
Walau setelah kejadian itu Yudha kembali menjadi Yudha yang dingin, tapi Tania bahagia ternyata jauh di lubuk hati Yudha masih ada rasa peduli kepadanya.
Seperti biasa Tania pulang menggunakan armada angkutan karyawan dan naik ojek menuju rumahnya.
"Kok rame yah? Apa ada tamu?" Gumam Tania sambil berjalan mendekati rumahnya.
"Assalamu'alaikum" tampak semua yang ada di ruang tamu melirik kearah asal suara. Begitu melihat, Tania sangat kaget atas tamu yang kini sedang asyik mengobrol dengan Bapak.
"Eh, ini yang di omongin panjang umur" Tania kebingungan ketika Bapak bicara seperti itu.
"Hah ngomongin apaan, Pak? Jangan ngomongin teteh yang aneh-aneh deh"
"Ngomongin kamu yang kalo tidur hpnya masih nyala. Nonton kok sampe ketiduran" kali ini malah Akbar yang menimpali ucapan Tania. Bapak melengos saja meninggalkan Tania dan Akbar di ruang tamu. Tania duduk tepat di seberang Akbar. Nampak secangkir kopi sudah terhidang dan masih tersisa setengah cangkir lagi. Rupanya sang tamu sudah menyesapnya daritadi.
"Kamuu..." ucap Tania dan Akbar berbarengan.
"Eh sok kamu duluan" ujar Akbar.
"Hmmm. Kamu kok bisa tau rumah aku? Tau dari mana?" tanya Tania kikuk.
"Dari nabi atuh"
"Nabi? Maksudnya?" tanya Tania lagi tak mengerti.
"Iya Nabi....Na...Bi....bir"
"Ih makin gak ngerti deh ah"
"Maksudnya gini ya ukhti.....aku tuh nanyain ke orang-orang gitu"
"Ohh....Seperti itu. Bukannya bilang atuh dari tadi. Pasti dari si Wulan ya?"
"Iya awalnya dari si Neneng bulu. Tapi dia cuma ngasih patokan gangnya aja, gak spesifik ke rumah kamunya. Jadi aja aku nanyain ke tetangga kamu"
"Oh..iya iya aku baru paham. Maaf ya baru pulang kerja jadi agak loading otaknya heheh" kekeh Tania.
"Ya di maklum, di maklum" canda Akbar.
"Refresh dulu sana bersih-bersih bau semerbak" lanjutnya. Tanpa sadar Tania menciumi bau pada badannya.
__ADS_1
"Ih apaan enggak bau kok. Aku selalu sedia parfum".
"Hahaha polos banget kamu tuh" gelak Akbar.
"Ish...Iseng banget sih. Lagian barusan aku tuh refleks aja. Kan kalo kita bau dan bikin orang gak nyaman bisa malu aku tuh. Yaudah aku bersih-bersih dulu ya biar ngobrolnya enak" Tania beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya. Mata Akbar masih mengikuti kemana Tania pergi masih dengan senyuman memamerkan deretan gigi putihnya.
Setengah jam berlalu, akhirnya Tania beres melakukan ritual bersih-bersihnya. Ia kembali menemui Akbar di ruang tamu.
"Maaf ya lama" ucap Tania. Kali ini ia sudah berganti kostum dengan piyama tidur dan jilbab instan.
"Gak kok. Setengah jam mah terhitung sebentar atuh buat cewek mah. Biasanya cewek bakalan lama kalo mandi. Luluran lah, maskeran lah, apalah-apalah" ucap Akbar sambil menirukan lirik lagu dangdut.
"Tunggu-tunggu, apa kamu pemerhati cewek kalo ke kamar mandi?"
"Ya enggak atuh. Riset itu berdasarkan pengamatan sama sepupuku kalo lagi nginep di rumah hahaha"
"Ishh gak ada kerjaan banget deh. Eh By the way ada apa kamu kesini?"
"Ya mau main aja. Gak boleh gitu?"
"Ya boleh-boleh aja lah. Orang temen-temen aku juga suka main kesini".
"Apa yang namanya Yudha juga suka main?"
"Ehh ehh kok mukanya di tekuk sih? Aku ganggu ya? Apa ada omongan aku yang bikin kamu tersinggung?"
"Eh...Enggak kok enggak sorry ya" bertepatan dengan itu ponsel Tania berdering. setelah mengangkat teleponnya Tania berteriak memanggil adiknya.
"Adeeee.....Tolong dong bawain makanan itu si mamang ojolnya udah di depan gang" teriak Tania. Salwa pun keluar dari sarangnya.
"Ish ganggu aja deh" Salwa memasang mode cemberut.
"Amal atuh de. Teteh males keluar" ucap Tania memelas.
"Yaudah mana uangnya sekalian ongkirnya"
"Udah di bayar pakai aplikasi sama ongkirnya juga kan sekalian"
"Bukan ongkir itu. Ongkir aku jalan kaki ke depan gang"
__ADS_1
"Kan teteh bilang juga amal"
Melihat adik kakak yang sedang bersitegang, Akbar menggelengkan kepalanya dengan tertawa kecil. Tontonan gratis di depannya membuat ia ingat akan adiknya. Sudah lama juga ia tidak beradu argumen, belakangan ini mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Akbar yang selalu diam di kamar saat sudah lelah seharian bekerja dan Abyan yang selalu nongkrong sama teman-temannya.
Tak beberapa lama, Salwa datang dengan menenteng satu kantong makanan lalu memberikannya pada Tania masih dengan mode cemberut.
"Makasih" ucap Tania seraya membuka kantong makanan.
"Gak gratis ya" ucap Salwa sembari masuk kedalam sarangnya lagi.
"Adik kamu lucu ya" ucap Akbar.
"Lucu apanya nyebelin yang ada. Matre kalo di suruh udah kayak Pak Ogah aja Gopek duluuuuu" ucap Tania menirukan gaya Pak Ogah yang otomatis Akbar tergelak karenanya.
"Hahah bisa aja kamu mah" Akbar masih dengan tertawanya yang renyah.
"Silahkan di makan, Bar. Aku gak punya makanan bagus euy. Seadanya aja ya. Salah siapa bertamu kok gak bilang-bilang" keluh Tania.
"Santai aja kali. Kan kesini juga niatnya mau main bukan mau makan. Lagian kalo bilang bukan kejutan lagi donk" ujar Akbar.
"Tapi kan yang namanya Tamu tuh harus di istimewa kan. Dalam bahasa Sunda mah tamu itu singkatan dari 'di tata di mumule' yang artinya kalo gak salah ya, kita itu harus memuliakan orang yang datang berkunjung ke rumah kita" jelas Tania.
"Mmmm gitu ya.. Gimana kalo yang berkunjung nya itu gak punya niat baik buat kita?" tanya Akbar.
"Ya lain lagi ceritanya. Kan kalo ada yang berkunjung kita tanyai dulu ada apa datang kemari gitu kayak tadi aku ke kamu. Kalo ada maksud jelek ya sebisa mungkin mah biasa aja"
"Gak perlu di suguhin kan ya kalo ada yang kayak gitu" ucap Akbar asal.
"Ya di suguhin mah di suguhin aja sekedar air putih mah. Kan kita juga punya etika sebagai tuan rumah"
"Pinter jawabnya kamu. Tapi kalo di pikir mah emang iya sih harus gitu. Kita sebagai bangsa timur kan menjunjung tinggi nilai etika , norma dan budaya ya"
"Nah itu betul tuh. Ish ngajak ngobrol aja sok atuh di cicipi makanannya mumpung masih hangat" ucap Tania sambil menyodorkan roti bakar kepada Akbar.
"Manis. Kayak kamu" ucap Akbar sambil mengunyah roti bakarnya.
"Apanya?" tanya Tania yang juga mengunyah roti bakar.
"Iya roti bakar ini manis kayak kamu manisssss"
__ADS_1
"Gak usah gombal ya...Gak mempan tau dah kebal gak mau lagi kena gombalan. Lagian aku bukan hanya manis tapi juga syantiiikkkkk" canda Tania.
"Yeeeeeee pede amat Non..."