
"Hallo, assalamu'alaikum, Lan". Sepulang dari rumah Yudha Tania langsung masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan ibu dan Bapak yang sedang menonton tv di ruang tengah. Untungnya mereka juga tidak terlalu mengamati mata Tania yang sembab karena Tania langsung masuk ke kamarnya.
"Wa'alaikumsalam, Tan. Baru aja mau aku telepon" ucap Wulan.
"Lan, aku pengen cerita. Hari ini aku kesel banget sama A Irwan"
"Loh kesel kenapa? Katanya kamu tadi pergi sama adiknya A Yudha"
"Tau gak, tadi gak sengaja aku ketemu dia di mall. Aku gak ngeuh ada dia" ucap Tania lalu kemudian ia menceritakan runtutan kejadian hari ini kepada Wulan.
"What?? Maunya dia tuh apa sih? Heran deh gak ngerti aku" Wulan tampak kaget bercampur kesal mendengar cerita dari Tania.
"Kok ada sih orang sepede itu? Breng sek banget dia kira kamu tuh cewek gampangan apa? Ya pantes lah Yudha segitu marahnya sama tuh monyet, aku aja yang denger cerita kamu segini keselnya. Kalo ada aku di sana aku tabok tuh mukanya si Irwan" geram Wulan.
"Kepala aku pusing banget, Lan. Seharian ini aku nangis terus. Kalo kamu liat muka A Yudha pasti kamu juga gak bakalan tega hiks hiks hiks".
"Udah, kamu tenang dulu ya....Istighfar yang banyak. Orang kayak si Irwan musti di rukiyah banyak setannya" ucap Wulan menenangkan.
"Kamu tolong bilang sama A Aldi ya, tanyain maksud A Irwan tuh apa dan apa maunya dia. Aku sama dia juga sebelumnya gak ada hubungan apa-apa dan aku pun udah menganggap gak ada lagi urusan sama dia"
"Oke siap kamu tenang aja ya, nanti aku bilangin sama A Aldi. Ya sudah kamu istirahat aja dulu tenangin diri kamu. Inget ini bukan salah kamu"
"Iya, Lan. Makasih ya. Assalamu'alaikum"
"Sama-sama my bestie, wa'alaikumsalam"
Pikiran Tania masih saja kalut. Ia belum pernah berada dalam posisi seperti ini. Ia sudah menganggap tidak pernah mengenal orang macam Irwan dan ia mengira masalah akan selesai. Tapi kenyataannya Irwan malah memancing-mancing masalah yang sebetulnya tidak perlu diladeni. Namun kata-katanya yang di ucapkannya sudah melewati batas toleransi dan mengenai pasal penghinaan.
Mungkin karena dulu ia terobsesi agar Tania menjadi cewek yang bisa dengan mudah ia rayu dan manfaatkan. Karena ia gagal mendapatkan Tania akhirnya malah membual mengatakan ini itu tentang Tania.
"Tan, gak usah dipikirin ya. Aku baik-baik aja kok"
Saat Tania hendak mematikan ponselnya tiba-tiba ada sebuah pesan dari Yudha. Hatinya makin teriris sudah tentu Yudha sakit tapi masih menyebut kalau dirinya baik-baik saja.
"A Yudha gak mungkin baik-baik aja. Aku tau A Yudha lagi nahan sakit kan? Maaf ya, A gara-gara aku A Yudha jadi babak belur" balas Tania
"Trust me. I'm really really fine. Don't be cry nanti imutnya ilang"
"Ih orang lagi serius juga malah becanda"
"Kamu gak usah nyalahin diri kamu sendiri kayak gitu. Ini bukan kesalahan kamu 100% yang salah tuh si buaya buntung. Terobsesi banget kayaknya jadiin kamu cewek yang bisa dia manfaatin"
"Makasih ya, A. A Yudha selalu jadi garda terdepan buat ngelindungin aku"
__ADS_1
"Itu udah kewajiban seorang kakak sama adiknya. Kakak manapun akan melindungi adiknya dan gak mau ngeliat orang yang dia sayang terluka apalagi sampai dihina cewek gampangan"
"Oh iya, Neng gimana, A? Tadi dia juga keliatan shock banget"
"Iya dia sekarang baik-baik aja kok. Gak mau tidur sendiri malam ini, jadi dia tidur sama mamah. Katanya masih sedikit takut liat aku marah terus baku hantam sama orang. Dia kan gak pernah liat aku semarah itu hahaha"
"Sama aku juga gak pernah liat A Yudha semarah itu. Ngeri juga hiiii"
"Ya udah ini udah malem, istirahat gih biar besok pikiran dan badannya udah seger. Capek kan seharian kamu nangis terus"
"Iya deh. Tadinya aku juga mau istirahat tapi A Yudha chat. Yaudah melek lagi aja"
"Kalo gitu aku juga mau off deh biar sama-sama istirahat"
"Oke deh. Oyasuminasai"
"Okey"
Setelah mematikan ponselnya, Tania mengistirahatkan jiwa dan raganya berharap ketika bangun nanti, ia akan lupa kejadian yang terjadi hari ini.
Pukul tiga Tania terbangun dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu menunaikan shalat malam. Pada akhir shalatnya ia berdo'a agar Yudha segera sembuh serta memohon ampun atas segala khilaf yang disengaja ataupun tidak disengaja.
Ia lalu mengambil ponselnya dari atas nakas selepas sholat lalu menghidupkannya sebab sebelum tidur ia mematikan ponselnya. Baru saja ia duduk dan menyimpan hpnya diatas kasur tiba-tiba saja ada panggilan video masuk.
"Wa'alaikumsalam. Lagi apa?
"Baru beres sholat malam. Kamu?"
"Lagi diem aja gak bisa tidur"
"Eh, kok suara kamu bindeng sih? Kamu flu?"
"Masa? Iya gitu? Perasaan biasa aja"
"Iya. Atau kamu habis nangis ya?"
"Sotoy ah kamu mah hehhe"
"Hmmm keliatan tau. Tuh mata kamu bengkak. Pantesan pas jam sebelas malam tadi aku telepon kamu tapi gak aktif"
"Jam segitu mah aku udah tidur"
"Oh iya ya hahah. Kamu yakin gak kenapa-kenapa?" Tania bingung antara bercerita atau tidak kepada Akbar. Pasalnya mereka belum lama saling mengenal. Tidak etis rasanya kalau bercerita masalah pribadi.
__ADS_1
"Hey, kok malah melamun? Gak usah cerita kalo keberatan mah. Aku juga gak maksa santai aja hehehe"
"Eh heheh aku beneran gak apa-apa kok. Biasa aku mah kalo ada yang mengganjal di hati terus gak bisa ngungkapin pasti larinya keluarin air mata" Tania berkilah.
"Ouh gitu baiklah baiklah...Yahhhh kalo kamu lagi gini mah atuh gak bisa diajak nyanyi ya" Akbar mencoba menghibur Tania.
"Iya moodnya juga lagi ambyar. Kalo nyanyi juga pasti sumbang dan feelnya gak akan dapet"
"Yaudah deh next time mungkin bisa ya. Kamu sering sholat malam?"
"Ya lumayan. Kalo suka tiba-tiba bangun, aku suka sholat malam, tapi kalo tidurnya nyenyak karena capek banget paling bangun pas sholat subuh aja hahaha"
"Terus kalo lagi halangan pasti tidurnya bablas sampai siang ya?"
"Hahahaha kok tau sih? Jangan buka kartu kamu tuh. Gak denk, paling siang aku bangun jam 7 kalo weekend dan itu pas halangan ya. Kalo hari kerja mah tetep bangun subuh"
"Rajin juga ya"
"Iya harus. Aku gak bisa ngelewatin sarapan, soalnya nanti asam lambung aku kambuh"
"Wahhh, makasih loh infonya"
"Info apaan?"
"Iya info kebiasaan kamu. Ternyata kamu tuh rajin, terus punya asam lambung dan lain-lain"
"Lah terus gimana?"
"Iya itu kan poin penting dalam tahap saling mengenal"
"Oh gitu. Maaf ya loading otak akunya. Kayaknya kurang asupan gula. Hahhaah"
"Beuhhh dasar ada-ada aja ukhti yang satu ini. Bikin teh aja gak usah pakai gula, kan manisnya udah di aku"
"Gustiii meni pede ya. Kalo kamu manis mah udah dikerubungin semut donk"
"Hoaammm harus atuh. Eh by the way aku udah ngantuk nih.. Makasih ya udah nemenin"
"Ehh, tanggung bentar lagi juga sholat subuh. Sholat dulu baru tidur"
"Siap ukhti. Ya udah aku tutup ya. Assalamu'alaikum"
"Iya wa'alaikumsalam"
__ADS_1