Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Kiriman Cakue


__ADS_3

Selain sebagai seorang seniman, Akbar juga tercatat sebagai pekerja kantoran yang bergerak di bidang penelitian. Setiap weekend ia manfaatkan untuk menekuni hobinya yang dibayar sebagai seorang pekerja seni. Akbar mempunyai karakter yang hampir sama dengan Tania, Supel dan ceria.


Wulan banyak bercerita tentang Akbar kepada Tania. Itu dilakukan untuk berjaga-jaga agar kejadian seperti sebelumnya tidak terulang lagi pada sahabat kesayangannya. Mengenalkan Irwan adalah kesalahan bagi Wulan, sebab ia belum begitu mengenal lebih dalam tentang Irwan. Lain hal nya dengan Akbar yang sudah ia kenal sejak duduk di bangku SMA.


Wulan tidak berharap lebih dari perkenalan antara Tania dan Akbar, yang ia inginkan hanya memperkenalkan laki-laki yang baik untuk Tania. Selebihnya keputusan ada di tangan mereka, apakah akan berlanjut atau hanya sekedar teman biasa.


Mendengar cerita dari Tania, Wulan merasa ada benang merah yang akan mengikat antara mereka. Berlebihan memang kalau di ibaratkan dengan ikatan benang merah, tapi ya mungkin karena niatnya baik maka yang tersirat dihati juga baik.


Hampir tengah malam Tania chatting dengan Wulan dari sepulang bekerja. Sahabatnya itu kalau sudah ngobrol saja pasti melebar kemana-mana segala dibahasnya, apalagi kalau bertemu pasti ada bahan sampai bergadang. Dulu Tania dan Wulan sering saling menginap, kadang di rumah Tania dan terkadang di rumah Wulan tergantung ijin dari Bapak.


Akhir dari pembahasan malam itu Wulan mengajak Tania untuk menemaninya shopping seperti biasa karena jatah uang saku dari kakaknya sudah cair. Kakak Wulan berprofesi sebagai anggota kepolisian yang bertugas di polrestabes Bandung. Kakaknya itu sama seperti Bapak amat sangat posesif karena Wulan anak perempuan satu-satunya dikeluarganya.


Setelah mencharge ponselnya Tania pun bergegas tidur, ia harus menyiapkan kembali tenaga untuk berperang besok.


Pagi harinya setelah sampai di pabrik, seperti biasa ruangan Tania seperti dijadikan basecamp sebelum mulai bergulat dengan pekerjaan masing-masing. Mobil jemputan karyawan belum datang sebab kali ini Yudha tidak kesiangan seperti kemarin jadi mereka datang lebih awal.


Selang beberapa waktu jemputan karyawan pun tiba, masih ada sisa waktu setengah jam sebelum pekerjaan di mulai. Ada yang menyempatkan untuk sarapan, scroll sosmed, ngerumpi atau sekedar merokok dan ngopi.


"Tan, nih" datang-datang Mbak Sofie langsung mengasongkan kantong kecil kepada Tania.


"Apaan nih Mbak?" tanya Tania.


"Gak tau tadi aku lagi mau berangkat si Akbar manggil katanya titip ini buat kamu. Sampe diliatin aku tuh sama si ibu kotsan sangkanya aku sama Akbar ada apa-apa" gerutu Mbak Sofie.


"Haha biarin atuh Mbak ada apa-apa juga siapa tau jodoh" kekeh Tania.


"Kalo dia ada apa-apa sama aku mana mungkin dia nitip makanan udah dua hari ini buat kamu" ucap Mbak Sofie. "Apa jangan-jangan dia suka sama kamu ya?" lanjutnya.


"Ngawur" ucap Tania menepiskan Tangannya di depan wajahnya. "Itu alibi dia aja kali Mbak, pengen deket sama Mbak tapi aku yang di jadikan alasan" kilah Tania.


"Masa bodo ah. Wong aku mah gak ada apa-apa sama dia" ucap Mbak Sofie seraya pergi menuju mesinnya.


Tania membuka kantong itu penasaran dengan isinya apa. Rupanya isinya itu cakue dengan dua rasa, ada yang manis dan ada yang asin masing-masing 5 potong tiap rasanya.

__ADS_1


"Dorr bawa apaan nih, Kuk?" Nicko mengagetkan Tania yang hampir melempar kantong yang dipegangnya.


"Kebiasaan ih ngagetin mulu" pukul Tania pada lengan Nicko. "Nih, ada yang kirim makanan, A Nicko mau?" Tania menawarkan makanan dalam kantong pemberian Akbar.


"Wess cakue" longok Nicko kedalam kantong tersebut dan langsung mengambil satu potong cakue manis.


"Beli dimana nih?" tanya Nicko sambil mengunyah.


"Ada yang ngasih" ucap Tania.


"Dari?"


"Kepo deh"


"Biarin gue mau berterimakasih aja rejeki makanannya dah nyampe di perut gue yang laper" oceh Nicko.


"Gak sarapan emang?" tanya Tania.


"Kesiangan bangun, gara-gara mabar game sama Iqbal jadi aja gak sempet sarapan" keluh Nicko.


"Gak perlu nunggu besok sekarang aja si Babal juga sama kesiangan. Sampe si Fira manyun tuh kelamaan nunggu jemputan" Tania menepuk keningnya saking heran dengan kelakuan teman-temannya. Sudah dewasa tapi jiwa kekanak-kanakkannya masih mendominasi.


"Makanya inget waktu kalo main game tuh. Harusnya maju ke usia dewasa ibadah yang dibanyakin bukannya main game terus, kalo kata aku mah malah banyak mudhorotnya" Tania mulai berceramah.


"Hiburan kali, Kuk. Jenuh tau pagi sampe sore kita kerja, pas di rumah kagak ada kegiatan"


"Ya atuh isi sama kegiatan yang positif, main game boleh dan sah-sah saja tapi harus tau waktu kan yang rugi diri sendiri. Bangun kesiangan, gak sarapan pula. Jangan bilang A Nicko gak mandi juga?" tuduh Tania.


"Tuh kamu tau" jawab Nicko santai. "Bilangin sama yang ngasih cakue ya terimakasih banyak udah bikin perut gue kenyang" ucap Nicko sambil berlalu dengan mengusap perutnya.


"Jelas aja kenyang, dia makan 5 potong cakue manis dan asin" gerutu Tania sambil menyimpan sisa cakue tersebut di laci bawah meja kerjanya.


Sebelum bekerja, ia menyiapkan peralatan kerjanya dan menyimpan ponsel di laci meja. Ketika hendak disimpan, ponsel Tania bergetar tanda pesan masuk.

__ADS_1


"Morning ukhti"


"Morning too"


"Titipan dari Mbak Sofie udah sampai?"


"Udah. Makasih ya. Jadi malu dikirim makanan terus nih"


"Santai aja kali tadi aku beli sarapan buat Amih sama Apih sekalian aja aku beli buat kamu"


"Ish gak usah repot-repot. Besok-besok gak usah kirim ya. Bukan nolak rejeki tapi kasian Mbak Sofie"


"Iya deh. Mbak Sofie kenapa? Apa keberatan?"


"Gak kok. Cuman nanti takut ada salah paham aja sama yang liat"


"Oh gitu. Ok deh tapi lain kali aku traktir langsung aja ya"


"Boleh"


"Oh iya kata temen aku tadi nyicipin kiriman kamu katanya makasih kebetulan dia laper gak sarapan heheh"


"Oke sama-sama. Tuh kan kalo menebar manfaat buat orang lain hati rasanya bahagia"


"Sip. Sekali lagi makasih ya"


"Sama-sama kita kan teman😉"


"Asiap"


"Oke have a nice day ya"


"Too"

__ADS_1


Percakapan berakhir dengan kalimat pamungkas andalan Akbar 'Semoga harimu menyenangkan'. Ponsel diletakkan kembali kedalam laci dengan senyum mengembang yang tidak Tania lepaskan dari sejak percakapannya dengan Akbar. Hari yang di mulai dengan mood yang baik maka sepanjang hari itu akan menyenangkan. Begitupun dengan Akbar, jauh disana melakukan hal yang sama senyum manisnya tidak lepas dari wajah tampannya.


__ADS_2