingin pulang saja hari ini apa boleh? Kemarin dokter bilang kondisinya sudah mulai membaik, jadi dia memaksa ingin pulang. Kangen kamar sendiri katanya heheheh."
"Emm begitu, ya. Saya pikir akan lebih baik Yudha disini saja agar terkontrol kondisinya. Tapi jika Yudha memaksa, ya bolehlah. Takutnya dia merasa tertekan dan malah membuat kondisinya drop lagi." Ucap Dokter Eman terlihat menimbang-nimbang. Bagaimanapun ia harus tanggung jawab dengan kondisi pasiennya. "Tapi dengan catatan, ada beberapa peralatan yang mesti dipersiapkan, berjaga-jaga kalau kondisinya memburuk." Jelasnya lagi dengan raut muka yang serius.
"Kalau begitu apa aja ya yang harus dipersiapkan?"
"Tabung oksigen, infusan, alat suntik dan obatnya. Mungkin nanti suster disini akan membantu menyiapkan dan membantu sampai ke rumah Pak Eddy sekalian memasang infusan."
"Baik dok. Apa bisa di persiapkan dari sekarang?"
"Bisa. Tunggu sebentar saya panggilkan dulu susternya."
Mata Yudha terlihat berbinar, terpancar kebahagiaan dan sudah terbayang dibenaknya kamar kesayangan, tempat ternyaman di dunia. Mamah Yudha membereskan segala barang bawaan ketika ke rumah sakit termasuk baju dan stok makanan.
"Udah siap, Mah?" Tanya ayah. Mamah mengangguk.
"Udah tapi tinggal nunggu dokter sama suster meriksa dulu Yudha, sama infusannya di lepas." Ucap Mamah.
Sambil menunggu, ayah mengabari orang di rumah agar membersihkan kamar yudha dan menyambut kepulangan Yudha. Tentu saja Neng dan kakaknya senang mendengar kakak laki-laki satu-satunya itu bisa pulang hari ini. Tidak lupa ia berbagi kabar kepada seluruh sahabat kakaknya itu termasuk Tania.
Terdengar jelas dari suaranya saja Tania benar-benar senang. Semenjak Yudha kritis, ia hanya bisa memantau keaadaan Yudha hanya melalui kabar dari Neng atau Nicko dan Iqbal. Mamah Yudha melarangnya untuk menengok, sebab waktu itu saja karena kedatangan Tania keadaan Yudha drop sampai kritis. Padahal itu bukan salahnya, karena memang kondisi kesehatan Yudha yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Sore harinya, Yudha sudah tiba di rumah dengan kedua orang tuanya beserta seorang suster. Membawa segala peralatan medis yang di butuhkan.
"Aa....." Pekik Neng menghambur kedalam pelukan Yudha. "Neng seneng banget Aa udah bisa pulang. Tuh kamar Aa udah Neng beresin."
"Neng, pelan-pelan meluk kakak kamunya. Kasian Aa masih lemes." Ucap Mamah mengingatkan.
Neng melengos dan melepaskan pelukannya dengan bibir cemberut, "ih, Mamah mah aku kan kangen sama Aa. Selama di rumah sakit kan gak bisa meluk kayak gini."
Mamah tersenyum lalu membopong tubuh Yudha menuju kamar. Ayah sibuk membawa barang bawaan dan membantu suster menyiapkan segala keperluan untuk Yudha. Yudha berbaring diatas kasur kesayangannya. Ia menatap keseluruh ruangan dengan tatapan nanar. Poster club sepak bola kesayangannya, Manchester United, serta poster band favoritnya bertengger di tembok menghiasi kamar khas laki-laki.
Kamarnya terbilang rapi untuk ukuran laki-laki. Tidak ada bau rokok sama sekali karena memang Yudha bukan seorang perokok, hanya bau lembab karena hampir dua minggu tidak ditempati.
"Kamu istirahat dulu, pasti cape habis perjalanan dari rumah sakit ke rumah." Ujar Mamah setelah suster selesai memasang selang infusan. Yudha mengangguk lalu memejamkan matanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hufhhhh akhirnya kita bisa pulang lebih cepat." Ucap Mamah seraya mendaratkan tubuhnya diatas kursi. Terlihat gurat-gurat lelah di wajahnya. Selama menunggui di rumah sakit, Mamah enggan pulang, tidak mau meninggalkan Yudha barang sedetik pun.
"Iya. Walaupun mungkin kedepannya kita akan sering berkunjung ke rumah sakit menemani Yudha buat kemo." Ucap Ayah memijat pelipisnya.
"Kalau saja Yudha tidak mengenal Tania mungkin dia gak akan menderita sakit seperti ini." Ketus Mamah.
Ayah menegakkan badannya, lalu menatap wajah Mamah dengan lekat. "Mah, sampai kapan Mamah mau menyalahkan Tania atas apa yang menimpa anak kita? Setahu Ayah, hampir tiga tahun mereka bersahabat dan tidak terjadi apa-apa sama Yudha. Malah, Yudha jadi berubah menjadi lebih baik, dia jadi sosok yang hangat dan mau bergaul, serta jadi lebih terbuka. Yudha sakit itu karena sudah menjadi kehendak yang di atas." Jelas Ayah.
"Apa Ayah tidak mengerti? Yudha ketahuan sakit, awalnya dari tragedi pemukulan gara-gara melindungi Tania. Dari sana Yudha sering ngeluh pusing dan badannya panas padahal tidak panas, lalu menggigil." Ucap Mamah berapi-api.
__ADS_1
"Dan itu juga bukan salah Tania, Mah. Coba Mamah pikir lagi dari sudut pandang yang berbeda. Posisikan Mamah ada dalam posisi Yudha. Yudha, sudah menganggap Tania sebagai adiknya sendiri. Sama seperti Neng. Wajar saja kalau dia mau melindungi orang yang dia sayangi. Itu baru laki-laki sejati. Gak mungkin lah dia membiarkan orang yang dia sayangi di hina dan dipermalukan di depan umum." Balas Ayah tak kalah sengit tapi tetap dengan nada lembut.
Mamah termenung. Bagaimana pun hatinya masih merasa dongkol dengan kejadian waktu itu. "Udah ah. Gak akan ada yang mengerti bagaimana perasaan Mamah." Ucap Mamah sambil beranjak pergi ke kamar mandi. Ayah menghela nafasnya. Susah sekali menasehati orang yang hatinya masih mengeras. Suatu saat mungkin Mamah akan paham dan hatinya akan kembali luluh menerima Tania kembali sebagai bagian dari hidup Yudha.