Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Feel Like Down


__ADS_3

"Jujur saja Tania, Mamah sampai detik ini untuk merestui hubungan kalian rasanya berat."


"Aku mengerti, Mah. Setiap orang tua terlebih seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya." Lirih Tania pelan.


Dan mungkin saja anggapan Mamah aku itu tidak pantas untuk A Yudha. Karena A Yudha begitu baik, amat sangat baik. Tania membathin.


Drrrttt.....Drrrttt.....


Ponsel Tania bergetar, ia merogohnya di dalam tas dan melihat siapa yang menghubunginya.


"***....." baru saja Tania akan mengucapkan salam tapi kata-katanya keburu terpotong oleh Akbar.


"TAN, DIMANA? BURUAN KESINI URGENT !!"


Tania melempar pandang kearah Mamah Yudha. Dengan mata merah dan masih berlinang air mata, Mamah Yudha pun memandang wajah Tania.


"Mah, Ayo cepat kita harus segera ke atas". Tania menggenggam tangan Mamah Yudha seraya mengajaknya.


Dengan tampang bingung Mamah Yudha mengikuti Tania. Sembari mengusap pipinya bekas air mata.


Dengan langkah seribu Tania dan Mamah Yudha sudah sampai di ruangan Yudha. Ada satu dokter dan dua suster sedang memasang beberapa alat. Mamah Yudha terlihat makin sedih melihat anaknya. Akbar. Ya, Akbar juga terlihat sangat khawatir.


Meskipun baru saja kenal dengan Yudha, tapi perasaan Yudha dan kehangatannya begitu terasa bagi Akbar. Pantas saja Tania begitu menyayangi dan membanggakan sosok seorang Yudha.


Air mata Tania dan Mamah Yudha terus berlinang melihat Yudha yang hampir selesai dari penanganan dokter.


"Kondisi pasien semakin menurun bu, mungkin bagi yang besuk mohon maaf agar membiarkan pasien untuk beristirahat total." Begitulah instruksi dokter yang memberatkan hati Tania untuk segeral keluar ruangan.


Diluar ruangan, masih menatap pintu kamar Yudha. Tatapannya terlihat sendu sebelum akhirnya Akbar mengajak Tania agar segera pulang.


"Hayu kita pulang, Tan. Nanti kalau ada apa-apa mungkin ibunya akan menghubungi kamu." Ajak Akbar, Tania menurut mengekor dibelakangnya.


Ditengah perjalanan, motor yang dikendarai Akbar membelok ke sebuah restoran. "Loh, kok belok kesini?" Tanya Tania terheran-heran. Akbar hanya tersenyum lalu masuk ke dalam tanpa aba-aba Tania ikut dibelakangnya.


"Tadi sepulang kerja kan kita belum makan apa-apa. Pasti energi kamu juga habis terkuras karena nangis tadi." Ujar Akbar setelah mereka menemukan meja yang kosong tepat berada di pojokan dekat jendela kaca. Pada jam-jam segini semua restoran pasti akan penuh.


"Tapi, aku gak lapar, Bar. Aku pulang duluan aja ya."


"Gak lapar tapi ikut masuk. Itu tandanya kamu juga lapar."


"Aku lagi males makan."


"Jangan dibiasakan mengosongkan perut dalam waktu lama kecuali kalau puasa. Jangan sampai asam lambungnya kambuh lagi."


"Hmmm... Bar." Gumam Tania sedikit meragu. Tangannya memilin ujung bajunya.

__ADS_1


"Hah apa, Tan?" Akbar tampak slow respon karena tengah fokus membaca menu dihadapannya. "Sebentar ya kita pesen dulu makanannya biar bisa fokus." Tanpa menunggu jawaban dari Tania, ia melambaikan tangannya kearah waiter.


"Mas.."


Secepat kilat si mas waiter sudah ada dihadapan mereka. "Silahkan mau pesan apa, A?" Tanyanya sambil menyiapkan note book.


"Saya pesan ramen spesial chicken katsu ekstra nori ya. Minumnya milkshake oreo. Kalo kamu mau apa, Tan?"


"Aku... Samain aja deh. Tapi minumnya ice vanilla latte."


"Kalau kuahnya mau original, medium, atau ekstra pedas?" Tanya si mas waiter lagi.


"Kalo aku ekstra pedas." Jawab Tania cepat.


"Kalo saya medium aja."


"Baik kalo begitu silahkan ditunggu pesanannya ya, Aa, teteh." Ucap si mas waiter lalu beranjak pergi memberikan pesanan kepada bagian kitchen.


Tania membuka ponselnya dan mengecek pesan masuk.


"Tan, kamu udah besuk Yudha?"


"Udah tadi."


"Jam berapa kesananya?"


"Jam 5an."


"Oh iya aku udah pulang tadi."


"Emang tadi ada apa kok tiba-tiba jam besuknya ditutup?"


"A Yudha ngedrop."


"Astaghfirullah. Terus gimana?"


"Kritis, A...😭😭"


"Yaa Allah... Malam ini kita do'a bersama di rumah masing masing ya. Semoga Yudha bisa lewatin ini semua."


"Iya, A."


Tania menutup ponselnya bersamaan dengan makanan datang. Waiter memberikan hidangan dan minuman ke hadapan Tania serta Akbar.


"Makan dulu ya. Jangan lupa berdo'a" ucap Akbar sambil menyeruput mie ramen kedalam mulutnya.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa makan sedangkan disana A Yudha sedang kritis. Ini orang perasaannya dimana sih?


Melihat Tania belum menyentuh makanannya, Akbar menghentikan makannya. Ia menegakkan badannya dan memandang Tania. Yang di pandang tidak menyadarinya dan malah tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Makanannya keburu dingin. Gak akan kenyang kalau cuma di pelototin kayak gitu." ujar Akbar dingin.


Tania menghela nafasnya dan membuangnya kasar. Bibirnya sudah merengut. Kalau bukan karena menghargai Akbar yang sudah mau mengantarnya besuk Yudha setelah seharian bekerja, mungkin ia akan segera pergi pulang sendiri naik angkutan umum.


"Tan"


"Dimakan dulu meskipun sedikit perut harus diisi. Meskipun kamu gak makan, itu gak akan bikin Yudha lebih baik. Yudha akan makin sedih kalo liat kamu kayak gini." Kata-kata Akbar kali ini terdengar lembut seperti seorang ayah yang sedang menasehati anaknya.


"Tau apa kamu." Ucap Tania sinis dengan terpaksa memakan ramen dihadapannya. Akbar tersenyum melihat Tania yang akhirnya mau makan walau agak sedikit terpaksa.


Kamu itu menggemaskan, seperti kata Yudha aku bakalan jagain kamu mulai sekarang.


Lirih Akbar dalam hatinya seraya tersenyum meneruskan kembali makannya yang sempat terhenti karena Tania.


"Kamu...." Tiba-tiba Tania angkat bicara saat suasana hening. "Tadi kamu ngobrol apa sama A Yudha?"


Akbar sudah menduga kalau Tania akan menanyakan hal itu.


"Hanya bertanya apakah aku dan kamu udah lama dekat?"


"Lalu?"


"Aku jawab yaaaaa lumayan. Kita kan memang udah lumayan lama dekat yah" Jawan Akbar mengira-ngira dan disahuti anggukan oleh Tania.


"Lalu dia bilang titip kamu sama aku. Tolong jagain. Habis itu gak tau kenapa dia tiba-tiba ngedrop. Aku kaget, panik juga takut orang ngira aku ngapa-ngapain dia."


"Kamu beneran gak ngapa-ngapain dia kan?"


"Suer Tania. Aku gak ngapa-ngapain cuma temenin dia ngobrol aja. Dia sempet ngusap tangan aku pas bilang aku harus jagain kamunya juga." Ucap Akbar meyakinkan.


"A Yudha kenapa bilang gitu sih? Kayak yang mau kemana aja aku dititip-titip segala." Dengan wajah tertunduk bahu Tania terlihat bergetar karena menangis. Sontak saja orang di sekeliling mereka memperhatikan.


"Tan....plissss nangisnya tahan dulu. Itu orang-orang liatin kita. Sangkanya aku ngapa-ngapain kamu." Ucap Akbar pelan.


Tania mengangkat kepalanya, mengusap air mata dan ingus menggunakan tissue.


"Maaf." Lirihnya.


"Yasudah makannya terusin"


"Aku udah gak ***** makan lagi." Tania menggeleng dan menjauhkan makanan dihadapannya. Ia hanya menyeruput habis minuman sampai yang tersisa hanya es batunya saja. Menangis membuatnya dehidrasi dengan sekali sedot semuanya habis.

__ADS_1


__ADS_2