
Selepas Sholat isya' Tania dan teman-temannya melakukan do'a bersama melalui sebuah aplikasi meet. Meskipun di rumah masing-masing, tapi mereka bisa berkumpul lewat sebuah aplikasi. Do'a dipimpin oleh Nicko.
Jangan salah, meskipun terkenal petakilan tapi skill mengajinya tidak bisa di ragukan lagi. Malam itu suasana terasa syahdu. Biasanya jika mereka bertatap muka pasti akan tercipta guyonan demi guyonan. Ditambah, Neng dan Akbar yang turut serta bergabung.
\=\=\=\=\=\=\=
"Abis sholat nanti jangan lupa ngaji sama do'ain A Yudha agar segera sehat." Ujar Akbar ketika sampai mengantar Tania pulang di depan gang rumahnya.
"Iya. Kebetulan nanti malam juga kita mau do'a bersama."
"Eh dimana? Aku ikutan boleh?"
"Di rumah masing-masing tapi pakai aplikasi meet."
"Oke aku ikutan boleh kan ya?" Tanya Akbar lagi meyakinkan.
Tania mengangguk. "Oke nanti aku invite habis sholat isya' stand by aja." Akbar mengacungkan jempolnya seraya pamitan untuk pulang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keadaan terasa canggung karena ada orang yang baru mereka kenal. Tapi dengan mudah akrabnya Akbar suasana kembali mencair seperti semula. Akbar memang cocok seperti Tania. Supel, mudah bergaul dan pandai menempatkan diri.
Apa orang ini lagi deket sama Teh Tania? Ah.... Kalaupun iya aku gak bisa bilang gak boleh. Teh Tania bukan milik siapa-siapa karena A Yudha juga gak meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan tapi sebagai kakak dan adik layaknya aku. Hati Neng lirih.
Kalaupun mereka deket, aku setuju aja. Sekilas memang hangatnya kayak A Yudha. Keliatan orang yang penyayang. Semoga aja dia orang yang tepat buat Teh Tania, jangan sampai Teh Tania bertemu orang macam si Irwan lagi. Lanjut bathinnya mendo'akan.
Bagaimana pun Neng sangat dekat dengan Tania layaknya Salwa, adik kandung Tania. Ia juga bisa merasakan sayang yang begitu besar kepada Tania.
"Ehm....Oke kita mulai aja ya" ujar Nicko angkat bicara. "Sudah pada di siapkan kan Al-qurannya?"
"Sudah" semua kompak menjawab bersamaan.
"Oke. Sebelum kita mulai mengaji, mari kita sama-sama membaca Ta'awudz dan basmallah. Setelah itu membaca Istighfar 3x, Syahadat serta sholawat nabi. Dan setelah itu mari kita sama-sama membaca surat Yaasiin. Ucapkan dalam hati kita memohon kesembuhan bagi teman yang sudah kita anggap saudara sendiri yaitu Yudha Pratama. Mari kita mulai."
__ADS_1
Semuanya melantunkan arahan tadi yang diinstruksikan oleh Nicko. Semuanya juga tampak khusyuk, sampai Tania dan Neng meneteskan air mata. Nadanya juga terdengar gemetar. Sesekali Akbar mencuri pandang ke arah Tania.
Tatapannya terlihat penuh dengan rasa khawatir. Seakan merasakan apa yang tengah Tania rasakan. Neng pun juga begitu, ia sesekali melihat kearah Akbar. Neng yakin bahwa laki-laki itu benar-benar suka pada Tania.
Pengajian berlangsung kurang lebih 45 menit, dilanjutkan dengan pembacaan do'a yang masih dipimpin oleh Nicko.
"Aamiin Yaa Allah Yaa Rabbal'alamiin" Lantang Iqbal ketika Nicko membaca kalimat demi kalimat lantunan do'a.
Niat Neng yang akan meresapi setiap do'a yang terlantun untuk kakak tersayangnya jadi ambyar fokusnya karena suara Iqbal yang menganggu. Tapi tidak dengan Tania, ia tetap fokus meresapi dan meng-aamiin-kan do'a yang terlantun. Masih dengan air mata yang semakin mengucur deras di pipinya.
Ahhh andai saja aku ada di dekatmu, mungkin aku bisa menenangkanmu walau hanya memegang bahumu. Dan meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Yudha pasti akan sembuh. Apalagi dengan do'a dan semangat yang tak putus dari kalian sahabatnya. Terutama kamu. Tania Larasati..........
"Oke thanks ya guys atas waktunya. Semoga Allah mengijabah setiap do'a kita, agar sahabat kita, Yudha bisa segera sehat kembali. Aamiin.." ucap Nicko menutup acara do'a bersama.
"Eh tunggu, A. Ini mamah telepon." ucap Neng.
Semuanya menunggu kabar. Siapa tau Mamah Yudha menelepon memberi kabar perkembangan kondisi Yudha.
...........................
"Yang bener, Mah?" Raut wajah Neng berubah menjadi serius dan memandang semua orang satu persatu. Semuanya menunggu, menatap Neng lekat, meningkatkan indra pendengaran dan penglihatan.
...........................
"Iya. Iya Mah. Wa'alaikumsalam."
Sambungan terputus. Neng kembali menatap semua satu-satu. Mereka yang sedari tadi menunggu kabar dari Neng dengan tidak sabar agar Neng segera memberitahu mereka.
"Gimana, Neng?" Tanya Nicko.
"Iya gimana?" Sekarang Iqbal yang bertanya.
"Neng?". Hanya itu yang terucap dari Tania. Sementara Akbar masih diam menunggu.
__ADS_1
"Alhamdulillah....A Nicko, A Iqbal, A Akbar, Teteh....." Teriak Neng dengan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Apa Neng?" tanya Nicko lagi.
"Alhamdulillah..... A Yudha udah bisa melewati masa kritisnya. Alat-alatnya juga udah di lepas kecuali selang oksigen." ucap Neng dengan menangis tersedu-sedu.
"Alhamdulillah...Terimakasih Yaa Allah telah mendengarkan do'a kami" ujar Iqbal dengan menengadahkan tangan keatas.
Akbar mengusap dadanya seraya berkata yang sama dengan yang lainnya. Ia merasa lega. Meski perkenalan dengan Yudha terbilang baru dan bisa mengobrol hanya sebentar saja, tapi ia merasa sudah lama dekat dengan Yudha.
Setelah selesai do'a bersama dan akhirnya mendapat kabar baik dari rumah sakit, sambungan meet ditutup. Mereka kembali dengan aktivitas masing-masing.
Tringgggg..... Pesan masuk ke ponsel Tania.
"Aku bilang juga apa. Gwaenchanha hehe." tulis Akbar.
"Adeuhhh si akang udah pake mode kayak oppa korea segala." Balas Tania.
"Hahaha iya biar sejajar kayak aktor paporit kamu."
"Favorit bukan paporit."
"Kan aku mah orang sunda, gak bisa bilang F."
"Iya deh di iyain aja."
"Hahaha jangan terlalu serius sesekali mah."
"Iya meskipun tadi dapat kabar baik, tetep aja harus terus berdo'a agar A Yudha bisa pulih dan pulang ke rumah."
"Yuph. Betul. Yaudah atuh selamat istirahat aja ya."
"Iya sama sama ya selamat istirahat juga."
__ADS_1