
Leukemia?
Penyakit macam apa itu? Kenapa harus menimpa A Yudha? Kenapa aku gak boleh tau? Apa salah aku?
Ribuan pertanyaan bergelayut dalam otak Tania. Sedari mendengar kabar dari Nicko situasi dan kondisi hatinya melemah, ia tak bisa lagi menahan hujan air mata dipipinya. Pagi itu ia putuskan untuk ijin pulang. Dengan ojek online ia kembali ke rumahnya dengan tatapan penuh tanya dari ibunya.
Kok teteh udah pulang lagi? Matanya juga sembab? Ada masalah apa ya? Tadi pagi berangkat baik-baik aja kelihatannya. Ibu bergumam pelan masih dengan celemek menggantung dibadannya.
Tok...tok...
Ibu mengetuk pintu kamar Tania.
"Teh..". Ibu mencoba memanggil tapi tidak ada sahutan dan hanya terdengar isak tangis.
Sreeettt.....Pintu tidak terkunci. Ibu masuk pelan dengan perasaan penuh kekhawatiran mendekati anak sulungnya. Tania menelungkupkan badannya diatas kasur dengan suara sesenggukan yang tertahan.
Hikss.....Hiksss ..hiksss
"Teh....." Sapa lembut ibu sambil meraih pundak anaknya. "Teh, ada masalah apa? Ada apa kok tiba-tiba pulang lagi kerjanya?" Tanya ibu penuh selidik tapi pelan khas seorang ibu yang penuh pengertian.
"Ibu...hikss hiksss hiksss" Tania bangkit lalu memeluk ibunya dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu.
"Ada apa teh? Coba cerita. Ada masalah apa? Kalo teteh kayak gini malah bikin ibu khawatir sama bingung". Ucap ibu mengelus-elus kepala Tania.
"A Yudha, bu...A Yu...dha" Ucapnya terbata-bata karena saking sesenggukannya.
"A Yudha kenapa? Dia nyakitin kamu?" Tanya Ibu sambil menangkup wajah Tania dan hanya di balas dengan gelengan oleh Tania.
"Aku salah apa bu? Kenapa seakan aku orang jahat"
"Teh..." Ucap ibu pelan. "Lihat ibu.." Tania menatap wajah ibunya. "Teteh yang tenang dulu, ada apa? Coba ceritakan pelan-pelan, biar ibu paham"
__ADS_1
Tania mengusap air matanya dan berusaha tenang. Tarik nafas lalu membuangnya perlahan, itu dilakukannya berulang-ulang sampai dirasa sedikit tenang.
"Bu....A Yudha sakit. Dan aku gak boleh tau keadaannya. Semua orang ikut merahasiakan keadaan A Yudha dari aku"
"Kenapa begitu? Memangnya Yudha sakit apa?"
"Leukemia, bu. Dan udah di stadium 4."
"Astaghfirullah, innalillahi..... Sejak kapan? Kenapa gak ada yang ngasih kabar?" Kali ini Ibu yang di buatnya kaget.
"Aku gak tau pastinya sejak kapan. Gak ada yang ngasih tau aku secara detailnya gimana. A Nicko aja aku paksa ngasih tau tadi"
"Alasannya apa, Teh? Kenapa teteh gak boleh tau?"
"Aku juga gak tau bu. Hanya sebulan belakangan sikap A Yudha aneh, tiba-tiba menjauh dan memutuskan komunikasi sama aku". Tania menceritakan secara runtut awal mula kejadian saat di mall sampai Yudha menjauhinya. Ibu tampak mendengarkan dengan baik apa yang anaknya utarakan.
"Kenapa ada kejadian besar seperti itu kamu gak kasih tau bapak sama ibu? Itu juga kan menyangkut keselamatan kamu".
"Aku pikir ini hanya masalah sepele, bu. Dan yang bersangkutan masalahnya ya A Yudha sama Irwan".
"Mamah A Yudha shock. Dan justru menyalahkan aku, bu" Tania tertunduk dan lagi air matanya jatuh.
"Bukan ibu mau suudzon ya, bukan juga mau menyimpulkan secara singkat apa yang sebenarnya terjadi. Feeling ibu, mamahnya Yudha menyuruh Yudha untuk jauhin kamu, Teh. Ibu juga pasti akan melakukan hal yang sama walau itu gak bener. Toh yang menjalaninya kalian bukan ibu secara langsung. Tapi orang tua mana sih yang mau anaknya terluka baik itu secara fisik atau hatinya. Mungkin juga mereka gak ngasih tau kamu perihal Yudha sakit ya karena buat kebaikan kalian juga".
"Kebaikan dari mananya, bu?"
"Pertama mereka ingin fokus pada kesehatan Yudha. Dan jika ada kamu kemungkinan sakit Yudha akan tambah parah. Kedua itu juga buat kebaikan kamu. Setidaknya kamu gak akan terlalu terpukul atas apa yang menimpa Yudha".
"Lalu aku gak ngerti A Yudha akan tambah parah karena aku itu apa alasannya?"
"Alasannya karena cinta tak tersampaikan dan tidak berbalas. Ibu sebenernya udah tau dari dulu kalo Yudha itu sebetulnya menyimpan perasaan sama kamu. Tapi kamu tidak pernah peka. Ibu gak pernah bilang karena ibu gak mau ikut campur sama urusan percintaan anak anak ibu kecuali kalau ada niatan dan obrolan serius sama bapak maupun ibu"
__ADS_1
"Terus sekarang aku mesti gimana bu....Hwaaa haaaa......" Tangis Tania pecah semakin keras. Ibu merangkul anaknya kedalam pelukannya lagi membiarkan Tania menumpahkan segala tangis yang membebani hatinya.
Lama Tania menangis sampai akhirnya tertidur lelap dengan mata yang bengkak. Ibu beranjak keluar kamar, tapi langkah ibu terhenti ketika ponsel Tania berdering tanda panggilan masuk. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Nicko dan Iqbal tapi kali ini yang menelepon adalah Akbar. Terpaksa ibu mengangkat telepon Tania dan keluar dari kamar.
"Assalamualaikum"
………….
"Ini, ibunya Tania"
...........
"Iya tadi Tanianya gak masuk kerja, agak kurang sehat dan sekarang sedang tidur"
...........
"Oh iya kalau begitu. Waalaikumsalam".
Ibu meletakkan kembali ponsel Tania ketempat asalnya. Nanti sore Akbar akan datang ke rumah menemui Tania. Dalam sambungan telepon suaranya terdengar begitu cemas.
Hufhhhhhh ibu menghela nafas. Kehidupan percintaan anaknya ternyata tidak semulus apa yang diharapkan. Harapan ketika ada pangeran yang datang secara berani untuk mempersunting Tania akan sekali jadi, namun kenyataan anaknya malah mendapati pilihan cinta yang berliku.
Yudha yang secara terang-terangan menyatakan kalau ia akan menjadi seorang kakak bagi Tania, tapi kenyataannya malah menyimpan segudang rasa.
Akbar yang juga dengan berani datang menunjukkan kalau dia memang ingin menjalin kedekatan dengan selalu datang ke rumah dan mau bercengkrama dengan bapak.
satu lagi, Irwan. Ahh...ibu tidak tau rupanya dan hanya mendengar secara sekilas tadi dalam obrolan Tania, bukan tipe lelaki yang gentle. Sudah pasti masuk dalam black list ibu dan bapak.
"Hmmm ibu selalu berharap dan berdo'a agar kamu dapat jodoh yang terbaik, nak. Mungkin sekarang Yudha memang lelaki terbaik tapi keluarganya sekarang saja terlihat bagaimana perlakuannya sama kamu"
"Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya".
__ADS_1
Ibu bergumam sendiri sambil membereskan pekerjaan dapur yang tertunda tadi. Bagaimana pun Yudha sudah sangat baik kepada anaknya dan mau mengorbankan dirinya demi melindungi Tania. Semoga saja Yudha diberikan kesembuhan dan bisa bersenda gurau lagi bersama anaknya.
Sakitnya Yudha bukan kesalahan Tania, tapi itu sudah kehendak yang diatas. Tania sudah terlalu merasa bersalah atas apa yang terjadi tempo hari, dan sekarang tambah terbebani dengan sakitnya Yudha. Pantas saja ia merasa terpukul.