
Kalau tanggal merah di weekday itu rasanya merdeka bagi karyawan biasa seperti Tania dan kawan-kawan. Hari ini Tania memenuhi undangan syukuran atas kehamilan Mbak Sari. Seperti biasa Yudha sudah stand by menunggu di depan gang untuk menjemput Tania.
"Acieee rapi amat kalo pake baju koko" puji Tania.
"Mau traktir apa?" tanya Yudha.
"Ih, gak pamrih juga mujinya. Beneran, A. Kalo cowok pake baju koko tuh di mata aku ganteng nya berkali kali lipat"
"Ehmmm....Jangan sampai aku terbang gini yah hahaha. Yuk buruan naik" ucap Yudha.
"Baiklahh.....Baiklah..." mereka pun berangkat menuju kediaman Sari.
Sesampainya disana, rumah Sari sudah ramai didatangi oleh ibu-ibu pengajian. Tania dan Yudha disambut oleh suami Sari, Aris. Begitu masuk mereka berbincang santai sebelum acara pengajian dimulai dan Mbak Sofie pun sudah datang rupanya. Tidak lama, Iqbal serta Fira pun datang dan ikut bergabung hanya Nicko yang belum terlihat batang hidungnya. Yudha mencoba menghubungi Nicko berulang kali tapi tetap tidak ada jawaban. Kemudian gantian oleh Tania dan hasilnya tetap sama.
"Kemana tuh anak ya? Masa udah jam 10 pagi belum juga bangun" gerutu Yudha.
"Palingan dia mah begadang" timpal Iqbal.
"Kok lu tau, Bal?" tanya Yudha.
"Soalnya dia malem ngajak mabar game. Gue cuma tahan sampe jam dua pagi aja gak kuat mata minta dilipat" ucap Iqbal.
"Pantesan. Pengajian selesai dia baru bangun" ucap Yudha.
Acara pengajian dimulai dengan dipimpin oleh ustadz dari mesjid terdekat. Dengan khusyuk semua orang yang hadir membacakan ayat suci al-quran dan memanjatkan do'a terbaiknya bagi si jabang bayi dan keluarga Mbak Sari. Setelah do'a penutup di ucapkan, acara di lanjutkan dengan ramah tamah serta mencicipi berbagai hidangan yang telah tersedia.
"Mbak, kok keliatan cantik sih?" ucap Fira.
"Lah, emang kemarin-kemarin aku gak cantik ya?"
"Eh bukan gitu, auranya beda malah makin cantik. Kata mamah aku mah yah waktu kakak aku hamil kalo wajahnya cantik banget bersinar itu tandanya hamil anak cowok" ujar Fira.
"Mau cewek, mau cowok yang penting sehat, selamat, dan sempurna" timpal Aris.
"Nah itu betul. Mau cewek atau cowok sama aja gak akan pernah kurang kasih sayangnya" ucap Mbak Sari.
"Iya Mbak, kita do'ain semoga lancar lancar, sehat selamat sempurna buat ibu dan bayinya" ucap Tania yang diaminkan oleh semuanya.
Sampai lewat dzuhur ternyata Nicko masih saja belum datang, acara sudah berakhir dan semua tamu satu persatu pulang. Tania dan kawan-kawan juga ikut pamit, hanya saja saat pulang Tania tidak akan pulang bersama dengan Yudha. Mbak Sofie mengajaknya untuk menengok kotsan barunya.
__ADS_1
"A, aku mau ke kotsan Mbak Sofie dulu. A Yudha gapapa pulang sendiri?"
"Sendiri gimana orang aku barengan sama Iqbal dan Fira kok"
"Hahah iya ya. Hati-hati dijalan ya, A" Tania melambaikan tangannya ke arah Yudha, Iqbal dan Fira.
"Kamu juga hati-hati kalo udah sampe di rumah kabari ya" ucap Yudha, Tania mengangguk mengiyakan ucapan Yudha. Setelah Yudha berlalu, Tania dan Mbak sofie pun meluncur ke tempat kotsan.
"Yaelah Mbaaakkk, ini mah deket banget sama rumah aku atuh. Ini bisa jadi jalan alternatif waktu aku pergi ke sekolah" ucap Tania sambil menyenggol lengan Mbak Sofie.
"Lah apa iya, Tan?" tanya Mbak Sofie.
"Iya, Mbak". Mereka masuk ke dalam Kotsan, ini lebih bisa disebut rumah kontrakan. Ada ruang tamu kecil, kamar, dan dapur, sayangnya kamar mandi terletak terpisah dan digunakan bersama para penghuni lainnya. Bagi Mbak Sofie yang penting harganya terjangkau, bisa nabung dari sisa gaji dan yang lebih utama itu nyaman karena tempatnya jauh dari kebisingan jalanan kota.
"Mbak gak takut tinggal sendirian?" tanya Tania sambil melihat-lihat berbagai sudut di kotsan itu.
"Gak lah takut apa? Lagian ya, Tan yang punya kotsannya juga baik dan ramah. Mereka udah sepuh, aku jadi ingat kedua orang tuaku di kampung" ucap Mbak Sofie menundukkan kepalanya.
"Anggap aja mereka itu orang tua Mbak. Aku ngerti lah perasaan Mbak sebagai anak rantau jauh dari orang tua"
"Iya mereka juga bilang begitu. Katanya kalau ada apa-apa jangan sungkan mereka siap membantu"
"Syukur deh Mbak kalo gitu. Aku juga kan bisa sering main kalo deket kayak gini mah" hibur Tania.
"Oke siap Mbak asal ada ijin aja dari komandan besar di rumah aku mah heheh" kekeh Tania.
"Aku mau beli dulu camilan di warung depan, kamu tunggu disini ya"
"Mbak, sebenernya aku kebelet pengen ke air dari tadi"
"Ya ampun, kenapa gak bilang?" ucap Mbak Sofie mengasongkan sebuah ember dan gayung kepada Tania. Tania hanya cengengesan saja.
Setelah menuntaskan hajat kecilnya, Tania bergegas keluar dari kamar mandi karena takutnya ada orang yang mengantri untuk masuk. Walaupun kamar mandi yang tersedia ada tiga ruangan tetap saja kalau yang namanya kamar mandi bersama ya tidak bisa seenaknya.
"Loh, Tania?" sapa seseorang yang berada tidak jauh dari kamar mandi saat Tania keluar, lalu menoleh ke asal suara.
"Loh, Akbar? Kok ada disini?" tanya Tania terheran-heran.
"Hahah kamu ini harusnya aku yang nanya kayak gitu" ujar Akbar menepiskan tangannya.
__ADS_1
"Lah emang kenapa?" tanya Tania lagi.
"Ini kan rumah aku. Ehm maksud aku rumah Amih sama Apih" ucap Akbar yang tidak terlepas dari senyumnya.
Oh jadi Akbar tinggal disini.....Rumah yang lumayan besar ditinggali oleh dua orang yang sudah sepuh plus seorang anak laki-laki. Gumam Tania.
"Heloo kok malah bengong sih?" tanya Akbar.
"Eh iya. Temen aku ngekost disini, Bar"
"Oh yang baru masuk tiga hari yang lalu ya?"
"Iya. Titip ya heheh" ucap Tania sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Dia itu yang ngecengin kamu waktu di acara nikahan itu loh, tapi kayaknya dia juga gak tau kalo ini kotsan punya Amih kamu" bisik Tania.
"Hahaha pake acara bisik-bisik segala. Iya, Amih juga bilang ada anak cewek ngekost baru. Amih langsung cocok aja waktu dia nawar harga, katanya vibesnya beda keliatan anak baik-baik, terus kebetulan cucu Amih semuanya laki-laki makanya Amih seneng ada yang kost cewek masih muda. Tapi kayaknya tuaan dia yah umurnya sama aku?"
"Alhamdulillah, aku lega deh dengernya. Iya dia umurnya tiga tahun lebih tua dari aku, dari kamu juga kan kita seumuran yah"
"Oh gitu ya hmmm baiklah" Akbar manggut-manggut.
"Emang kalian belum sekalipun ketemu yah?" tanya Tania
"Belum. Aku kan kerja pergi pagi pulang sore, pas dia ke rumah juga aku di kamar aja gak pernah keluar kamar kalo ada tamu"
"Pantesan Mbak Sofie gak cerita apa-apa". Percakapan depan kamar mandi itu pun berakhir dengan kedatangan Mbak Sofie dengan membawa dua kresek sedang camilan serta minuman. Mbak Sofie terkejut melihat orang yang ada di depannya mengobrol dengan Tania.
Itukan orang yang waktu ngisi acara di nikahan Sari gumam Mbak Sofie di hatinya.
"Lagi ngobrolin apa sih seru amat, depan kamar mandi pula. Lagi antri emang?" tanya Mbak Sofie.
"Eh, Mbak kenalin ini Akbar" ucap Tania memperkenalkan Akbar kepada Mbak Sofie. Akbar mengulurkan Tangannya dan disambut oleh Mbak Sofie serta senyum keduanya.
"Tan, hayu masuk. Akbar mau ikut gabung?" ajak Mbak Sofie.
"Oh terimakasih Mbak. Silahkan nanti takut ganggu acara cewek-cewek heheh" kekeh Akbar.
"Acara apaan kita cuman ngobrol-ngobrol aja sambil nyemil" ucap Tania.
__ADS_1
"Heheh silahkan kalian saja, terimakasih ajakannya" ucap Akbar sopan.
Tania dan Mbak Sofie pun masuk ke kamar kotsan. Dari raut mukanya Mbak Sofie bertanya-tanya kenapa bisa ada Akbar dan kenapa bisa akrab dengan Tania. Hmmm Kenapa ya? Hayo kenapaaa?