Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Mati Satu Tumbuh Seribu


__ADS_3

Yudha masih belum melepaskan genggaman tangannya pada Tania saat melihat tatapan tajam dari seorang pria. Ya, dia adalah Irwan. Ia datang bersama seorang perempuan cantik tinggi semampai dengan rambut curly kekinian. Tatapannya bukan hanya sorot kemarahan melihat Tania bergandengan tangan bersama Yudha, terlebih ia juga menyaksikan tampilan Tania diatas panggung serta adegan penutup yang membuat heboh satu gedung. Tatapannya marah dan juga bingung, bingung atas perasaan yang datang dihatinya.


Tatapan Tania tidak kalah tajam, tadi malam Irwan mengirim pesan dan tidak memberi kepastian akan datang di hari pernikahan Mbak Sari. Dan ternyata Tania mendapatkan sebuah kejutan yang besar dari Irwan. Jadi ini maksud kata tunggu aku dari dia? Tanya Tania dalam hatinya. Tidak ada sapaan dari kedua belah pihak. Semuanya sama dalam mode hening.


"Yaelah dicari malah nyangkut disini" ucap Iqbal yang berjalan menuju arah Tania. Semuanya menoleh ke arah Iqbal, dan Iqbal pun tidak kalah kaget melihat ada Irwan bersama seorang wanita sedangkan didepannya ada Tania. Iqbal membaca kecanggungan diantara mereka sampai ia berpura-pura tidak peka dengan situasi tersebut.


"Hayu tuh cewek gue dah nungguin pengen foto bareng sama Mbak Sari terus katanya pengen selfie juga tuh di fotobooth" ajak Iqbal.


"Ehh hayu Tan" ucap Yudha seraya menarik tangan Tania untuk pergi dari hadapan cowok bad boy. Terlihat si cewek pun menggandeng lengan Irwan dan mengajaknya berlalu dari sana, terlihat seperti pasangan yang memamerkan kemesraan.


Tania, Iqbal, Mbak Sofie, Yudha menghampiri Fira, Nicko dan Resya untuk pengambilan foto. Sesi foto dilanjutkan dipojok fotobooth, pertama Fira yang berfoto mesra bersama Iqbal, kemudian Nicko bersama Resya, lanjut Tania, Mbak Sofie dan Yudha berfoto bertiga. Yudha yang menyadari Irwan masih menatap Tania, ia sengaja mengajak Tania untuk berfoto berdua tidak kalah mesra dengan Iqbal. Tania duduk dikursi sedangkan Yudha berdiri dibelakang Tania dengan membungkukkan badannya kedepan, memegang bahu Tania. Irwan terlihat tidak nyaman dengan pemandangan yang ia lihat. Besar perkiraan Irwan bahwa Tania ada sesuatu yang lebih dengan Yudha.


Semakin siang tamu undangan semakin banyak berdatangan, suasana di gedung begitu panas, Tania memutuskan untuk mencari udara sejenak karena ia begitu kegerahan. Dihalaman gedung tersedia taman terbuka hijau. Acara di dalam terdengar begitu riuh ketika lagu bergenre koplo dimainkan. Kini, ditaman Tania berada ia mencari pojokan yang teduh dibawah pohon rindang. Ia membuka ponselnya dan melihat hasil foto tadi bersama teman-temannya. Ia tersenyum saat melihat fotonya bersama Yudha, benarlah orang pasti akan mengira mereka berpacaran.


Tangannya berselancar mengupload foto ke media sosial, membuat status di akun WhatsApp. Ia tak menghiraukan lalu lalang orang yang ada dihadapannya, pikirannya terfokus pada ponsel dan udara sejuk yang kini ia rasakan. Terlupalah pertemuan mengejutkan tadi bersama Irwan. Sampai ia pun tidak menyadari ketika seseorang menjatuhkan satu cup es krim didekat kakinya.


"Astaghfirullah...euhhh" ucap seseorang. Perhatian Tania teralihkan ke asal suara dan menoleh ke bawah dekat kakinya.


"Aduh Teh, maaf ya" ucap laki-laki itu mengangguk pelan.


"Oh gapapa gak kena ini" ucap Tania Santai.


"Ini teh, si teteh yang tadi nyanyi ya?" tanya-nya.


"Eh, hehehhe" tawa Tania.


"Kenapa sendirian disini teh?" tanya-nya lagi.


"Lagi ngadem aja, A. Soalnya didalem sumpek banget tamunya banyak jadi gerah" jelas Tania.


"Bukannya Aa yang tadi main keyboard ya?" mata Tania menyipit.


"Iya. Gening masih inget" ucapnya.


"Iya atuh inget soalnya temen aku tadi ngeceng Aa heheheheh" tawa Tania.

__ADS_1


"Aduh jadi malu, kirain teteh yang ngeceng saya"


"Boleh gitu di keceng?" tanya Tania bercanda.


"Boleh banget atuh kalo dikecengin cewek secantik teteh mah gak akan nolak, apalagi suaranya bagus jadi satu frekuensi" ucapnya.


"Teteh suka kesenian?"


"Suka. Malah waktu SMP sama SMA aku ikut ekskul kesenian"


"Wah pantesan atuh suaranya kayak yang sudah terasah".


"Aa dari kapan suka bermusik?" tanya Tania.


"Dari kecil, soalnya nenek saya dulu orang seni jadi udah ngalir lah darah seninya. Kebetulan juga saya lulusan sekolah tinggi seni di Bandung" jelasnya.


"wuihh mantul atuh A" ucap Tania.


"Iya itung-itung hobi yang dibayar ini mah. Dari sering ikut manggung main musik bisa bayar kuliah sendiri"


"Hehehe iya. Eh kalo boleh tau nama teteh siapa? Biar nanti ketemu di jalan bisa nyapa"


"Oh iya kenalin nama aku Tania. Kalo Aa siapa?"


"Nama saya Akbar"


"By the way bukannya Aa main keyboard ya kok bisa disini? gak main emang?" tanya Tania.


"Iya lagi gantian mainnya sama temen, jadi saya bisa istirahat bentaran aja. Teh, saya mau nanya boleh?"


"Mau nanya apa A?"


"Yang tadi main gitar itu pacarnya Teh Tania?"


"Bukan. Itu mah temen rasa kakak kandung. Makanya tadi gak sungkan kayak gitu heheheh"

__ADS_1


"Oh bagus atuh"


"Bagus apanya?"


"Ya bagus ada peluang buat saya hehehehe" ucap Akbar. Keduanya pun tertawa. "Masih single emang?"


Tania hanya membalas dengan senyuman. Dari kejauhan terlihat Yudha berjalan menghampiri Tania.


"Kamu dicari-cari taunya disini" ucap Yudha sambil menoleh kearah Akbar yang disambut dengan anggukan pelan oleh Yudha maupun Akbar.


"Ada apa A?" Tanya Tania.


"Aku mau pulang barengan sama Nicko dan Iqbal. Nanti kamu gapapa pulang sendiri?" tanya Yudha. Akbar tampak memperhatikan percakapan antara Tania dan Yudha.


"Gapapa A. Aku nanti bisa pulang sama Mbak Sofie" ucap Tania.


"Oke deh kalo gitu. Nanti hati-hati ya kabarin kalo udah dirumah" ucap Yudha sambil berlalu meninggalkan Tania.


"Ashiap" ucap Tania mengacungkan ibu jarinya kearah Yudha.


"A Akbar saya mau pamit kedalam dulu ya takutnya temen saya nyari" ucap Tania kepada Akbar yang masih berdiri disampingnya.


"Oh iya silahkan Teh" ucap Akbar mempersilahkan.


Rupanya Irwan dari tadi sudah berdiri mematung memperhatikan Tania. Saat Tania berjalan memasuki gedung, matanya berpapasan dengan Irwan. Ia sudah malas melihat Irwan, bahkan untuk berbicara pun ia tidak mau untuk kali ini. Ia benar-benar kecewa, kenapa ia harus percaya perkataan Wulan pada saat itu yang menyebut bahwa Irwan sudah berubah. Perubahan seperti apa yang Irwan tunjukkan kepada sahabatnya itu jika kenyataannya masih sama dengan cerita tentang Irwan dahulu. Tania sadar diri untuk cemburu pun ia tidak berhak sebab memang tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka.


"Tan" ucap Irwan memegang tangan Tania saat Tania hendak masuk kedalam gedung. Tania hanya menoleh tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


"Tania" ucapnya lagi.


"Apa sih?" ucap Tania sinis sambil berusaha melepaskan tangan yang dipegang erat oleh Irwan.


"Aku mau bicara" ucap Irwan.


"Maaf aku mau masuk temen aku udah nunggu" ucap Tania risih dengan perlakuan Irwan. Akhirnya Irwan melepaskan tangan Tania dan membiarkan Tania masuk. Waktu dan tempatnya tidak memungkinkan ia dan Tania untuk bicara pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2