Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Suka Bukan Berarti Cinta


__ADS_3

"Tan, kamu kok bisa akrab gitu sama Akbar?" tanya Mbak Sofie ketika sudah masuk kedalam kamarnya. Tania sudah menduga kalau Mbak Sofie akan menanyakan hal itu kepadanya.


"Dia yang punya kotsan ini, Mbak" ucap Tania santai sambil membuka satu bungkus snack.


"Hahh yang bener kamu?" tanya Mbak Sofie terkejut.


"Lebih tepatnya ini punya nenek dan kakeknya dia. Jadi, Akbar itu tinggal sama nenek dan kakeknya"


"Kok kamu tahu sih?"


"Kan tadi ngobrol, Mbak"


"Terus kamu kok keliatan akrab gitu sih sama dia?"


"Si Mbak nanya-nanya mulu kayak wartawan aja deh" protes Tania. "Emang Mbak gak inget waktu di nikahan Mbak Sari kan dia ngajak aku kenalan, terus pas aku lagi jalan sama A Yudha dan kawan-kawan aku juga ketemu sama dia secara gak sengaja"


"Ouhh gitu to" ucap Mbak Sofie mengangguk paham.


"Lagian kata dia tadi katanya nenek sama kakeknya seneng ada Mbak kost disini. Mereka gak punya cucu cewek, cucu mereka cewek semua. Jadi katanya jangan sungkan kalo ada apa-apa"


"Kok bilangnya ke kamu sih bukannya ke aku" Mbak Sofie bersungut.


"Ya gak tau atuh Mbak. Mungkin kebetulan tadi kita papasan di kamar mandi, terus aku bilang Mbak kost disini jadi aja dia bilang gitu sama aku" jelas Tania. "Jangan bilang Mbak cemburu yah? hahahah" goda Tania.


"Cemburu? Yang bener aja atuh nduk, atas dasar apa kamu bilang aku cemburu?"


"Yaa kan waktu itu Mbak bilang suka sama Akbar pas di nikahan Mbak Sari"


"Astaghfirullah....Kamu ini dasar abege ya" Mbak Sofie menggelengkan kepalanya sambil menepuk keningnya. "Suka itu bukan berarti cinta. Kayak kita liat cowok cakep lah kan pasti bilang 'Ih, itu cowok cakep amat ya', terus misalnya kayak kamu ke aktor korea itu tuh kan suka ya bukan berarti kamu cinta dan harus menjadikannya milik kamu" jelas Mbak Sofie.


"Oh gitu, Mbak aku baru paham sekarang, tapi tadi tanggung aku udah bilang kalo Mbak naksir dia" ucap Tania ragu takut Mbak Sofie marah.


"Anak ini bener-bener ya menyebarkan gosip yang gak bener" ucap Mbak Sofie sambil memukul lengan atas Tania, yang dipukul hanya terkekeh dengan perlakuan temannya.


"Waduhhh aku malu nanti kalo ketemu dia. Kamu ini dasar kalo adekku udah aku printilin tuh telinga sampe merah" gemas Mbak Sofie.

__ADS_1


"Wahahah untungnya aku cuman temen Mbak Sofie. Coba kalo aku jadi adek Mbak Sofie udah habislah aku"


"Iya aku juga harus banyak nyetok sabar kalo kamu jadi adek aku. Udah ah aku mau masak mie instan dulu, kamu mau gak?" tawar Mbak Sofie.


"Mau mau mau. Ada sayurnya gak Mbak?" tanya Tania.


"Ada donk, aku mah suka sedia sayuran di kulkas"


"Good" ucap Tania mengacungkan jempolnya dan mengikuti Mbak Sofie ke dapur.


"Mbak, boleh tanya gak?" ucap Tania kepada Mbak Sofie yang tengah menyiapkan air dan sayuran untuk memasak mie instan, sedangkan Tania hanya menyender di tembok dapur.


"Mau tanya apa?" ucap Mbak Sofie sambil menyalakan kompor.


"Mmmmm kenapa Mbak gak punya pacar?"


"Nanya kok to the point banget sih"


"Hehe" Tania nyengir kuda.


"Belum nemu yang cocok dan sreg di hati aja Mbak"


"Ehm, Mbak juga sama, Tan. Di usia Mbak sekarang ini bukan lagi saatnya nyari pasangan untuk main-main, tapi Mbak ingin punya pasangan yang serius mau menghadap ke bapak sama ibu ngajakin aku nikah. Di kampung usia aku segini tuh udah di pandang perawan tua makanya aku hijrah ke Bandung sambil cari pengalaman hidup dan siapa tau dapet teman hidup disini hihihi"


"Tapi kan Mbak jaman sekarang ini banyak kok wanita yang belum menikah di usia yang udah mau mendekati kepala 3, bahkan ada yang kepala 4 belum menemukan pasangannya".


"Ya, aku juga mikir kesana, tapi kan pemahaman orang yang di kampung dan di kota besar itu beda, Tan"


"Lah, kawasan ini juga masuknya perkampungan Mbak"


"Iya tau, Bapak kostan kemarin juga bilang. Yuk kita makan mie nya udah mateng nih. Sekalian bawa mangkok sama saus yang deket tempat garam ya"


"Ish harusnya tamu tuh tinggal makan bukannya di suruh-suruh" Tania menggerutu.


"Ini mah tamunya beda, dah jangan banyak protes aja"

__ADS_1


"Iya iyaaa....Mbak apa orang tua Mbak gak mempermasalahkan soal ini?" tanya Tania sambil menyendok mie.


"Alhamdulillahnya enggak, Tan. Orang tua aku tipe orang yang memberi kebebasan anaknya untuk berpendapat dan tidak memaksakan kehendak. Apapun yang anaknya pilih selama itu baik mereka akan mendukung"


"Berarti orang tua Mbak tidak terpengaruh oleh paham bahwa anak perempuan itu harus secepatnya menikah ya"


"Yups betul sekali. Do'ain aja semoga aku segera ketemu hilal jodohnya"


"Hilal, kayak mau nentuin puasa sama lebaran aja si Mbak ini. Terus lanjutan sama Akbar gimana?"


Uhukkk....uhukk...


Mbak Sofie tersedak mendengar pertanyaan Tania. Bukan kaget karena pertanyaannya melainkan Tania bertanya bertepatan dengan Mbak Sofie menyuap mie panas pedas kedalam mulutnya.


"Nih minum dulu Mbak, makanya makan tuh pelan-pelan biarin dingin dulu sebentar" ujar Tania mengasongkan satu gelas air kepada Mbak Sofie dan langsung diteguk habis oleh Mbak Sofie.


"Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Aku gak mau salah paham sama cucunya yang punya kotsan ini" protes Mbak Sofie.


"Kalo aku gak mau gimana?" ledek Tania.


"Pokoknya harus aku gak mau di usir gara-gara di gosipin cinta sama cucu yang punya kotsan" kekeuh Mbak Sofie.


"Hahahha pendek banget si Mbak mikirnya. Ya gak mungkin sampai di usir lah. Mencintai kan fitrah manusia gak ada salahnya juga"


"Ya emang fitrah manusia tapi kan bukan berarti harus di gosipin juga atuh. Aku do'ain ya semoga kamu yang jatuh cinta nya" ledek Mbak Sofie.


"Wes kok gitu gak baik Mbak"


"Aku liat sekilas anak itu kayaknya baik, cocok sama kamu"


"Kan aku udah bilang sama dia kalo Mbak tuh suka sama dia"


"Taniaaaaaaaa.......Beneran aku printil ya kuping kamu. Heuhhh gemess aku. Apa harus aku ulangi lagi, rasa suka aku sama dia tuh B aja cuman suka selewat kalo liat cowok cakep" gemas Mbak Sofie yang mere mas erat gagang sendok.


"Hahah ekspresimu Mbak, lucu banget. Hahah selow atuh selow" ucap Tania tergelak. Saking kesalnya Mbak Sofie menyuapkan satu sendok penuh mie yang panas kedalam mulutnya. Mukanya sudah merah karena kesal ditambah lagi panas dan pedas dari mie yang diberi saus.

__ADS_1


Makanya sausnya jangan terlalu banyak Mbaaaaaa..........


__ADS_2