
Insting Tania kali ini terbukti nyata, selesai jam istirahat begitu ia kembali mesin lorot yang ia jalankan tadi mendadak jadi rusak. Butuh waktu 45 menit untuk membetulkannya, dengan harap-harap cemas ia menunggu. Ia berekspektasi pekerjaannya akan beres hari itu juga, tapi realitanya mungkin esok hari akan selesai. Tania memutarkan bola matanya, tempat ini benar-benar membuatnya tidak nyaman apalagi setelah jam istirahat suasana berubah jadi mencekam dan itu akan berlangsung sampai besok.
"Makanya jadi orang jangan belagu" sindir si ibu berkerudung kuning yang belakangan diketahui namanya Yeti.
"Kena batunya kan ngelawan orang tua" ujar si ibu berbaju kemeja.
"Kerja tuh yang bener bukan cari perhatian laki mulu" timpal Bu Yeti. "Ganjen kok dipiara. Satu aja gak cukup emang" sambungnya.
Dalam hatinya ia terus beristighfar. Ia harus tenang, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Aura disini berpengaruh kuat terhadap orang-orangnya, gelap dan menyeramkan.
"Mungkin hatinya gak secantik orangnya, makanya mesinnya ngadat gak mau dijalanin" ucap Bu Yeti lagi.
"Jaman sekarang nih banyak cewek atasnya aja ditutupin tapi yang bawah mah di umbar-umbar. Semuanya apalagi kalo bukan demi duit" ucap si Ibu berbaju merah.
Lalu apa bedanya sama kalian atas tertutup tapi mulut gak bisa dijaga ngatain orang sembarangan. MUNAFIK !!! Hati Tania menjerit. Ingin rasanya membalas semua ucapan mereka tapi ia urung melakukannya mengingat kejadian sekarang. Tania sudah menduga kalau mesin rusak itu pasti ulah mereka, sebab sebelum pergi istirahat tadi mesin ia tinggalkan dalam keadaan baik-baik saja.
Teknisi mesin bagian lorot sudah memperbaiki mesinnya, ia kembali mencoba melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Laju mesin setelah diperbaiki menjadi menurun tidak secepat tadi. Tania dengan sabar kembali menyusun ujung benang pada produksi yang gagal. Dengan penuh kehati-hatian mesin ia jalankan, dalam hati ia terus berdo'a agar tidak ada lagi hambatan untuk melorot benangnya.
Dua jam berlalu, performa mesin turun lagi malah membuat gulungan benang menjadi kusut, ditambah pikiran Tania makin kacau dengan keadaan yang begini. Emak-emang gengster terus saja menyindirnya gara-gara tadi pada saat istirahat Tania dikelilingi tiga orang lelaki. Kalau orang komputer produksi akan merasa biasa saja dengan pemandangan Tania bersama tiga serangkai, namun lain halnya dengan emak-emak gengster.
Tania disebut sebagai cewek gampangan lah, jual tampang lah, cewek matre lah, gak ada otaknya dan bla bla bla. Emosi Tania sudah tidak terbendung lagi. Ia matikan mesin dan beranjak pergi ke toilet. Di dalam toilet wanita ia menumpahkan kekesalannya dengan menangis sesenggukan. Tania adalah tipe orang yang kalau marahnya tidak terekspresikan maka ia akan menangis sejadi-jadinya sampai emosinya mereda dan hatinya tenang kembali.
Bel pulang sudah terdengar, Tania masih bertahan didalam toilet sampai orang-orang keluar semua terutama para Emak-emak gengster. Ia tak mau melihat batang hidung mereka lagi. Pertahanannya sudah roboh, lebih baik dimarahi oleh Mbak Ani yang jelas marahnya tentang pekerjaan bukan seperti omongan pedas mereka dibagian lorot.
Begitu hatinya tenang, ia membasuh mukanya lalu keluar dengan menyisakan mata yang sembab. Lampu ruangan satu persatu mulai dimatikan. Tania segera menyambar tas dan alat kerjanya lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Loh kok neng baru keluar?" tanya Pak Udin satpam.
"Eh iya Pak tadi saya ke toilet dulu" ucap Tania dengan senyum sedikit terpaksa.
__ADS_1
"Loh neng kenapa mukanya sembab gitu?"
"Oh gak apa-apa, Pak" Tania menunduk malu. Tadi ia sengaja menunggu lama sampai hampir maghrib ia baru keluar agar orang tidak melihat matanya yang sembab.
"Tadi A Yudha nanyain neng, katanya lihat tidak soalnya dicari kok gak ada" ujar Pak Udin.
"Oh iya makasih, Pak. Tapi apa A Yudha nya udah pulang?"
"Sudah neng bareng Nicko sama Iqbal" terangnya.
"Oh gitu, Pak"
"Lah, terus neng pulang sama siapa? udah maghrib ini"
"Gampang, Pak. Jaman sekarang kan ada ojek online tinggal pesan aja"
"Wah iya ya jaman sekarang makin canggih aja gak perlu susah-susah sama capek tinggal klik aja" ucap Pak Udin sambil cengengesan yang dibarengi dengan tawa renyah Tania.
"Ehhh iya ya neng, sok atuh duluan Bapak mah nanti gantian sama Bang Edi" ucap Pak Udin.
Selesai menunaikan kewajibannya Tania diam sejenak, ia meraba kedalam tasnya mengambil ponsel yang dari tadi tidak dinyalakan. Ia menekan tombol on, begitu menyala puluhan notifikasi masuk meramaikan ponsel Tania. Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari Yudha, Nicko, Iqbal, dan Mbak Sofie.
Perlahan ia balas satu-satu pesan yang masuk. Persembunyiannya tadi membuat Yudha begitu khawatir, belum sempat Tania memencet tombol kirim Yudha sudah meneleponnya.
"Assalamu'alaikum A"
..........................
"Iya aku gak apa-apa"
__ADS_1
..........................
"Masih, aku masih di pabrik baru selesai sholat"
.........................
"Gak usah. Aku pulang naik ojek online aja. A Yudha istirahat aja capek kalo bolak-balik jemput aku"
.......................
"Beneran, A aku gak apa-apa. Nanti kalo udah sampe rumah aku kabarin ya"
.........................
"Iya. Wa'alaikumsalam".
Sambungan telepon dimatikan. Tania membereskan mukena yang ia kenakan lalu merapikan jilbabnya dan beranjak untuk pulang. Begitu di pos satpam rupanya Pak Udin sedang sholat, Tania tidak melihatnya sebab terhalang oleh pembatas. Ia duduk dibangku luar ruangan satpam menyalakan ponselnya kembali dan membuka aplikasi ojek online. Setelah ia dapatkan driver, ia putuskan untuk menunggu diluar gerbang agar mudah untuk mengenali nomor ojek yang ia pesan.
Lumayan lama Tania menunggu sebab sang driver terjebak kemacetan. Tania menoleh ke kiri dan ke kanan mencari siapa tau ojeknya sudah sampai karena terkadang di aplikasi map nya masih diam eh taunya si driver sudah datang.
Tiddddd..... Suara klakson motor yang Tania kira itu adalah ojol yang ia pesan.
"Tania" sapanya
"Kamu baru pulang? Kamu udah sehat?" tanya nya
"Iya. Udah" jawab Tania singkat sambil menengok kearah ojol yang akan segera tiba.
"Beruntung aku bisa ketemu kamu, ayo aku anterin pulang" ajaknya masih dengan khas gombalnya. Tania memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Gak usah. Tuh ojolnya udah dateng aku duluan" ketus Tania yang berbarengan ojol tiba. Ia pun segera naik dan menyuruh ojolnya segera pergi, Tania malas jika harus bertemu dengan Irwan apalagi dalam keadaan dirinya yang tidak baik-baik saja dengan mata yang masih terlihat sembab.
Irwan masih terpaku ditempatnya dan penasaran kenapa muka Tania terlihat murung serta pulang telat. Kemana sang bodyguard yang biasanya selalu ada buat Tania?