
Sesampainya di parkiran pabrik, Tania beserta 3 teknisi sekawan bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan shalat dzuhur. Begitu selesai Tania keluar mesjid dan bertemu dengan Mbak Sari yang juga baru selesai sholat.
"Tan, kamu istirahat kemana tadi? Aku sama Mbak Sofie cari kamu tadi mau ngajak makan bareng di kantin" sapa Mbak Sari.
"Eh iya Mbak, aku tadi lupa ngabarin gak bawa hp juga. Aku tadi diajakin ngebakso sama Iqbal, A Nicko sama A Yudha" jawab Tania.
"Kirain kemana. Yaudah hayu masuk lagi. Eh, tau gak tadi Mbak Ani mukanya judes banget, habis di tegor sama Pak Mul tuh" kata Mbak Sari
"Masa Mbak? Kayaknya gara-gara ganti benang di deret A deh Mbak. Soalnya aku juga kena semprot Pak Mul tadi. Pas aku data di awal sih belum ganti benang. Begitu Pak Mul datang kok udah ganti warna, mana gak ada pemberitahuan lagi sama aku Mbak, jadi gak sempet benerin laporannya" jelas Tania sambil mengingat kejadian tadi pagi.
"Oh gitu kejadiannya pantesan dia bete gitu. Dia kayak yang cari jalan buat selalu nyalahin kamu ya, Tan" ucap Mbak Sari.
"Biarin lah Mbak itu urusan dia. Selama aku gak ngerasa aku salah mah aku lawan aja. Toh bukan untuk menjatuhkan juga, kita disini sama sama cari uang, sama sama di gaji pula " jawab tania sembari berjalan memasuki pabrik.
Begitu alarm tanda masuk berbunyi, semua karyawan kembali memasuki area kerja masing masing. Biasanya pendataan hasil produksi setelah jam istirahat belum ada, dan akan kembali menumpuk saat 1 jam sebelum pulang. Tania memanfaatkan jam tersebut untuk membereskan meja kerjanya yang terlihat berantakan. Lain hal nya dengan para teknisi mesin yang mulai sibuk karena banyaknya gangguan pada mesin.
Tania jadi ingat kembali perihal percakapannya bersama Mbak Sari tadi selepas sholat. Ia bahkan belum berpapasan dengan Mbak Ani. Mbak Ani sebenarnya orang Bandung asli, tapi karena banyak operator yang berasal dari Jawa jadi Tania meratakan panggilannya menjadi Mbak kepada senior seniornya.
Saat sedang membuang sampah, Tania tanpa sengaja berpapasan dengan Mbak Ani.
"Eh, mau kemana Mbak?" tanya Tania kepada Mbak Ani yang raut mukanya jutek abis.
"Ngecek benang" jawab Mbak Ani dengan nada judesnya dan berlalu dihadapan Tania.
Tania menghela nafas, berusaha menetralkan ketegangan tapi tetap saja jawaban sinis yang diterima. Ia jadi teringat ketika pertama kali ia masuk ke pabrik ini dulu Mbak Ani memang ga pernah menunjukkan keramahannya pada siapapun kecuali pada staf kantor dan kepala bagian.
Flashback on
__ADS_1
Hari pertama masuk kerja Tania lolos seleksi dan langsung interview. Hari berikutnya Tania mendapat kembali panggilan training 1 minggu dibawah bimbingan Bu Dina asisten Pak Mul. Hari itu tania belajar bagaimana memasang benang, menyambung benang, mengenal apa saja gangguan pada mesin, dan cara mengoprasikan mesin. Karna Tania cepat tanggap maka hari berikutnya Tania langsung praktek pengoprasian mesin.
"Nah Tania karena kamu sudah sedikit paham, maka saya ingin kamu langsung praktek ya. Tetapi jika sudah langsung berurusan dengan mesin maka saya serahkan kepada Ani buat ngebimbing kamu. Saya hanya bagian memberi materi saja" ucap Bu Dina.
"Iya baik, Bu" Jawab Tania.
"Tania, ini Ani yang akan membimbing kamu kedepannya" ucap Bu Dina sambil memperkenalkan wanita di sampingnya.
"Baiklah, berhubung kita sedang dikejar orderan dan mesin tidak boleh mati, ikut saya" ucap Mbak Ani seraya berjalan menuju mesin yang kosong.
"Kamu jaga mesin disini. 1 deret terdiri dari 6 mesin, lihat produksi yang turun dari setiap mesin takutnya ada cacat, bolong, atau jarum mesinnya patah. Tiap mesin akan turun produksi yang berbeda. 2 mesin memproduksi tangan, 2 mesin memproduksi badan depan, dan 2 lagi badan belakang. Produksi tangan setiap 1 lusinnya 24 pieces. Sedangkan badan depan dan belakang 1 lusinnya 12 pieces." Jelas Mbak Ani masih dengan raut muka yang judes.
"Kode tangan di komputernya dilambangkan dengan T sedangkan badan depan F dan badan belakang B" jelasnya lagi.
"Baik, Mbak mohon bimbingannya" ucap Tania.
Jam jam pertama mesin lancar jaya dan produksi pun keluar sempurna. Hanya setelah jam istirahat mesin mulai ngadat semua. Lancar satu yang satu mati begitu seterusnya sampai Tania keteteran. Tidak ada satu seniorpun yang mau membantu karena mereka pun mengalami hal yang sama hanya saja time management mereka sudah bagus dan bisa menanganinya.
Untung saja ada Yudha yang merasa iba melihat Tania kelimpungan sendiri tanpa ada yang mau membantunya. Pada saat itu teknisi mesin hadir semua tidak ada yang mangkir jadi Yudha bisa santai sedikit.
Akhirnya pekerjaan Tania pun selesai dengan bantuan Yudha tepat setengah jam sebelum pulang.
"Terimakasih, A" ucap tania.
"Your welcome, santai aja biar efektif kita harus saling membantu. Kamu anak baru ya? Soalnya masih pakai baju hitam putih" Tanya Yudha
"Iya, A. Nama saya Tania saya baru 2 hari training disini. Mohon bimbingannya ya A" ucap Tania.
__ADS_1
"Ashiap. Kamu kalo butuh bantuan panggil aja aku. Kalo aku gak sibuk sama mesin nanti aku bantuin. Nama aku Yudha. Jangan sungkan ya. Sambil nungguin jam pulang kamu bersihin mesinnya terus setorin produksinya ke bagian Adm yang disana" tunjuk Yudha ke arah ruangan disebelah kiri mesin.
"Terus sapuin bekas area kerja kamu, kones benang yang kosong simpan di keranjang belakang tempat gulung benang. Jangan lupa sampahnya juga buang oke, biar keliatan bersihnya" jelas Yudha sambil berlalu pergi ke tempat loker para pekerja.
"Oke, A. Makasih.." ucap Tania.
Jam pulang pun akhirnya tiba. Tania bernafas lega hari ini bisa Ia lalui dengan baik. Meskipun ada sedikit bantuan dari Yudha teknisi mesin yang baik hati.
Sudah hampir satu minggu Tania menyelesaikan tugas trainingnya. Hari jum'at ini hari terakhir Tania. Jika hasil kinerja semasa trainingnya bagus Tania bisa langsung menandatangani kontrak selama 1 tahun kerja. Dan jika selama 1 tahun kerjanya juga bagus akan terus diperpanjang.
Entah kenapa di jam jam terakhir mesin yang ditunggangi Tania mendadak sering gangguan. Tania yang awalnya bersikap tenang ketika melihat raut muka Mbak Ani yang kelihatan kesal menggedor mesin Tania, Tania menjadi panik.
"Ini kenapa mesin pada gangguan semua Tania? Ini lagi benang habis bukannya di sambung, produksi numpuk bukannya dilipat " Seru Mbak Ani dengan nada yang tinggi sambil melempar kones benang dan menendang bangku plastik.
Tania panik, menerima perlakuan seperti itu sudah diluar batas kewajaran memberitahu. Sudah ada unsur kekerasannya meskipun tidak mengenai fisik Tania.Tania Tahu bahwa semenjak awal Ia training sikap Mbak Ani sudah berbeda dan selalu menunjukkan rasa ketidaksenangan dengan hadirnya Tania.
"Saya juga gak tahu Mbak ini mesin tiba tiba begini. Saya merasa sudah menjalankan dengan baik dan sesuai. Mbak gak perlu lempar lempar kones ke depan muka saya juga dan itu bangku juga gak perlu di tendang" balas Tania tak kalah sengit. Tania dan Mbak Ani tidak tahu bahwa di balik mesin ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Ibu Dina.
"Kamu berani lawan saya hah? Jabatan saya disini lebih tinggi dari kamu" ucap Mbak Ani sambil melotot kearah Tania.
"Saya bukan sok berani, Mbak. Tapi ini bukan saat yang tepat buat berdebat siapa yang jabatannya lebih tinggi. Saya sadar diri Mbak saya orang baru disini belum tau apa apa. Harusnya Mbak sebagai senior membantu juniornya kalo lagi kesusahan bukannya dimarahin. Biar kerjaan cepat beres dan Mbak juga gak kena omel atasan" Lawan Tania dengan berani.
Mereka tidak menyadari jika operator yang lain memperhatikan mereka termasuk Pak Mul. Selama ini tidak ada yang berani melawan Mbak Ani. Tapi ini ada anak baru seminggu training berani melawan Mbak Ani. Pak Mul dan Bu Dina tersenyum seperti menyiratkan sesuatu.
Tania pun akhirnya menandatangani kontrak kerja selama 1 tahun. Semenjak kejadian itu sikap Mbak Ani masih saja terlihat judes. Sikap baiknya mungkin bisa dihitung dengan jari. 1 Tahun berikutnya kontrak kerja diperpanjang dan Tania mendapatkan kenaikan jabatan menjadi Admin produksi membantu Mbak Ani yang awalnya dikerjakan semua sendiri sebagai kepala regu.
Flashback off
__ADS_1