
Pukul 3 dini hari Tania terbangun karena ingin buang air kecil. Kemudian karena dirasa tanggung untuk tidur kembali akhirnya Tania memutuskan untuk menunaikan sholat malam. Pada sepertiga malam itu ia bermunajat agar selalu diberikan kesehatan, umur panjang, mudah mencari rejeki serta dipertemukan dengan jodoh yang tepat.
Ditengah kekhusyukan berdo'a sekelebat terlintas wajah seseorang yang baru ini dikenalnya. Ia merasa aneh dan komunikasi antara mereka pun tidak begitu intens hanya sesekali mengomentari status WhatsApp yang dibuat Tania ataupun Akbar.
Terakhir mereka berbincang pun hanya saat kemarin bertemu di kotsan Mbak Sofie dan setelah itu tidak ada chat atau apapun. Ia tidak menaruh rasa atau harapan apapun terhadap Akbar, perasaannya hanya sebatas teman itu saja.
Selepas berdo'a sambil menunggu waktu subuh tiba ia putuskan untuk membaca ayat suci al-quran. Tidak lama adzan pun berkumandang, ia pun menunaikan kewajibannya lalu setelah selesai ia membantu Ibu membereskan rumah sambil menunggu waktu kerja.
"Teh, hari minggu nanti anaknya Bu Sartika mau menikah, hari sabtu acara pengajian dan siramannya" ucap Ibu sambil memotong dan memasukkan sayur kedalam panci.
"Ya terus? Kan yang di undang mah Ibu" ucap Tania sambil menyapu kearah dapur.
"Pasti nanti teh yah pada nanya ke Ibu kalo Ibu hadir. 'Ceu, kapan nih mau mantu?' 'Ceu, Kok Tania belum keliatan yang ngapel' dan bla bla bla. Risih ibu dengernya juga sama ocehan Ceu Wati tuh" oceh Ibu bersungut ria.
"Ngapain Ibu dengerin atuh. Unfaedah banget dengerin mah tuh ceramahnya Mamah Dedeh di tv" cerocos Tania. "Lagian kalo udah waktunya sama ada jodohnya mah pasti nikah juga. Ngapain nikah karena riweuh dengerin omongan orang nanti yang ada malah pernikahannya kurang berkah" Tambahnya lagi.
"Lagian kamu belum ada calon gitu? Oh iya Ibu lupa kamu kan baru sembuh dari patah hati" ledek Ibu, Bapak yang mendengar obrolan dua wanitanya ikut nimbrung di dapur sambil membantu mengaduk sayur.
"Ada apa ini masih pagi udah ngomongin jodoh sama nikah aja?" tanya Bapak.
"Tuh, Ibu meni baperan di omongin orang" cibir Tania.
"Ya iya atuh bakal baper kalo yang di omongin anak sendiri mah" ucap Ibu.
"Emang kamu udah ada calon teh?" tanya Bapak mengalihkan pandangan dari sayur ke pada Tania.
"Belum, belum ada yang berani ngadep Bapak. Makanya itu kumis cukur, Pak. Biar gak keliatan garang" protes Tania.
"Wes jangan salah. Ini kumis wibawa Bapak, Ibu kamu aja sampai kesemsem sama Bapak gara-gara kumis" ucap Bapak bangga sambil mengelus manja kumisnya.
"Ih apaan sih" pipi Ibu berubah merona karena malu.
"Sadar umurrrr woyy disini masih ada yang jomblo" protes Tania.
Ibu dan Bapak hanya saling pandang dan saling tersenyum malu. Teringat pada masa-masa muda dahulu saat masih pacaran. Mengabaikan Tania yang masih berada di dapur dan berlalu pergi melihat sebal kepada kedua orang tuanya. Tapi di satu sisi ia bahagia melihat orang tuanya di usia sekarang masih terlihat mesra dan seperti tidak pernah berkurang rasa kasih dan sayangnya. Malah dengan kehadiran Tania dan Salwa ikatan mereka makin terikat kuat.
Dikamar, ia membuka ponselnya berniat untuk menyetel musik menemani ia bersiap untuk bekerja. Sebelum musik dinyalakan, Tania melihat ada beberapa pesan masuk salah satunya dari Akbar.
Tumben sekali ngechat. Gumam Tania dalam hati.
"Hai, morning"
__ADS_1
Tania pun menggerakkan jarinya untuk membalas chat tersebut.
"morning too"
"Lagi apa?"
"Lagi siap-siap mau berangkat kerja"
"Kebetulan atuh mau bareng?"
"Hehe makasih gak usah, aku bareng temen kok"
"Oh gitu yaudah next time bisa kali ya berangkat kerja bareng?"
"Wes wes ada apa nih tumben?"
"Ssst jangan suudzon gitu gak baik"
"Lagian lagak-lagaknya ada udang di balik bakwan nih"
"Kamu mau bala-bala (bakwan)?"
"Yee bukan gitu. Itu mah istilah aja bukan kode mau bala-bala (bakwan). Tapi kalo mau ngasih mah gak apa-apa sih sekalian pakai cengek yah 🤪"
Yudha meminta maaf karena telat menjemput, tadi malam ia tidak bisa tidur akibat tidur dari sore dan terbangun jam 9 malam dan baru bisa tidur kembali saat jam 4 pagi. Makanya ia terlambat dan tidak sempat mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, ganti baju lalu pergi tanpa sarapan.
Begitu sampai di pabrik mereka menuju ruangan Tania setelah menyimpan helm dan jaket didalam loker. Disana sudah ada Mbak Sofie menunggu dengan satu kantong kresek kecil gorengan dengan berbagai macam. Karena menunggu tadi, mobil jemputan sudah sampai duluan dibanding mereka yang biasanya Tania dan Yudha suka datang lebih awal. Yudha melihat sekantong kresek gorengan itu dengan sumringah pasalnya ia melewatkan sarapan gara-gara kesiangan.
"Eits tunggu, main comot aja" Mbak sofie memukul tangan Yudha.
"Minta satu aja pelit amat lu" gerutu Yudha.
Mbak Sofie tidak memperdulikan Yudha dan langsung bicara dengan Tania.
"Tan, tadi Akbar nitip ini buat kamu" ucap Mbak Sofie memberikan kantong kresek itu kepada Tania.
"Akbar? Ya ampun aku kan cuman bercanda malah dikirim beneran" Tania menggelengkan kepalanya.
"Ada apa nih? Kayaknya ada yang aku gak tau yah?" tanya Mbak Sofie
"Gak ada kok Mbak, gak usah cemburu gitu ah" ledek Tania.
__ADS_1
"Anak ini bener-bener ya udah dibilangin aku gak ada rasa apa-apa juga sama dia" gemas Mbak Sofie.
"Eh kenapa emang?" tanya Yudha bingung antara menunggu dipersilahkan mengambil gorengan dengan penasaran apa yang dikatakan Mbak Sofie.
"Gak ada apa-apa" jawab Tania dan Mbak Sofie bersamaan.
"Yaudah nih sok makan aja siapa yang mau, aku mah mau gehu pedasnya aja lagian aku udah sarapan jadi masih kenyang " ucap Tania dan Yudha pun tanpa aba-aba langsung mengambil bala-bala dengan cireng karena saking laparnya.
"Rakus amat lu" ledek Mbak Sofie.
"Lapar gue, gak sempet mandi, gak sempet sarapan pula" keluh Yudha.
"Jorok amat lu, tuh jigong masih nempel di gigi" Mbak Sofie masih dengan ledekannya pada Yudha.
"Eits gue mah meskipun kagak mandi tapi cuci muka pake facial wash sama sikat gigi mah kagak kelewat" protes Yudha.
Tania menertawakan tingkah teman-temannya, lumayan buat mood booster disaat jenuh dengan suasana kerja.
Drrttt.....ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
"Selamat menikmati"
Tania tersenyum lalu membalas pesannya.
"Kayak slogan di karton snack deh"
"Hahaha bisa aja"
"Btw makasih ya, bermanfaat sekali bakwannya"
"Oke sama-sama ukhti"
"Cuman ada yang kurang"
"Apa?"
"Cengeknya"
"Aduh, sorry kang gorengannya lupa masukin cengek(cabe rawit)"
"Hahah gapapa keleus"
__ADS_1
"Oke deh. Have a nice day ya"
"Oke thanks".