Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Segala Tentangmu


__ADS_3

Setelah 7 hari kepergian Yudha, rumah kembali sepi. Kenangan-kenangan yang tersimpan berkelebat dalam setiap benak orang-orang terdekat Yudha. Semua barang-barang, baju, dan lain sebagainya dikumpulkan dan diberikan kepada saudara, teman, bahkan orang yg membutuhkan. Atau bahkan disimpan dan di pakai oleh kerabat, teman, maupun saudara.


Barang yang Tania bawa pulang adalah jaket Hoodie kesayangan almarhum Yudha serta parfum yang sering Yudha pakai. Dengan begitu ia takkan merasakan kalau Yudha sudah pergi jauh dan selalu ada di dekat Tania.


"Tan, meskipun Yudha sudah gak ada mama harap kamu jangan sampai memutuskan silaturahmi kita sebagai keluarga ya". Pinta Mama Yudha dengan mata yang berkaca-kaca.


Perasaan Tania sudah agak stabil, tapi hatinya kembali terkoyak saat mendengar ucapan Mama Yudha. Dengan haru ia mengangguk dan menghambur dalam pelukan Mama Yudha. "Iya Insyaa Allah, Ma. Tania gak akan sampai mutusin silaturahmi. Karena Tania udah menganggap keluarga A Yudha adalah keluarga Tania juga".


Mama mengusap air matanya yang terjatuh dipipi. Berusaha tegar dan ikhlas. Sebesar Mama Yudha menyayangi Yudha, tapi tetap sang Maha Pencipta lebih menyayangi Yudha di banding apapun.


"Ngomong-ngomong kamu hari ini gak kerja?"


"Mamah lupa ya, ini kan hari Sabtu. Tania cuma kerja setengah hari kalo hari Sabtu". Ucap Tania.


"Oh iya hahaha. Mama lupa. Saking terlena urusan dunia jadi lupa hari sama tanggal". Mama menepuk jidatnya.


"


Benarlah kata orang, semakin hari semakin terasa kehilangan dan rindu yang berat ketika seseorang pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Terlebih orang yang paling dekat dengan kita.

__ADS_1


Sampai sore Tania masih asyik mengobrol dengan Mama Yudha. Tania seakan enggan pulang karena ia merasa Yudha berada bersamanya saat ini. Perasaan hangat itu muncul dan sangat terasa.


"Tan, kalo kamu mau istirahat, kamu boleh kok rebahan di kamar Yudha". Ujar Mama Yudha.


"Boleh, Ma?" Tanya Tania.


"Tentu saja". Mama Yudha mengangguk sambil tersenyum dan mengusap punggung Tania.


Kreeeettt..... Pintu kamar terbuka. Tania seolah masuk ke dimensi dimana saat itu Yudha masih ada. Kamar itu lumayan luas, tak ayal menjadi tempat berkumpul bersama teman-teman yang lain. Ada sebuah gitar akustik menggantung disana. Tania tersenyum dan menyentuh gitar itu. Dulu, ketika weekend ia selalu ikut berkumpul dan bernyanyi bersama Nicko dan Iqbal dengan Yudha yang mengiringinya dengan gitar itu.


Tania duduk di ujung kasur, memandangi poster pemain bola favorit Yudha. Ia teringat bagaimana hebohnya Yudha ketika pemain favoritnya itu bertanding dan berakhir dengan kemenangan. Ia sampai mentraktir martabak dan roti bakar. Perayaan sederhana memang, namun itulah cara ia meluapkan kebahagiaannya saat pemain favoritnya menjadi juara. Semua hanya demi kebersamaan bersama teman-temannya.


Mata Tania basah, air mata itu tak terbendung. Sekuat ia mencoba untuk tegar, tetap saja ketika semua kenangan itu kembali muncul, robohlah sudah ketegaran itu.


"Apa aku terlambat menyadarinya, A? Apa benar yang dulu Irwan katakan bahwa A Yudha itu sayang sama aku bukan hanya sekedar adik? Karena memang sekarang rasanya lain, A. Yang aku rasakan bukan hanya kehilangan sosok kakak tapi lebih dari itu". Tania terisak memeluk guling di kasur Yudha.


Tania tenggelam dalam rasa kehilangannya. Nama Yudha dan sosoknya begitu berbekas meninggalkan jejak yang sulit untuk terhapus.


"Teh, bangun sudah maghrib". Neng membangunkan Tania dengan mengguncangkan pelan tubuhnya.

__ADS_1


Tania mengerjapkan matanya pelan. Menyipitkan matanya memandang Neng. Silau karena lampu pun sudah menyala. Seingatnya tadi ia menangis dan akhirnya tertidur dengan lampu yang belum menyala. Kumandang Adzan maghrib pun sayup terdengar.


"Euh maaf Neng tadi aku tertidur. Boleh pinjam mukena? Aku ikut sholat disini saja boleh, ya?" Pinta Tania. Neng mengiyakan dan bergegas mengambil mukena.


Selepas Sholat, Tania dengan air mata berderai memanjatkan do'a untuk Yudha.


"Aamiin... alfaatihah".


Sejenak sebelum ia melepas mukenanya, ia menatap sekeliling kamar Yudha.


"Sekarang aku paham, A. Makna dari kata Rindu itu berat". Lirih namun begitu dalam.


Di ruang tengah, ternyata keluarga Yudha sedang berkumpul. Ia hampir lupa kalau ini malam minggu. Mama Yudha tersenyum melihat ke arah Tania.


"Tan, nginep aja disini. Malam ini kita mau ada acara makan-makan". Ucap Mama Yudha.


"Tania mau pulang saja, Ma. Kasian Salwa ga ada temen berantem". Tania memamerkan deretan gigi putihnya. "Mungkin lain kali Tania ikut bergabung barengan sama A Nicko dan Iqbal. Siapa tahu lebih seru kalo ada mereka".


"Bener juga kamu. Biar suasana rumah semakin hangat ya kalo ada kalian temen-temen Yudha". Jawab Mama Yudha sambil menerawang.

__ADS_1


__ADS_2