Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Kakak yang Posesif


__ADS_3

"Kamu tadi kemana aku telpon kok gak di angkat?"


Begitu masuk rumah Tania bergegas masuk ke kamarnya dan menaruh hadiah dari Irwan diatas meja rias. Di raihnya ponsel yang sedari tadi ia charge, rupanya ada pesan masuk dari Yudha.


Tutttt..... Telepon tersambung, Tania memutuskan untuk menelepon Yudha.


Telepon terangkat pada dering ketiga.


"Hallo Assalamu'alaikum, Tan"


"Wa'alaikumsalam, A. Maaf tadi gak ke angkat aku lagi keluar"


"Ouh tumben keluar malem kemana emangnya?"


"Ke depan gang aja gak jauh-jauh kok, kalo jauh mah si Bapak auto marah atuh" kekeh Tania.


"Abis beli makanan?"


"Engga tadi ada A Irwan"


"Irwan? Mau apa?" tanya Yudha dengan nada tak suka.


"Cuman minta maaf sambil ngasih hadiah sama aku"


"Hadiah? Ulang tahun kamu kan masih lama"


"Iya hadiah karena dia ngerasa bersalah katanya udah bikin aku kecewa"


"Hah kamu udah sakit baru nyadar dia. Terus kamu luluh lagi?"


"Tidak semudah itu marisol mengingat apa yang sudah dia perbuat dengan hatiku" gelak Tania.


"Yeee kamu mah aku serius malah bercanda. Awas aja kalo ketemu aku jitak kamu"


"Ini mah A Nicko kedua main jitak aja"


"Hahaha lagian orang serius malah dibecandain. Terus kamu gimana pas si Irwan minta maaf ke kamu?"


"Ya aku maafin itupun aku jawabnya ketus. Males amat aku, rasanya rugi udah suka sama dia"


"Baguslah kalo kamu juga sadar. Jadi sekarang perasaan kamu ke dia gimana?"


"Menghilangkan perasaan itu gak mudah, A. Walaupun masih ada setitik rasa tapi aku udah janji sama diri aku sendiri buat stop mencintai dia. Aku juga tadi nganggepnya ya sekedar temen aja"


"Hmmmm bagus, sayangi diri kamu sendiri. Jangan karena cowok kayak dia kamu jadi sakit kayak kemarin. Jangan takut kalo jodoh mah gak akan kemana. Oh iya tadi kamu kemana aku cari-cari?"


"Iya kakakku sayang. Aku tadi bermediasi sendiri di toilet"

__ADS_1


"Mediasi? Mediasi kesurupan maksud kamu?" tanya Yudha tegang sebab ia tahu toilet dibagian lorot benang itu sering terjadi hal-hal mistis.


"Enggak bukan itu. Aku tadi nangis di toilet, kesel aku sama emak-emak gengster. Nyinyir mulu kerjanya ngata-ngatain aku cewek gak bener"


"Atas dasar apa mereka bilang gitu?"


"Waktu istirahat mereka liat aku lagi makan sama A Yudha dan kawan-kawan. Katanya gak cukup apa cowok satu sampe tiga cowok diembat sekaligus. Kepala aja di tutup tapi yang bawah diumbar-umbar ceunah" gerutu Tania mengadukan kejadian yang menimpanya tadi.


"Astaghfirullah...Pantesan mereka terkenal mulut bon cabe level 30 end. Kamu lawan gak?"


"Boro-boro lawan, A. Mesin aku aja di rusakin sama mereka. Jadi aku harus siapin mental lagi besok, kerjaan belum selesai"


"Ya udah biar besok gak ketemu sama mereka kamu datang lebih awal ya jam 6. Nanti kerjaan kamu aku bantuin biar mereka datang kerjaan kamu selesai"


"Ide bagus. A Yudha pinter, rasanya aku pengen nangis aja mikirin besok"


"Baru tahu ya aku pinter. Aku tadi khawatir banget gak nemuin kamu pas pulang. Kirain aku kamu udah pulang duluan tapi kok gak ngabarin gitu"


"Yeee pede amat. Heehe bilang aja kangen"


"Iya lah siapa yang gak kangen sama kamu, tuh Pak Udin aja sering nanyain kamu waktu kamu sakit"


"Aku kan kesayangan semua orang" jawab Tania dengan percaya diri. "Malah tadi A Irwan juga bilang gitu, katanya pantes aja semua temen aku pas liat dia kayak yang benci karena aku itu kesayangan semuanya, dia sampe iri loh, A".


"Iri kenapa?"


"Iya yang peduli sama dia tuh cuman A Aldi aja katanya"


"Heu eum betul, A. Aku juga mikir gitu"


"Ya udah atuh istirahat gih besok kita pergi bareng ya aku jemput. Pokoknya mulai besok kamu harus pulang pergi sama aku jangan naik jemputan" tegas Yudha.


"Ashiap, Bos. Posesif amat"


"Yee ini anak beneran minta dijitak"


"Hahaha iya ampun ampun ya udah yah aku mau istirahat dulu. A Yudha juga istirahat ya. Assalamu'alaikum"


"Iya, Wa'alaikumsalam".


Percakapan pun berakhir. Senyum Tania mengembang saat ia menutup matanya. Setelah berdo'a matanya pun terlelap. Mood nya kembali naik setelah obrolan panjang dengan Yudha. Dengan Yudha tak ada hal yang Tania tutupi, ia sudah sangat percaya dengan Yudha sehingga ia tak sungkan untuk berbagi keluh kesahnya begitupun sebaliknya. Tapi ada hal yang tak pernah Yudha ceritakan kepada Tania atau siapapun, yakni tentang perasaannya. Tidak ada seorang teman pun yang tahu siapa perempuan beruntung yang telah mendapatkan hati Yudha.


Kepada siapapun sikapnya selalu hangat terlebih pada Tania. Yudha memiliki jiwa solidaritas yang tinggi, bijak, kalem, cerdas, pengertian. Itulah mengapa Pak Mul selalu mengandalkan Yudha setiap ada permasalahan mesin.


Pagi sekali Tania sudah bersiap pergi bekerja dan sesuai janjinya pukul setengah enam Yudha sudah menjemput Tania di depan gang. Pagi buta belum ada seorang karyawan pun yang datang kecuali satpam jaga.


Tanpa menunggu lama, pekerjaan Tania pun selesai tepat setengah jam sebelum jam kerja dimulai. Ia bisa bernafas lega dan bisa kembali ke ruangannya mengerjakan pekerjaan ia yang sesungguhnya. Yudha selalu menjadi pencetus solusi terbaik, termasuk pagi ini karena diburu pekerjaan keduanya melewatkan sarapan. Ternyata Yudha sudah mempersiapkan segalanya termasuk makanan untuk sarapan. Ia menelepon Iqbal agar membeli nasi kuning si Emak langganan Tania.

__ADS_1


"Makasih ya, A. Aku bisa bernafas lega akhirnya gak perlu berhadapan sama para gengster lagi" ucap Tania sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Gengster? Gengster yang mana, Tan? Geng motor?" tanya Iqbal penasaran.


"Sejak kapan aku berurusan sama geng motor?"


"Lah itu barusan kamu ngomong" tuduh Iqbal


"Bukan geng motor itu, Babal. Tapi emak-emak gengster dibagian lorot tuh. Mulutnya setajam samurai" cibir Tania.


"Iya. Malahan kemarin sampe ada yang pundung nangis di toilet" kekeh Yudha.


"Ish... A Yudha sssstttttt. Ngapain bilang-bilang malu atuh kan aku mah setrong woman" ucap Tania sambil memukul tangan Yudha. Yudha hanya tergelak melihat tingkah Tania yang seperti anak kecil.


"Masa, Tan? Kamu di bully sama mereka?" tanya Iqbal semakin penasaran.


"Iya. Gara- garanya tuh A Yudha"


"Loh kok gara-gara aku sih" ucap Yudha tak terima.


"Iya kalo bukan karena si Leni fans berat A Yudha mungkin aku bakalan baik-baik aja"


"Si Leni yang suka ngejar-ngejar lu, Yud?" kali ini Yudha yang dilempari pertanyaan oleh Iqbal.


"Iya. Dan yang ngebully aku tuh bibi nya si Leni. Dia gak terima liat A Yudha deket sama aku. Harusnya tuh yang deket sama A Yudha itu si Leni keponakannya" jelas Tania. "Udah ah jangan bahas itu lagi. Pengalaman menyeramkan itu bikin aku gak mood lagi. Ini asli menyeramkan dibanding cerita horor di bagian lorot sama toiletnya" ucap Tania bergidik ngeri.


"Ya tapi kan akhirnya aku bantuin kamu nyelesein kerjaan kamu" ucap Yudha.


"Heheh iya makasih ya A Yudha" kekeh Tania.


"Sama aku juga donk bilang makasih udah dibawain sarapan juga" protes Iqbal.


"Iya ya makasih ya, Babal" senyum Tania.


"Maunya lu dibilang makasih, orang beli sarapan juga duitnya dari gue dodol" ujar Yudha melemparkan gumpalan kertas nasi bekas ia makan.


"Asem lu" cibir Iqbal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hay readers ku, terimakasih atas supportnya sehingga author bisa selalu semangat buat up cerita ini.


Tak mudah membagi waktu dan pikiran dengan segala keriweuhan ibu dua bocil, mendaring anak, tugas negara dan tuntutan pekerjaan di dunia nyata. Demi readers setia cahaya cinta tania author insya allah akan selalu istiqomah melanjutkan ceritanya.


Do'akan ya semoga Novel perdana Cahaya Cinta Tania ini bisa segera lulus kontrak. Admin noveltoon segera acc yah kontraknya heheheh.


Terima kasih semuanya..

__ADS_1


With ❤️


Santii_Chan


__ADS_2