
Flashback
Mamah Yudha hampir pingsan melihat anaknya dalam keadaan babak belur seperti itu. Ia tidak menyangka anaknya akan baku hantam dengan orang lain. Ia masih tidak percaya anak sebaik dan sekalem Yudha bisa berkelahi seperti itu.
"Yud, ceritakan bagaimana kejadiannya kok bisa kamu saling pukul sama orang?" tanya mamah Yudha.
Yudha yang ditanya masih dengan jurus diam seribu bahasanya ketika ditanyai oleh orang tua dan kakaknya.
"Nanti aja jelasinnya sekalian pas rundingan kedua belah pihak" ucap Yudha dingin.
Kakak dan Mamah Yudha hanya menghela nafas mendengar penuturan singkat dari Yudha. Neng pun ketika ditanyai hanya bisa angkat bahu dan tidak mau angkat bicara. Masih terlihat raut ketakutan di wajahnya.
Jelang perundingan antara kedua belah pihak Yudha masih belum mau angkat bicara. Saat perundingan, waktu berjalan agak alot. Irwan yang tidak mengakui kesalahannya dan malah berbangga diri telah membuktikan kalau Yudha memang mempunyai perasaan yang lebih untuk Tania. Yudha tidak menyangkal ataupun mengakui.
Setelah masalah bisa diselesaikan secara baik-baik. Mamah Yudha sudah tidak tahan ingin penegasan dari anaknya itu.
"Yud, Mamah gak mau lagi kamu bungkam sama perasaan kamu. Mamah bisa baca dari tatapan kamu kalo kamu memang punya perasaaan sama Tania"
"Yudha sama Tania cuman adik kakak'an aja, Mah. Yudha udah nganggap Tania sama seperti Neng"
"Bohong ! Dalam hubungan laki-laki dan perempuan itu tidak ada yang namanya murni seratus persen temenan, Yud. Pasti ada salah satu diantara kalian yang saling memendam rasa lebih" ucap Mamah Yudha.
"Mah, kalaupun kejadian ini menimpa Neng, Yudha pasti melakukan hal yang sama buat melindungi orang yang Yudha sayang" keukeuh Yudha.
"Coba kamu tatap mata mamah" ujar Mamah Yudha sembari mengangkat wajah anaknya agar matanya saling bertatapan. "Mamah mengandung kamu sembilan bulan, menyusui kamu sampai usia 2 tahun lalu Mamah yang mengasuh dan membesarkan kamu. Mamah tau kamu itu seperti apa, bathin mamah gak bisa di paling, Yud" ucap Mamah lirih dengan penuh perasaan keibuannya.
__ADS_1
Lama Yudha termenung, mencerna setiap perkataan ibunya. Ia menimbang-nimbang perasaannya, apakah ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala gundah dihatinya.
"Mamah bener. Perasaan aku sama Tania memang mempunyai rasa yang lebih dari sekedar teman, sahabat, atau adik. Perasaan ini hadir begitu aja tanpa bisa aku cegah, Mah" ujar Yudha sambil menunduk dan menyandar di kepala ranjang tempat tidurnya.
"Lalu apa Tania sudah tau tentang perasaan kamu?" Yudha menggeleng tidak yakin.
"Lalu, apa rencana kamu dengan perasaan kamu? Apa kamu mau bilang kalau kamu mau berhubungan yang lebih dengan dia?"
"Aku gak tau, Mah. Yang aku lihat dia bener-bener sudah menganggap aku seperti kakaknya sendiri. Dia tidak akan pernah menyadari kalo aku sangat cinta sama dia"
"Jangan cemen jadi lelaki. Kamu harus gentle menghadapi perasaan kamu. Kamu harus tanggung jawab"
"Aku takut, Mah. Aku takut kalau seandainya aku di tolak, Tania akan menjauhi aku. Dan setau aku dia sedang dekat dengan seseorang"
"Yasudah saran Mamah simple aja. Jauhi Tania ! Mamah gak mau liat anak mamah terluka lagi. Sekarang aja dia tidak peka dengan perasaan kamu dan malah menarik kamu dalam masalah dia dengan orang lain. Jujur aja orang tua mana yang rela lihat anaknya saling pukul hanya karena wanita. Mamah gak nerima kamu sampai bonyok kayak gini dan itu gara-gara Tania"
"Yud....Yud....Masih aja kamu segitu bela nya sama Tania. Kamu mau sehancur apa lagi buat melindungi Tania, hah? Orang lain aja sadar dan merasakan kalau kamu itu punya perasaan lebih sama Tania, dan mana Tania peka atau tidak, Yud? "
"Mamah mau kali iniiii.....aja Yud kamu turutin keinginan Mamah. Untuk sekarang kamu jauhi Tania, itu pun kalau kamu sayang sama Mamah"
"Gak bisa gitu donk, Mah"
"Mamah gak mau tau, Yud. Mamah gak mau kamu mempertaruhkan diri kamu lagi dalam bahaya seperti kemarin apalagi untuk cewek yang tidak peka sama perasaan anak Mamah. Dunia tidak selebar daun kelor dan Mamah kira kamu sudah cukup dewasa untuk mempertimbangkan ini semua" ucap Mamah seraya berjalan keluar dari kamar Yudha.
Yudha tidak berani menjawab semua perkataan ibunya. Yudha adalah anak yang penurut kepada kedua orang tuanya. Selepas Mamah keluar dari kamar, perasaan gelisah semakin menggelora dalam hatinya. Rasa kantuk dari obat yang ia konsumsi pun tidak berpengaruh saat ini.
__ADS_1
Jam 2 malam baru ia bisa memejamkan matanya. Keesokan paginya, ia tampak masih merenungkan kalimat-kalimat yang di ucapkan ibunya tadi malam. Dengan sedikit keyakinan ia akan mencoba menjauhi Tania demi menghilangkan perasaannya yang justru semakin kuat.
Yudha meraih ponselnya, lalu mengeluarkan slot sim card dan melepaskannya. Ia menyuruh Neng untuk membeli kartu perdana ke konter dekat rumahnya. Setelah itu ia hubungi Nicko dan Iqbal untuk memberitahukan kalau ia berganti nomor. Terkecuali Tania.
Awalnya Nicko dan Iqbal heran kenapa tiba-tiba Yudha mengganti nomornya dan Yudha pun tidak memberitahukan alasannya apa hanya berdalih hangus kelupaan isi pulsa padahal masa aktif kartunya masih panjang.
Hal yang membuat Nicko dan Iqbal semakin terheran-heran adalah sikap Yudha yang berubah 360 derajat kepada Tania. Mereka sempat mengira kalau diantara Yudha dan Tania sedang terjadi sesuatu. Ingin mereka menanyakan langsung kepada Yudha, tapi melihat raut wajah yang tidak bersahabat akhirnya mereka urung untuk menanyakannya.
"Bal, ada apa ya antara si Tanikuk dan si Yudha?" tanya Nicko pada Iqbal saat makan di kantin.
Iqbal mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Nicko memalingkan mukanya sambil berpikir.
"Gue curiga ada sesuatu deh. Tapi gak tau apa. Si Yudha ganti nomor dan si Tanikuk gak tau sama sekali kalo si Yudha ganti nomor" lagak Nicko menirukan Detective Conan.
"Sepemikiran sama gue Boy. Gue juga lagi mikir gitu. Kemaren si Yudha sakit apa sih? Kok gue tilik-tilik di dekat mata si Yudha kayak memar abis di tonjok gitu"
"Kok lu bisa sedetail itu mengamati si Yudha?"
"Kan keliatan atuh Boy....."
"Masa iya sih si Yudha berantem? Dia kan anak yang anti kekerasan"
"Nah iya apa mungkin Yudha berantem dan itu ada kaitannya dengan Tania? Sehingga dia sampe gak respect sama si Tania dan terkesan menjauhi?"
"Bisa jadi sih. Kasian gue liat mimik muka si Tanikuk, kayak yang kecewa, bingung, sedih jadi satu"
__ADS_1
"He'emh" ucap Iqbal singkat tanda setuju dengan ucapan Nicko.