
"Tan, kamu lagi apa?" Tanya Wulan lewat sambungan telepon.
"Aku baru pulang, Lan. Ada apa?"
"Abis dari mana emang? Tumben malam mingguan" ucap Wulan.
"Abis shopping dong secara gitu kan udah gajian"
"Wes gaya lah yang punya gaji. Atuh besok bisa donk kita jalan-jalan sekalian anter aku beli baju" ajak Wulan
"Ahh cape ahh. Aku hari ini pergi seharian, besok pengen rebahan aja di rumah"
"Yah payah ah kamu mah. Eh, aku udah ngasihin nomor kamu sama temen SMA aku. Nanti kalo ada yang chat jangan kaget ya" kekeh Tania.
"Ya ampun malah aku yang kaget Wulan. Kamu gak ijin dulu ngasih nomor aku teh" ucap Tania sewot.
"Kalo aku ijin dulu pasti kamu gak akan mau aku kenalin" santai Wulan.
"Awas aja kenalannya kayak yang kemarin"
"Aku jamin gak akan. Dia mah baik banget kok gak kayak A Irwan. Ngomong-ngomong kamu gimana sekarang sama A Irwan?"
"Sudah tutup buku. Tapi beberapa hari yang lalu dia dateng kesini buat ngasih hadiah"
"What? Muka badak emang tuh orang. Sok ganteng banget"
"Kok jadi kamu yang marah? Santai aja keleusss aku aja santai kok" jawab Tania
"Hehehe gedek aku sama dia tuh"
"Ya udah atuh ah aku mau istirahat cape"
"Baru juga jam delapan malam, masa mau tidur masih siang atuh neng, kan malam minggu ini"
"Malam minggu berlaku bagi yang punya pasangan, apalah daya aku cuman seorang jomblo kaum rebahan di malam minggu. Dah ah, assalamu'alaikum"
"Hahaha bisa aja kamu. Oke deh. Wa'alaikumsalam".
Baru saja Tania menutup teleponnya dan memposisikan diri untuk tidur, ponselnya kembali berdering. Untungnya bukan telepon melainkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Hay" tulisnya.
Ragu Tania untuk membalasnya, tapi jari-jarinya menuntun Tania untuk membalas pesan tersebut.
"Wa'alaikumsalam"
"Eh. Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam"
"Siapa ya?"
"Ehm. Boleh kenalan?"
"Boleh"
"Ini temennya Wulan?"
"Iya. Anda juga?"
"Formal banget. Sans aja kali. Iya saya teman SMA nya Wulan"
"Oh.."
"Oh doang?"
"Terus maunya apa?"
"Gak nanyain nama gitu?"
"Ya"
"Singkat amat. Nama kamu siapa?"
"Oke deh. Aku Akbar".
Sejenak Tania terdiam. Akbar? Kebetulan sekali orang yang tadi bertemu dengannya adalah Akbar. Akan ada berapa Akbar yang ia kenal pikirnya.
"Hey kok gak di balas?"
"Ah iya maaf. Aku Tania"
"Tania?" tanya nya. Karena penasaran Akbar pun mengecek profil Tania, kaget setengah girang ternyata cewek yang ia ajak kenalan ini memang Tania yang ia kenal, yang tadi sore ia ajak untuk berduet di stage.
"Ternyata dunia itu sempit ya haha" imbuhnya sambil mengirimkan emoticon tertawa.
"Maksudnya?" tanya Tania tidak paham. Di seberang sana Akbar sedang tersenyum geli memandangi ponselnya. Ia pun mengirimkan sebuah foto Tania yang ia ambil ketika acara pernikahan Sari.
Mata Tania terbelalak dan langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Dapat dari mana foto aku?"
"Gak inget aku ya? Padahal tadi sore aja udah ketemu" ujarnya dengan mengirimkan emoticon sedih.
"Akbar? Ini Akbar pemain musik?" tanya Tania masih dengan tidak percaya.
"Yups. Akhirnya inget juga hahah"
__ADS_1
"Yaa Allah, beneran dunia itu sempit ya hahah. Kok bisa kebetulan Wulan ngenalin aku sama kamu?"
"Gak tau aku juga"
"Hahah kayaknya dia gak tau kalo kita udah saling kenal dan dua kali ketemu"
"Hahha iya. Aku gak ngeuh juga liat profil kamu waktu Wulan kirim nomor kamu. Dasar aja harus manjang ya silaturahminya. Syukur-syukur bisa kenal lebih jauh"
"Hihihi bisa aja. Kalo cerita ke Wulan pasti dia kaget berat, soalnya start nya dah di curi duluan" kekeh Tania.
Obrolan mereka pun semakin seru. Mata Tania yang sepet susah melek, akhirnya bisa sadar kembali setelah mendapat chat yang seru dengan Akbar. Bila di bandingkan dengan saat berkenalan dulu dengan Irwan, perkenalan dengan Akbar justru lebih seru. Selewat dari perbincangan lewat chat saja sudah bisa di prediksi kalau Akbar adalah pribadi yang menyenangkan. Tidak sepede Irwan.
Ia punya pembawaan yang khas, gurauannya saja bisa membuat Tania tergelak sendiri di kamarnya apalagi kalau bertemu.
Waktu menunjukkan jam sepuluh malam, tapi masih belum ada tanda-tanda obrolan mereka akan berakhir.
"Udah malem nih, aku mau istirahat dulu ya" pamit Tania.
"Oh iya, oke. Thanks ya udah mau nemenin ngobrol." ucap Akbar.
"Iya sama-sama. Nanti hati-hati pulangnya" ucap Tania.
"*Ehm dah mulai care aja nih"
"Yaelah, masa sama temen kagak boleh care gitu?"
"Haha canda atuh neng. Sok atuh kalo mau istirahat mah, aku mau beresin dulu alat musiknya*" ucap Akbar yang kebetulan pada saat itu jam tutup rumah makan dan acara live music pun sudah berakhir.
"*Oke deh. Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam*" balas Akbar memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Obrolan yang menyenangkan pikirnya.
Obrolan kali itu hanya membahas tentang cerita Akbar dengan Wulan saat sekolah dulu. Menurut penuturan Akbar, sifat Wulan tidak berubah sampai sekarang dan itupun diakui oleh Tania yang lebih mengenal Wulan sejak duduk di bangku SMP. Dari percakapan tadi ada hal yang membuat Tania tertawa terbahak-bahak, ternyata di sekolah SMA nya Wulan dijuluki si 'Neneng Bulu'. Tania menanyakan alasannya kepada Akbar sambil mengirimkan emoticon tertawa yang banyak. Katanya sebab ditangan dan kaki Wulan banyak bulu nya seperti anak laki-laki.
Perkenalan itu berjalan lancar, rasanya mereka seperti sudah lama kenal. Dari dua kali pertemuan dan chatting dengan Akbar, Tania merasa ada teman yang satu frekuensi dengannya selain tiga serangkai. Dalam pembicaraannya tadi Akbar tidak menyinggung sedikitpun tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, tapi lebih ke hal obrolan nostalgia mereka saat sekolah.
Bukan obrolan yang melulu menanyakan warna favorit, film kesukaaan, tipe pasangan, dan lain-lain. Berkenalan itu bukan berarti menjurus ke status pacaran saja seperti yang Tania pikirkan saat ia pertama kali mengenal Irwan. Dengan obrolan ringan seperti tadi, ia merasa mempunyai teman baru tanpa berpikir menjalin hubungan pacaran.
"Teh, cepat tidur udah malam ini" ucap Bapak yang tanpa Tania sadari sudah mengintip dari balik pintu.
"Iya, Pak" ucap Tania sambil meletakkan ponselnya diatas nakas.
"Jangan main hp terus nanti matanya perih. Nonton drakornya jangan sampai kebablasan kayak anaknya temen Bapak tuh, nonton maraton drakor sampai begadang. Maraton mah bukannya olah raga lari jarak jauh ya? Naha ada hubungannya sama drakor?" terang Bapak dengan heran.
"Ih siapa juga yang nonton drakor, orang habis bersihin memori hp juga. Maraton itu artinya nontonnya gak berhenti, Pak. Udah ah Teteh mau tidur, matiin lampunya ya, Pak. Sekalian pintunya tutupin" ucap Tania.
"Iya" Bapak menuruti ucapan anaknya. Lampu dimatikan dan pintu di tutup rapat. Begitulah Bapak, setiap hari akan selalu memastikan anaknya sudah tidur apa belum.
__ADS_1