
Setelah kepergian Irwan, Tania memasuki pabrik dengan berjalan gontai. Ini kali pertamanya ia di diamkan oleh lelaki yang ia sukai. Mukanya ditekuk ada perasaan aneh pagi ini bergelayut di pikirannya.
"Pagi neng" Sapa Pak Udin satpam pabrik melambaikan tangannya ke arah Tania.
Tania menoleh dan memberikan senyuman serta melambaikan tangan kembali kepada Pak Udin. "Pagi juga Pak Udin. Wahh pagi ini Pak Udin seger banget, jadi keliatan lebih muda, Pak" puji Tania yang melihat Pak Udin pagi ini lebih bersemangat dari biasanya.
"Wah si eneng bisa aja" ucap Pak Udin sambil tertawa.
"Udah ngopi belum, Pak?" tanya Tania.
"Udah neng ini masih ada setengah gelas lagi" Pak Udin mengacungkan gelasnya.
"Wahh tadinya kalo belum Tania mau pesenin ke Bu Maryati"
"Wah tau gitu ngopinya nunggu si eneng dateng aja tadi ya" canda Pak Udin. Keduanya tertawa.
Tiddd... Suara klakson motor memekik telinga. Pak Udin dan Tania menoleh ke asal suara. Yang mengklakson cuma nyengir, sambil menyapa.
"Pagi semuanya heheheh" ucap Yudha.
"Pagi-pagi bikin kaget aja" ucap Tania.
"Hayu masuk malah nyangkut di pos satpam kamu tuh" ajak Yudha.
Tania menyusul Yudha masuk ke dalam pabrik, sebelum pergi ia pamitan dulu kepada Pak Udin. Begitu masuk ia sudah di sambut oleh Mbak Ani yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Pagi Mbak" sapa Tania. Mbak Ani tersenyum ke arah Tania dan kemudian berdiri.
"Tan, pagi ini kita bisa santai sedikit. Pak Mul datangnya nanti udah jam istirahat" ucap Mbak Ani. Akhir-akhir ini Mbak Ani sudah mulai bersikap ramah kepada Tania, sebab dengan adanya Tania pekerjaannya sedikit terbantu apalagi dengan kondisi ia sekarang yang tengah hamil muda dan sangat membutuhkan bantuan Tania.
"Syukur deh Mbak hehhee. Tapi tumben Mbak, Pak Mul datengnya siang?" tanya Tania.
"Anaknya kena DB dan dirawat di rumah sakit, Tan. Tadi pagi banget Pak Mul hubungin aku" jelas Mbak Ani.
__ADS_1
"Innalillahi, semoga anaknya Pak Mul cepet sembuh ya Mbak. Kasian kan masih kecil" ucap Tania.
"Iya aamiin Tan. Gak tega aku tuh kalo denger anak kecil sakit terus dirawat. Orang dewasa aja kena jarum infus sakit, apalagi ini anak kecil umur 4 tahun" ucap Mbak Ani dengan jiwa keibuannya. "Yaudah aku mau instruksiin dulu operator buat jalanin mesin. Kamu bikin laporan seperti biasa ya biar santai" kata Mbak Ani.
"Baik Mbak" ucap Tania.
Dalam waktu setengah jam Tania sudah menyelesaikan pekerjaannya. Laporan hari ini masih sama dengan kemarin sebab mesin masih memproduksi barang yang sama. Hanya menghitung selisih kartu produksi hari ini saja. Biasanya kalau ada waktu senggang tidak ada kerjaan Tania suka berkeliling mesin membantu para operator, kali ini ia ingin diam saja di ruangannya membaca novel online.
Sambil bersandar di kursi khusyuk membaca novel, ia dikagetkan dengan gebrakan meja sontak ia langsung saja memasukkan ponselnya kedalam laci meja. Ia kira Pak Mul yang datang.
"Hufthhh.... Dasar kebiasaan ngagetin aja" ucap Tania kesal memukul tangan Nicko.
"Hahhaahhahaah serius amat lagi ngapain sih chatting sama si Irwan yah?" tanya Nicko menggoda Tania.
"Kepo deh" ucap Tania.
"Eh by the way kamu itu pacaran ya sama si Irwan? Meni mentang-mentang udah punya pacar jadi kagak butuh aku lagi ya" ucap Nicko.
"Gak tau ah jangan tanyakan itu. Lagi gak mood. Ishhh kok bilang gitu sih, bagi aku A Yudha, A Nicko, sama Iqbal tak kan tergantikan dan aku bakal butuh kalian terus heheh" ucap Tania.
"Males ah" ucap Tania menelungkupkan tangannya diatas meja dan menenggelamkan kepalanya. Nicko mengerti kalau sedang seperti ini Tania ingin sendiri, ia pun meninggalkan Tania sendiri di ruangannya. Sampai jam istirahat Tania tidak keluar makan di kantin, ia hanya keluar untuk shalat setelah itu ia kembali lagi ke ruangannya.
Ia kembali melanjutkan membaca novel online yang tadi sempat tertunda. Suasana didalam begitu hening karena sebagian besar karyawan sedang beristirahat.
"Nih makan dulu, jangan biarin perut kosong nanti asam lambungnya kambuh" ucap Nicko menyodorkan dua bungkus nasi padang ke hadapan Tania.
"Banyak amat sampe dua bungkus segala" ucap Tania membuka bungkusan.
"Jangan serakah itu satu bungkus buat aku. Kita makan bareng disini. Makan sendiri gak enak" ucap Nicko yang di balas tawa oleh Tania. "Nah gitu atuh ceria jangan mendung kayak tadi"
"Bete aku teh tau" Tania membuka suara sambil menyuap nasi ke mulutnya. "Apa aku salah gitu minta kejelasan hubungan ke A Irwan? A Nicko kan liat sendiri yah gimana kita deket. Malah tadi A Nicko juga bilang kita udah pacaran, padahal kenyataannya belum"
"Lah kok gitu jadi cowok kok gak gentle" ucap Nicko geram.
__ADS_1
"Aku tadi pagi ngobrolin itu sama dia, tapi dia malah bilang 'tunggu' dia kata aku halte bus apa suruh nunggu?" ucap Tania mengangkat kedua jarinya kemudian menggerakkannya seperti tanda kutip pada kata Tunggu.
"Terus dia bilang apa?" tanya Nicko penasaran.
"Gak bilang apa-apa lagi selain kata itu. Terus aku jadi mikir kan maksud dia itu apa, yaudah aku tadi bilang gak usah jemput aku, aku mau naik jemputan aja ehh dia malah dateng jemput sambil muka jutek gak ngomong sama sekali selain nyuruh aku naik motornya. Aku tuh pengen jelas aja, A. Aku udah mulai ada rasa sama dia dan aku mau tau perasaan aku tuh mau dibawa kemana. Kalo dia hanya nganggap aku temen atau adik ya oke fine aku bakal berhenti punya rasa sama dia dan dia gak usah ngasih perhatian lebih ke aku kayak ke pacarnya. Ya kalo dia nganggap lebih ya tinggal diperjelas aja statusnya" jelas Tania.
Nicko manggut-manggut menanggapi cerita Tania, akhirnya ia tau apa yang sedang dipikirkan Tania. Nicko sudah khatam sifat Tania, jika ada masalah dan mengganggu pikirannya terus di tanya dia gak mau cerita itu artinya dia butuh waktu untuk sendiri sampai akhirnya ia bercerita dengan sendirinya.
"Oh gitu, ya kamu gak salah minta kejelasan sama dia. Yang aneh itu sikapnya dia yang tiba-tiba jadi berubah jutek sama kamu"
"Iya nah itu dia aneh kata aku juga. Terus yang buat aku gak habis pikir masa coba aku ngomongin A Yudha dia malah marah, kan dia juga udah tau hubungan aku sama A Yudha, A Nicko, sama Iqbal kayak gimana. Malah aku waktu itu cerita sedetail-detailnya jaga-jaga dia minta aku buat jadi pacarnya biar gak ada salah paham kedepannya" jelas Tania.
"Wahhh indikator gak akan bener kalo di terusin juga, Tan. Geer amat kamu mau dijadiin pacar ama dia hahahha" Nicko tergelak sambil menjitak kepala Tania.
"Awwww.... Kebiasaan ih" ucap Tania meringis mengusap kepalanya.
"Hahahha gatal tangan aku kalo gak jitak kamu. Udah kamu bersikap biasa aja biar dia gak kepedean juga dikejar cewek kayak kamu. Enak aja dikira adek gue cewek gampangan apa. Kamu jangan dulu hubungin dia kalo dia gak hubungin duluan mulai sekarang" nasihat Nicko dengan memasang wajah serius.
"Hahahah mukanya gak usah diserius seriusin gitu gak pantes tau gak. Muka oces juga" Tania tertawa. (oces: petakilan)
"Ehm tau gak di QC ada anak baru cakep, bening lagi. Kamu mau gak bantuin aku buat kenalan sama dia" ucap Nicko mengalihkan pembicaraan.
"Oke aku coba ya nanti aku tanyain ke Teh Lina siapa tau masih single. Kalo dapet nanti imbalan buat aku apa?" tanya Tania antusias.
"Mudah-mudahan single biar kalo dapet nanti aku ada temen ke undangan nikahan Sari"
"Aamiin. Terus aku dapat apa?" tanya Tania menaik turunkan alisnya dan menengadahkan tangannya ke depan Nicko.
"Kalo dapet nanti aku traktir makan selama seminggu ditambah nanti aku isiin paket data unlimited buat kamu" ucap Nicko.
"Tambah sama coklat ya tiap hari selama seminggu" pinta Tania.
"Oke deal" Mereka bersalaman membuat kesepakatan dan pada saat itu berbarengan dengan suara bel tanda masuk berbunyi. Mereka menghela nafas saking asiknya ngobrol sampai waktu istirahat terasa sebentar.
__ADS_1
Mari bersiap ke medan pertempuran setelah Pak Mul datang.........FIGHTING !!!!!!!