
Tania merasa pincang semenjak Yudha bersikap beda kepadanya. Terhitung satu minggu sudah Yudha menghindarinya tanpa ada alasan yang jelas. Baik Nicko maupun Iqbal tidak memberi nomor baru Yudha dan itupun atas perintah Yudha agar tidak memberikan nomornya pada Tania.
Tidak ada obrolan hangat ataupun sapaan, hanya untuk urusan pekerjaan mereka berbicara itu pun dengan kata yang bisa dihitung. Untuk urusan pekerjaan Yudha masih bisa bersikap profesional. Mbak Ani ikut merasa terheran dengan sikap dingin antara Tania dan Yudha.
"Perasaan hawa di sini kok panas ya?" sindir Mbak Ani sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Disampingnya ada Tania dan Yudha yang sedang menghitung sisa kartu produksi dan Yudha sedang menghitung jarum cadangan.
"Makanya ibu hamil itu siap sedia kipas portable Mbak, kakak saya juga dulu kalo lagi hamil rentan kepanasan dan hareudang selalu" ucap Yudha dengan nada ketus sambil berlalu dari ruangan Tania.
"Hmm baiklah mungkin besok saya harus ikutin saran kamu" ucap Mbak Ani yang juga ikut keluar dari ruangan Tania.
Tania yang melihat dan mendengarnya sudah mulai terbiasa dengan sikap Yudha. Walaupun ada ruang yang hilang di hatinya.
"Tanikuk, mau istirahat bareng gak?" ajak Nicko ketika Tania juga keluar dari ruangannya.
"Gak usah, A. Makasih. Aku bareng Mbak Sari sama Mbak Sofie aja. Kalo aku bareng A Nicko nanti ada yang gak nyaman dan malah pergi" ucap Tania. Nicko yang mendengar ucapan Tania langsung terhenyak dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh...Eh...Bukan gitu maksud aku. Justru aku mau kalian baikan lagi. Kalian kayak main kucing-kucingan, gak saling sapa jadi kita juga ikutan gak nyaman. Formasi kita kayak yang patah gitu"
"Gak usah lebay deh. Aku mah mau bersikap biasa aja sama A Yudha tapi dia nya kayak yang udah memberi batasan. A Nicko tau sendiri lah A Yudha kayak gimana. Susah kan mau membuat A Yudha berubah lagi"
"Iya sih dia mah kalo udah hitam ya hitam. Kalo udah putih ya putih. Gak bisa jadi abu-abu" ujar Nicko.
"Nah kan. Tapi aku mah masih abu-abu sama A Yudha"
"Hmmmm masalah kamu sama Yudha aku gak tau pasti penyebabnya apa. Yang aku baca sih lebih rumit dari masalah orang pacaran. Yaudah atuh ya aku keluar duluan kalo kamu mau sama Sari dan Sofie" ucap Nicko sambil menepuk bahu Tania.
Setelah menyimpan sisa kartu produksi di meja Bu Dina, Tania bergegas menuju mesin Mbak Sari berniat mengajak istirahat bareng. Namun, disana ada Yudha yang sedang membetulkan mesin. Ketika Tania sedang berbicara dengan Mbak Sari Yudha seolah tidak menganggap Tania ada walaupun ia tahu bahwa Tania sempat menatapnya dan ia melihat dengan ujung matanya.
Sudah beberapa hari operator sebagian ada yang masuk dan sebagian ada yang masih di rumahkan. Perlahan orderan masuk sedikit demi sedikit berdatangan. Seperti biasa agar bisa menikmati makan siang dengan tenang, Tania mengajak Mbak Sari dan Mbak Sofie untuk sholat dzuhur dulu baru mereka akan menuju kantin.
__ADS_1
"Neng, nih ada menu baru, Ibu sekarang nyediain soto lamongan. Siapa tau ada karyawan orang lamongan jadi bisa terobati kangen sama kampung halamannya" Bu Maryati berpromosi ketika Tania dan duo Mbak hendak memesan makanan.
"Boleh deh, Bu. Saya mau ya. Mbak Sari sama Mbak Sofie mau gak?" tanya Tania.
"Boleh deh" ucap duo Mbak berbarengan.
"Saya juga mau pesan, Bu" ujar Yudha sambil mendelikkan matanya ke arah Tania lalu berlalu menuju meja di tengah kantin yang disana sudah nampak Nicko dan Iqbal.
"Eh, ini beneran mesen atau modus aja, Tan? Kayaknya dia gengsi mau ngomong sama kamu makanya so' so'an pesen makanan yang sama" ujar Mbak Sofie.
"Udah biarin aja Mbak. Eh tapi dia kan gak suka sama soto, kok tiba-tiba pesen soto" ujar Tania.
"Nah bener kan apa yang aku bilang" ucap Mbak Sofie.
"Yaudah biarin aja setiap orang kan kadang seleranya suka berubah. Husnudzon aja" kilah Mbak Sari.
"Ciee ibu hamil bawaannya bijak terus nih ye..." canda Tania
"Aamiin...." ucap Tania dan Mbak Sari berbarengan sambil mengusap ngusap perutnya.
Setelah jam makan siang mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Saat membantu Mbak Ani melipat produksi, Pak Mul meminta Tania untuk membantu Yudha memasangkan jarum pada mesin yang sudah di bersihkan. Masih dengan muka yang dingin, Yudha tidak memberi sepatah kata pun pada Tania.
"Awwww...Shhh" teriak Tania kala memasangkan jarum lalu mengibas-ngibaskan tangannya.
Yudha yang mendengarnya sontak kaget dan secara spontan menghampiri Tania.
"Kenapa?" tanya Yudha tanpa berpikir apapun meraih tangan Tania dan melihat jarinya yang tertusuk jarum.
__ADS_1
"Dalam gak lukanya? Keluarin dulu darahnya biar aku ambil revanol dulu di kotak P3K" titah Yudha.
Tania menuruti apa kata Yudha. Ia menghisap jarinya yang tertusuk jarum. Melihat itu Yudha langsung saja mengomeli Tania.
"Kamu apa-apaan sih. Itu tangan kamu masih kotor main isap aja, kalo ada kuman atau bakteri masuk ke mulut kamu gimana? Sini mana lukanya bersihin dulu terus pakai betadine dan pakai plester" ucap Yudha. Tania tersenyum bahagia melihat perlakuan Yudha kepadanya kali ini.
"Udah nih" ucap Yudha.
"Lagian kalo mau dipasang jarum bawah jeck nya pakai oli dulu jadi ketika dipasang gak susah dan gak perlu ditekan" kali ini Tania protes.
"Biasanya juga kalo udah beres pasang jeck dan jarum baru dikasih oli jadi wajar aja kalo pas di pasang agak susah" kilah Yudha.
"Nah gitu atuh, A" ucap Tania.
"Apaan?" tanya Yudha.
"Aku tau A Yudha masih care sama aku. Masih mau ngomong sama aku. Hanya saja aku gak tau benteng apa yang A Yudha bangun sehingga aku gak bisa melintasinya" keluh Tania akhirnya ia bisa mengungkapkan kegalauan hatinya.
"Ehmm..Itu...Itu....Itu hanya atas dasar kemanusiaan aja aku nolongin kamu. Aku gak mau di sebut gak berperikemanusiaan liat temen kerja yang terluka. Jangan GR yah. Lagian benteng, benteng apaan? Yang aku tau cuman benteng raksasa China" ucap Yudha salah tingkah.
Tania hanya tersenyum lega tanpa membalas ucapan Yudha dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Setidaknya sekarang ia tahu bagaimana kondisi hati Yudha, ternyata abu-abu seperti hatinya. Namun, benteng yang kini Yudha bangun masih menjadi teka-teki bagi Tania, semoga saja suatu saat ketika ia sudah yakin akan perasaannya teka-teki itu akan terpecahkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hay-hay readers....Di tempat Author sudah tiga hari ini sangat susah sinyal. Makanya Author tidak bisa up setiap hari. Untuk mengerjakan daring anak saja harus nongkrong di luar rumah untuk mendapatkan sinyal.
Hari ini author alhamdulillah bisa up dengan yaa ituuuu nongkrong di luar rumah sambil jadi kambing conge nya keponakan yang sedang diapelin bebebnya. Pokoknya sekarang author lagi jadi pemburu sinyal heheheh...
Untuk yang sudah mengapreasiasi karya author terimakasih banyak ya...big hug untuk kalian.....do'akan novel ini bisa segera lulus review kontrak ya.....
__ADS_1
With ❤️
Santii_Chan