
Sore harinya Akbar langsung datang ke rumah Tania. Sepulang bekerja ia tidak pulang dulu ke rumahnya melainkan ke rumah Tania karena rasa khawatir di hatinya.
Tokk....Tok.....Tok....
"Assalamualaikum" seru Akbar di depan rumah Tania.
Lama tak ada jawaban, Akbar mengulanginya lagi sampai tiga kali baru ada sahutan dari dalam.
"Waalaikumsalam". Ibu membuka pintu dan mempersilahkan masuk begitu tau Akbar yang datang.
"Maaf ya barusan ibu lagi di kamar mandi. Silahkan duduk" ibu mempersilahkan lalu kembali ke dapur untuk mengambilkan segelas kopi dan camilan.
"Duh, bu maaf jadi ngerepotin"
"Ngerepotin apanya cuman air doank kok. Baru pulang kerja, A"
"Iya bu. Saya langsung kesini begitu dengar Tania sakit". Jawab Akbar mantap tanpa ada rasa sungkan.
"Sebentar atuh ya ibu panggilkan dulu Tania nya".
Ibu keluar dari kamar Tania bersama dengan Tania di belakangnya. Wajahnya murung dan matanya terlihat sembab. Ia terus menundukkan wajahnya karena malu.
"Eh, baru pulang?" Tanya Tania basa-basi. Akbar hanya menganggukkan kepala dengan tatapan masih terfokus pada Tania.
Tania yang tersadar sedang diperhatikan, tampak kikuk dan memalingkan wajahnya ke arah yang lain agar keadaan wajahnya tidak begitu kentara terlihat oleh Akbar.
"Kamu sakit apa? Apa ada masalah? Tadi aku anterin sarapan buat kamu sebelum berangkat kerja keliatannya gak apa-apa". Tania melongo heran, tau dari mana Akbar kalau ia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku khawatir sama kamu" ucap Akbar seakan tahu apa yang akan Tania katakan dari mimik wajahnya. "Tadi aku sempat telepon sama kamu tapi yang jawab ibu, kata ibu kamu lagi gak enak badan soalnya kerja aja kamu balik lagi" imbuhnya lagi menjelaskan.
"Kamu jangan salah paham ya, bukan aku mau ikut campur urusan kamu, setidaknya kita kan teman. Mungkin aku bisa tau apa yang sedang kamu alami. Tapi ya kalo kamu keberatan it's ok gapapa aku gak akan maksa kamu buat berbagi cerita". Tania tampak menimbang-nimbang.
Wajahnya terlihat ragu. Saat ini sahabatnya, Nicko maupun Iqbal sedang tidak bisa diajak bicara. Hatinya terasa dongkol saat tahu keadaan Yudha yang sebenarnya, walaupun sebenarnya juga Iqbal pun sama seperti Tania. Hatinya sedikit melega setelah emosinya dikeluarkan melalui tangis dihadapan ibu sekaligus menceritakan kekecewaannya.
Sebetulnya yang pantas kecewa itu pihak Yudha atau Tania?
Menjawab perkataan Akbar, Tania hanya membalas dengan sunggingan senyum saja di bibirnya. Akbar paham dengan apa yang tersirat.
Mereka pun saling diam. Tania tidak tau mau membahas apa sekarang bersama Akbar. Pikirannya serasa stuck tidak bisa berpikir. Begitu juga dengan Akbar, baginya ini suasana yang agak sedikit canggung, karena tiba-tiba saja ia meminta Tania untuk bercerita kepadanya dan terlalu khawatir.
Hanya suara detak jarum jam yang terdengar. Mereka masih saling diam sebelum akhirnya ponsel Tania berdering dan dengan segera Tania mengangkatnya.
"Assalamualaikum"
...............
__ADS_1
"Ada apa, A?"
...............
"Ya, aku baik-baik aja walaupun sebenarnya enggak"
..............
"Ya maaf aku juga tadi kebawa emosi langsung pulang gitu aja tanpa ijin sama Mbak Ani dan personalia"
...............
"Iya aku tau bakal kena SP lagi. Besok aku langsung ke personalia".
.................
"Besok?"
..................
"Apa aku boleh ikut besuk?"
...................
"Apa dengan kedatangan aku, A Yudha bakalan baik-baik aja?"
..................
.................
"Iya. Waalaikumsalam".
Tania tidak menyadari kalau secara tidak sengaja Akbar mendengar pembicaraan Tania di telepon.
"Siapa yang sakit?" Tanya Akbar begitu Tania menutup teleponnya. Tania terhenyak dan memandang Akbar.
"Teman aku" jawab Tania singkat.
"Sakit apa? Maaf tadi aku gak sengaja denger obrolan kamu. Memangnya ada hubungan apa sakitnya teman kamu sama kamu?"
"Dirawat di RS mana? Kalo kamu gak keberatan boleh aku antar?"
Tania tampak berpikir dan tidak lama mengangguk mengiyakan.
"Oke besok tunggu aku jemput aja ya biar pulang kerja sekalian ke rumah sakit".
__ADS_1
"Iya. Nanti calling-calling aja deh. Eh, by the way kamu baru pulang kerja pasti belum makan ya?" Dalam waktu singkat Tania sudah berubah haluan menjadi Tania yang ceria lagi.
"Iya. Kita pesen online aja ya. Kamu sukanya apa? Ayam geprek mau?" Tawar Akbar. Bukannya Tania yang menawarkan malah tamu yang berinisiatif memesan makanan.
Tania membuka ponsel dan aplikasi online. Dilihatnya berbagai macam pilihan makanan yang tersedia.
"Eh, gimana kalau pesan ayam bakar?" Tawar Tania.
"Boleh deh. Pesan di kamu atau di aku nih? Aku lagi ada voucher promo nih" Tawar Akbar kembali.
"Boleh deh di kamu aja"
"Oke". Tangan Akbar pun berselancar diponselnya untuk memesan makanan.
Sekitar 45 menit pesanan akhirnya datang. Akbar mengeluarkan 5 bungkusan nasi dan 5 potong ayam bakar dengan sambal serta lalapaannya. Tania membelalakkan matanya kaget kenapa Akbar begitu banyak memesan makanan.
"Bar, kok nasi sama ayamnya banyak?"
"Hmmmh, ini kan buat ibu, bapak sama Salwa juga. Masa kita mau makan sendirian aja. Lagian lumayan kan ada voucher ditambah kalo beli banyak potongan harganya tambah gede hehehe".
"Oh iya ya hahaha lumayan atuh ya. Bisa irit sekalian kenyang berjamaah juga".
"Ya sudah hayu makan. Eh, tapi aku ikut cuci tangan dulu."
Akbar makan dengan lahap, mungkin karena baru pulang kerja jadi ia sangat lapar. Tania hanya makan setengahnya saja, ***** makannya berkurang.
Ia meletakkan piring diatas meja, Akbar berniat untuk bertanya, tapi ia urungkan karena melihat wajah Tania kembali sendu. Akbar hanya sesekali memandang wajah Tania lalu kembali fokus melahap makanannya.
"Kenapa makannya gak dihabiskan?" Tanya Akbar setelah menghabiskan makan lalu mencuci tangannya.
"Sayang makanannya gak dihabiskan. Kalo kamu sedikit makannya nanti asam lambungnya kumat lagi"
"Kamu.....Tau dari mana aku punya asam lambung?" Tania penasaran.
"Biasa lah dari Mbak Sofie. Tanpa sengaja dia selalu suka cerita tentang kamu" dengan santainya Akbar bicara seperti itu pada Tania.
"Ish...Mbak Sofie mah ember ya. Kok ceritain aku sih. Aku kan bukan selebritis" Tania cemberut.
"Hahaha mukanya gak usah di imut-imutin gitu juga kali gak sesuai sama umur" ucap Akbar tergelak dan akhirnya mendapat timpukan bantal sofa dari Tania.
"Emang Mbak Sofie cerita apa aja?" mode penasaran Tania semakin membesar.
"Ada deh.....mau tau aja atau mau tau bangeeett?"
"Gak jadi deh pengen tau nya"
__ADS_1
"Aishhhh ini anak pundungan".
Jurus humor Akbar sedikit berhasil membuat Tania kembali ke mode ceria. Akbar mulai tahu kalau Tania itu orangnya moodyan. Moodnya gampang berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Membuat Tania tertawa menjadi sebuah hiburan dan kesenangan bagi Akbar. Akankah dengan Akbar, Tania akan menemukan cahaya cintanya?