Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Waktu yang berharga


__ADS_3

Bendera kuning bertengger di depan rumah Yudha. Banyak orang yang lalu lalang untuk sekedar melayat. Terlihat wajah-wajah sendu dari para pelayat. Nyatanya banyak sekali orang yang masih tidak percaya atas kepulangan Yudha.


Begitu sampai di depan rumah Yudha, langkah Tania semakin gontai. Ia menghentikan langkahnya, menatap nanar bendera kuning, lalu menatap kearah dalam rumah Yudha. Perasaannya kacau, ia berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Ia mencoba memejamkan matanya, dan kemudian membukanya lagi. Ini bukan mimpi. Air matanya semakin deras membasahi pipinya.


"Assalamu'alaikum" ucap Bapak.


Semua yang ada di ruangan menatap kearah Tania sekeluarga. Bapak dan Ibu menyalami semua orang diikuti oleh Salwa dan Tania. Saat bersalaman dengan Ayah dan Mamah Yudha, mereka saling berpelukan, terutama Mamah Yudha yang menangis sesenggukan. Ibu berusaha menenangkan Mamah Yudha, Ayah yang terlihat tegar, jelas tergambar bahwa hatinya kini hancur. Tania menyalami Mamah, dan Mamah memeluk Tania dengan erat masih dengan tangis.


Tania tak kuasa menahan dirinya saat melihat jenazah Yudha yang terbujur kaku dihadapannya. "A Yudhaaaaa kenapa ninggalin aku.... Kenapa A Yudha gak pamit dulu sama akuuuuu..." Getir. Suara Tania bercampur dengan kepedihan terdengar sangat menyayat. Perhatian semua orang tertuju pada Tania. Semuanya ikut larut terhanyut dalam perasaan Tania.


Nicko yang berada di luar langsung menengok ke dalam. Ia terlalu lemas untuk merangkul Tania. Karena ia pun sama kehilangannya seperti Tania. "A... Bangun... A... A Yudha gak bisa pergi ninggalin aku seperti ini.... Bangun A...." Tania makin histeris, sampai akhirnya ia kembali pingsan.


"Tania.... Istighfar, Nak..." Ibu menepuk-nepuk pipi Tania. "Tan... Sadar..." Mamah Yudha ikut membantu menyadarkan Tania. "Neng, ambilkan minyak angin" pinta Mamah.


Separuh jiwa dari Tania pergi. Mana bisa ia bertahan dalam situasi dan kondisi macam ini. Selama ini, ketika Tania menghadapi segala situasi sulit, pasti Yudha yang akan selalu pasang badan paling depan untuk membantu Tania. Perhatian Yudha yang Tania rasakan sama halnya perhatian dari Bapak. Ia selalu merasa aman dan nyaman jika ada Yudha di sisinya.


Hanya sampai ajal menjemput, Tania tidak bisa merasakan hal yang lebih kepada Yudha. Karena ia sudah terlanjur nyaman dengan sikap Yudha sebagai kakak, bukan sebagai sepasang kekasih. Ia baru bisa yakin kalau perasaannya putih seperti rasa kasih adik pada kakaknya. Tapi Yudha pun tidak menyatakan perasaannya yang lebih itu kepada Tania.


"Tania, maafin Yudha ya, Nak. Maaf jika Yudha punya salah sama kamu baik itu disengaja atau tidak. Maafin Mamah juga, ya. Mungkin Mamah terlalu egois, Nak. Mamah tidak bisa mengerti perasaan anak Mamah sendiri." Dengan berurai air mata saat Tania tersadar Mamah berucap sambil membelai wajah Tania.

__ADS_1


"A Yudha gak punya salah sama aku, Mah. Yang ada mungkin aku suka bikin A Yudha kesel.Aku ikhlas melepas A Yudha pergi meskipun terasa berat. Maafin Tania juga, Mah. Sampai A Yudha pergi, Tania gak bisa membalas semua rasa kasih sayang A Yudha kepada Tania sebagai seorang wanita dan laki-laki dewasa. Sampai kapanpun A Yudha selalu ada di hati Tania. Tania bangga punya kakak seperti A Yudha. A Yudha itu laki-laki terbaik buat Tania, sekarang A Yudha gak akan merasakan sakit lagi. Apa boleh aku lihat wajah A Yudha untuk yang terakhir kalinya?"


Mamah mengangguk, jenazah Yudha saat itu sudah selesai dikafani. Hanya saja bagian wajahnya belum di tutup, kata Pak Ustadz takutnya ada saudara atau rekan terdekat yang masih ingin melihat wajah Yudha untuk yang terakhir kalinya.


"Lihat, Mah, Bu. A Yudha tampan sekali. Dia tersenyum. Itu tandanya ia sudah ikhlas, ya." Tania bergumam dan terdengar oleh Mamah ataupun ibu. Mereka mengangguk setuju dengan tatapan tidak lepas dari wajah Yudha yang sudah pucat namun terlihat tampan.


"Aku mau ngaji dulu, ya. Semoga A Yudha mendengar suara aku mengiringi kepergiannya." Ujar Tania.


Nicko dan Iqbal saling menguatkan satu sama lain. Mereka sama-sama kehilangan sahabat terbaiknya. Kesedihan mereka semakin pedih saat melihat Tania. Anak perempuan itu sangat rapuh. Iqbal meninjukan tangannya ke tembok. Nicko meninju udara. "Aaarrggghhhhh.... Gue masih kuat di selingkuhin cewek, Yud. Tapi gue akui kali ini gue gak bisa, Yud. Gak bisa."


Nicko tertunduk, bahunya bergetar. Rekan-rekan di pabrik berdatangan. Ucapan duka cita teriring. Pak Mul juga terlihat sangat kehilangan. Baginya, Yudha adalah tekinisi terbaik. Jarang sekali mengeluh apalagi membantah apa yang diperintahkan oleh atasan.


"Terimakasih, Pak dan semuanya. Maafkan jika selama ini Yudha ada. kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak."


"Baiklah. Sekarang saatnya jenazah akan di sholatkan. Maka dari itu saya akan menutup wajahnya." ujar Pak Ustadz.


"Pak Ustadz, Bolehkah saya mencium A Yudha untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Tania.


Pak ustadz mengangguk, "Boleh, tapi jangan sampai ada air mata menetes, ya."

__ADS_1


Tania mendekatkan wajahnya ke wajah Yudha lalu mengecup keningnya. A, aku ikhlas. A Yudha yang tenang disana. Semoga kita bisa dipertemukan lagi disana kelak. Jangan bosan jagain aku ya, A. Meskipun dunia kita sudah berbeda. Lirih Tania dalam hatinya.


Jenazah di angkat dan dibawa ke mesjid. Tania ikut menyolatkan. Ia tidak mau melewatkan beberapa detik atau menit lagi kesempatan untuk bersama dengan Yudha. Baginya waktu ini sangat berharga.


Betapa banyak waktu yang Yudha berikan semasa ia bersama Tania, Nicko, maupun Iqbal. Segala kebaikan dan perhatian Yudha akan selalu menjadi kenangan terbaik yang mereka miliki.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo readers, apa kabar?


Lama author tidak menyapa kalian.


Part ini adalah sebagian kisah nyata dalam kehidupan author. Kehilangan sahabat terbaik yang sudah sangat dekat layaknya kakak sendiri. Ketika menulis part ini juga, tangan author gemetar. Tak kuasa rasanya. Tapi ini sudah jadi bagian alur dari kisah Cahaya Cinta Tania ini.


Alfatihah, Untuk teman, sahabat, sekaligus kakakku yang sudah pergi ke alam keabadian. Karya ini, author dedikasikan untuk almarhum Rahimakumullah.


Sehat selalu ya, untuk kalian semua..


With ❤️

__ADS_1


Santii_Chan


__ADS_2