Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Pemakaman


__ADS_3

"Apakah betul almarhum Yudha adalah orang sholeh?" Tanya Pak Ustadz selepas menyolatkan.


"Ya, kami bersaksi" seru seluruh orang yang berada di dalam dan luar mesjid. Memang pada dasarnya Yudha adalah orang yang baik, meninggal dihari jum'at yang baik, serta begitu penuhnya orang yang silih berganti untuk ikut menyolatkan. Semuanya seakan memanfaatkan waktu terakhir yang berharga bersama Yudha.


Keranda diangkat keluar mesjid. Hujan gerimis mengiringi perjalanan menuju peristirahatan terakhir. Mamah, Neng, dan Tania terus saja menangis. Tapi bukan hanya mereka, melainkan semua orang yang dekat dengan Yudha meneteskan air matanya.


LAA ILAA HAILLALLAH... Kalimat tahlil mengiringi jenazah yang dimasukkan kedalam mobil ambulance menuju makam. Tania dan keluarga inti ikut dalam mobil ambulance mendampingi jenazah. Mereka benar-benar tak ingin melewatkan detik-detik terakhir bersama Yudha. Dalam perjalanan, semua kenangan indah bersama Yudha bermunculan melintas dalam benak Tania.


Kalau saja A Yudha dulu tidak mengikrarkan diri untuk menjadi kakak aku, mungkin kita bisa bersama sebagai pria dan wanita.


Aku gak akan pernah lepasin A Yudha.


Tapi mungkin ini jalan yang harus kita lalui.


A Yudha menyayangiku dan menjagaku dengan cara yang lain.


Waktu takkan pernah salah, apalagi apa yang sudah jadi kehendakNya.


A Yudha sudah bahagia disisi-Nya sekarang.


A Yudha pasti akan selalu tersenyum disana melihat aku tumbuh menjadi wanita yang kuat.

__ADS_1


Tania memegang dadanya. Lirih ia berkata dalam hatinya sambil air matanya tak henti mengalir dipipinya.


Kali ini, biarkan aku habiskan seluruh kesedihan karena kepergianmu, A.


Biarkan air mata ini mengalir jatuh bersama air hujan yang mengiringi kepergianmu.


Ia melempar muka kearah jendela, lalu mengelus keranda jenazah didepannya. Seolah itu adalah badan Yudha. Neng yang melihatnya, memegang tangan Tania dan mengisyaratkan bahwa kita semua harus ikhlas dengan menganggukkan kepalanya. Tania melempar senyum lalu memeluk Neng yang berada disampingnya. Mereka saling menguatkan satu sama lain.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tania membiarkan badannya basah di guyur hujan agar kesedihannya ikut luruh. Ayah berjalan paling depan dengan foto Yudha dalam dekapannya. Mamah, Neng, Tania berada di belakang Yudha. Nicko dan Iqbal ikut menandu keranda.


Langit seolah ikut menangis. Langkah mereka terhenti saat sudah ada di depan liang lahat. Dengan perlahan, jenazah Yudha diangkat dan diturunkan kedalam liang lahat. Adzan di kumandangkan.


Kini sedikit demi sedikit raga Yudha ditimbun oleh tanah. Keluarga, saudara dan sahabat silih berganti menabur bunga diatas pusara. Pak Ustadz memberikan sedikit tausiyah dan dilanjutkan dengan mendo'akan almarhum Yudha. Tania berlutut dan mengusap lembut nisan Yudha. Ia mencengkram erat bunga yang ditabur diatas pusara.


Pertahanannya agar tidak meledak, sirna sudah. Dengan nafas tercekat, tangisnya semakin menjadi. Sahabatnya menatap penuh iba. Nicko menghampiri dan merengkuh bahu Tania. Ia menutup wajahnya, tidak bisa berpura-pura kuat barang sebentar saja.


"Boy, lu udah gak ngerasain sakit lagi. Sekarang lu udah lebih bahagia disana. Walaupun raga kita terpisah, tapi bagi gue jiwa lu masih ada ditengah-tengah kita." Iqbal berkata sambil memegang nisan Yudha.


Kini raga Yudha sudah kembali ke asalnya. Sampai acara pemakaman selesai, Mamah Yudha masih belum sadarkan diri. Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan area pemakaman. Hanya tersisa Tania, Nicko dan Iqbal yang masih terpaku didepan pusara Yudha.

__ADS_1


Sudah sekitar setengah jam mereka terpaku tanpa ada satu patah kata pun. Mereka bertiga tenggelam dalam pikiran dan kenangan masing-masing bersama Yudha. Yaa, Yudha memang mempunyai tempat tersendiri di setiap hati para sahabatnya.


"Tan, kita pulang Yuk?" Ajak Nicko membuka suara. Tania menggeleng masih dengan tatapan kosongnya.


"Hujannya tidak akan berhenti sekarang. Kalo kamu kelamaan kehujanan bisa sakit." ujar Iqbal.


"Biarin aja, Bal aku sakit. Biar bisa nyusul A Yudha." Oceh Tania tanpa dipikir.


Nicko berlutut dihadapan Tania yang terduduk. Mencengkram bahu Tania dengan erat sampai Tania meringis. "Lu gila hah? Apa dengan lu kayak gini bisa bikin Yudha balik lagi? Sadar Tania, lihat mata gue." Rahang Nicko mengeras. Sudah hampir putus asa bercampur emosi melihat Tania yang seperti kehilangan induknya.


Mendengar perkataan Nicko, Tania menunduk. Bahunya bergetar. Tangisnya semakin pecah merunduk diatas Tanah yang basah.


"Biarin Tania seperti ini dulu, Boy. Biarin dia puas-puasin menangis disini. Mungkin dengan begitu akan buat perasaan dia jadi lebih baik." Ujar Iqbal menepuk bahu Nicko.


Nicko pun bangkit, berjalan mundur. Membiarkan Tania menangis sejadi-jadinya disana. Ia dan Iqbal menunggu di sebuah pos tempat berjualan bunga. Sampai hujan reda, barulah Tania bangkit dan berjalan pulang.


"Tan.." Panggil Nicko. Tania menoleh, matanya sembab, wajahnya pucat, serta bajunya basah.


"Hayu, gue anterin lu pulang." Tania mengangguk lalu mengikuti Nicko.


Sepanjang perjalanan tatapan Tania kosong. Nicko yang mengerti keadaan Tania, memelankan laju motornya.

__ADS_1


Begitu sampai dan masuk ke rumah Tania, Nicko dan Tania langsung di sambut oleh Ibu. Ibu memberikan handuk karena melihat Nicko dan Tania yang basah kuyup. Tania menuju kamar mandi langsung, Ayah memberikan pinjaman baju ganti untuk Nicko.


Setelah keduanya berganti baju, mereka meminum coklat panas buatan Ibu. Kali ini wajah dan ekspresi Tania lebih baik dari sebelumnya. Tapi mengenai hati...... Jangan tanyakan seberapa kehilangannya ia......


__ADS_2