Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Entahlah


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari setelah insiden baku hantam antara Yudha dan Irwan. Tania memblokir seluruh akses dengan Irwan, mulai dari nomor WhatsApp dan media sosial. Luka memar di wajah Yudha pun semakin membaik. Terhitung dua hari sudah Yudha tidak masuk kerja, kalau Tania memang sedang di rumahkan sehingga ia bisa leluasa menengok Yudha setiap harinya.


"A, udah diolesin salep belum? Itu memar dipelipisnya masih biru gitu" ucap Tania.


"Belum, tolong dong olesin tadi abis mandi aku langsung makan jadi lupa buat olesin salepnya" ujar Yudha. Dengan hati-hati Tania mengoleskan salep dipelipis Yudha khawatir terlalu keras menekan memarnya, kebayang kan sakitnya.


"Udah, terus obatnya udah di minum belum?"


"Udah, tadi abis makan. Kamu gak ada kegiatan selama di rumahin?" tanya Yudha.


"Gak ada Hehehe" ucap Tania cengengesan. "Makanya aku kesini. Lagian A Yudha jadi begini juga gara-gara aku"


"Ish udah berapa kali aku bilang, kamu gak usah merasa bersalah ini bukan murni kesalahan kamu. Kamu liat sendiri kan aku baik-baik aja"


"Iya, makanya A Yudha cepet sembuh ya biar aku gak merasa bersalah terus"


"Aku udah sembuh tinggal ini nih luka lebamnya aja, butuh waktu buat ngilanginnya. Kalo udah agak samar, aku baru masuk kerja lagi. Tau sendiri kan Pak Mul kalo liat karyawannya sakit bakalan kayak gimana" ucap Yudha.


"Hmm iya juga sih. Pas aku sakit aja Pak Mul khawatirnya kayak gitu" timpal Tania.


Drrrtt...Drrrtt....Ponsel Tania bergetar, panggilan masuk dari Wulan.


"Assalamu'alaikum, Lan"


"Wa'alaikumsalam. Kamu dimana, Tan?"


"Di rumah A Yudha. Ada apa gitu?"


"Oh aku kira kamu di rumah. Boro aku mau ke rumah kamu. Ada piobroleun. Kamu lagi apa di rumah A Yudha? Gak kerja emang?"


"Ngobrolin apa? Lagi nengokin A Yudha atuh, aku kan lagi di rumahin selama seminggu ini"


"Nengokin apa nengokin nihhh? hahaha" goda Wulan


"Nengokin atuh Wulan, emang apa lagi?"


"Gak deh. Gak enak ngomong di telepon takut ada yang denger. Kalo kamu dah di rumah kabarin aja ya"

__ADS_1


"Oke atuh, bentar lagi juga aku pulang"


"Siaap..Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Secara tidak langsung obrolan Wulan dan Tania terdengar oleh Yudha, sebab Tania duduk di sebelah Yudha.


"Wulan mau ketemu? Kayaknya penting, gapapa sok aja kalo mau pulang aku juga mau tidur, ngantuk obatnya udah bereaksi jadi berat deh mata aku. Hoaaaammmmm" ucap Yudha yang sudah membaringkan badannya di kursi panjang.


"Sepertinya gitu. Yaudah atuh aku pulang ya" Yudha mengangguk saat Tania hendak pulang dan berpamitan. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, obat yang dikonsumsi mengandung obat tidur sehingga sesaat setelah minum obat pasti mata akan menjadi ngantuk.


Ketika berpamitan dengan mamahnya Yudha, Tania merasa ada yang aneh. Sikap Mamahnya Yudha tidak seperti biasanya yang selalu hangat dan ramah kepada Tania, ini malah sebaliknya sinis bahkan tidak melihat ke arah Tania sedikitpun.


Tania pulang menggunakan ojek online, kalau ada Neng, pasti ia akan di antarkan. Sepanjang perjalanan pikirannya bergelut tentang sikap mamah Yudha yang berubah. Perasaannya tidak enak dan menciptakan rasa bersalah yang kian besar bagi Tania.


Pastilah sikap mamah Yudha berubah akibat insiden kemarin. Mana ada orang tua yang terima kalau anaknya babak belur seperti itu dan yang jadi penyebabnya bukan masalah pribadi Yudha melainkan membela Tania.


Karena melamun Tania tidak sadar kalau sudah sampai di depan gang rumahnya.


"Neng, ini udah sampai" ucap si mamang ojek yang usianya sudah agak separuh baya.


"Wah, gak ada kembaliannya neng" ucap si mamang ojek.


"Ambil aja kembaliannya, Pak"


"Alhamdulillah, makasih ya neng. Semoga rejekinya makin banyak ya dan jangan suka ngelamun lagi, setan mah paling suka liat manusia ngelamun gitu"


"Heheh iya pak aamiin. Makasih Pak do'anya"


Setelah kepergian mamang ojek, Tania menuju rumahnya yang terhalang 4 rumah dari depan gang. Ia lalu masuk ke kamarnya dan mengabari Wulan bahwa kini ia sudah ada di rumah.


Wulan yang begitu di kabari Tania langsung datang tanpa menunggu lama lagi dan masuk ke kamar Tania seperti biasa.


"Ada apa sih, Lan. Emang penting yah obrolannya?" tanya Tania penasaran.


"Ya penting gak penting sih, Lan. Kemarin aku abis jalan sama A Aldi dan ngobrolin masalah insiden kamu" ucap Wulan to the point.

__ADS_1


"Terus gimana tanggapan A Aldi. Waktu sidang kemarin kan dia juga ikut menyaksikan" ujar Tania.


"Nah itu dia. Kata A Aldi, selama dia temenan sama si breng sek itu tuh gak pernah liat si Irwan adu jotos sama orang apalagi masalahnya cewek. Biasanya kalo masalah cewek dia bakalan santai aja gampang cari yang lain toh stok ceweknya kan banyak" jelas Wulan yang diperhatikan dengan seksama oleh Tania.


"Ayahnya Irwan juga marah gede, Tan kemarin tuh. Katanya Irwan dah bikin malu keluarga, menghina anak orang sampai merendahkan dengan kata-kata yang gak pantas apalagi yang dikatain sama Irwan tuh cewek. Ayahnya gak pernah ngajarin anaknya buat jadi cowok breng sek. Menghina perempuan berarti menghina ibu sendiri katanya gitu" terang Wulan yang suka mendetail kalau sudah bercerita.


"Mukanya si Irwan kan udah bonyok yah, eh malah kena gampar dua kali sama ayahnya. A Aldi juga kecewa sama sikap si Irwan itu akhirnya A Aldi ngediemin dia deh. Syukurin ngakunya anak sekolahan tapi attitude gak di pake"


"Terus sekarang kamu gimana? A Yudha gimana?" tanya Wulan.


"A Yudha udah baikan sekarang, tinggal memar di wajahnya aja masih pada biru. Aku sih ya gimana ya, disebut baik-baik aja enggak, disebut gak baik-baik aja enggak juga" jawab Tania


"Lah jelasnya gimana?"


"Iya aku ngerasa bersalah aja, Lan. Kalo bukan gara-gara aku mungkin gak akan ada masalah kayak gini. A Yudha juga gak akan kebawa-bawa" keluh Tania.


"A Yudha care banget ya sama kamu. Apa mungkin dia punya perasaan sama kamu? Bukan sekedar adik aja, Tan. Tapi lebih" ucap Wulan menerka-nerka.


"A Irwan juga bilang kayak gitu kemarin. Tapi gak tau ah aku gak bisa mikir jernih. Masih abu-abu buat aku. Dan kamu tau gak Lan, sikap mamahnya A Yudha jadi berubah sama aku. Gak sehangat biasanya, malah sinis banget sama aku". Terlihat gurat sedih di wajah Tania.


"Sabar, Tan. Mungkin mamahnya A Yudha masih marah dan gak terima anaknya digituin. Terus kalo si Irwan gimana?"


"Aku udah blokir semuanya nomor handphone dan akun sosial medianya. Males aku berurusan sama orang kayak dia lagi"


"Bagus deh. Aku aja sebel denger kelakuannya absurd kayak gitu. Bar bar pisan. Terus kalo sama Abay?" ujar Wulan mengalihkan pembicaraan.


"Udah tiga hari aku gak kontekan sama dia"


"Loh kok gitu?"


"Aku lagi gak mau diganggu dulu, Lan. Takutnya malah ngelemparin emosi aku ke orang lain, jadi aku mau cooling down dulu"


"Pantesan dia nanyain kamu terus katanya gak balas-balas chat sama telepon dia gak diangkat. Yaudah kalo dia nanya aku jawab gitu aja ya"


"Tapi jangan di bilang kalo aku lagi ada masalah kayak gini ya"


"Siappp....Kalo gitu kita ngebakso yuk"

__ADS_1


"Hayu tapi pesen online aja aku lagi malas keluar"


"Oke"


__ADS_2